SIMBOLISME BUDAYA PACITAN DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIK
SIMBOLISME BUDAYA PACITAN DALAM PERSPEKTIF HERMENEUTIK
Purwadi
Universitas Negeri Yogyakarta,
Heru Arif Pianto
STKIP PGRI Pacitan
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk membahas aspek siimbolis dalam budaya Pacitan. Anasis menggunakan metode hermeneutik. Pendekatan ilmiah yang menekankan pada aktivitas penafsiran mendalam. Teori budaya diterapkan dalam harapan untuk menggali nilai kearifan lokal. Usaha mengkaji adat istiadat tradisional dalam rangka memperkokoh jatidiri bangsa. Pembinaan mental spiritual bagi generasi muda perlu diambil dari unsur kultural. Dengan orientasi agar masyarakat menyadari arti penting identitas nasional.
A.
Pengantar
Masyarakat Pacitan membina budi pekerti luhur atas dasar warisan spiritual nenek moyang. Wulang weruk yang bernilai etis filosofis dihayati dalam kehidupan sehari- hari. Andi Harsono (2005) mengulas tentang serat wulangreh untuk pendidikan yang berbasis budaya.
Pembahasan tentang nilai keutamaan dilakukan oleh Munarsih (2005). Serat Centhini diulas dengan jelas tegas tuntas. Kebudayaan Jawa yang penuh dengan nilai simbolik memuat piwulang. Boleh dikata serat Centhini merupakan ensiklopedi budaya Jawa.
Pacitan memiliki adat istiadat yang diwariskan turun tumurun. Dari generasi ke generasi terdapat suri teladan sebagai bahan refleksi dan introspeksi. Pemikiran kefilsatan masyarakat Pacitan relevan dengan situasi mutakhir yang sedang berkembang.
B.
Metode dan Landasan Teori
Hermeneutik merupakan metode ilmiah yang digunakan untuk menafsir objek penelitian. Sumarsono (2001) menjelaskan teks budaya tradisional yang terbuka untuk intepretasi. Simbolisme budaya Pacitan dengan demikian menawarkan tafsir yang cukup menarik.
Teori budaya Jawa telah diulas oleh Koentjaraningrat (1984). Budaya merupakan usaha masyarakat dalam aktivitas belajar. Masyarakat Pacitan mewariskan nilai budaya dengan media tulis dan media lisan. Media tulis berbentuk karya sastra. Media lisan diterapkan lewat cerita tutur.
Dengan menggunakan metode hermeneutik dan teori budaya tentu ditemukan analisa yang kuat cermat dan tepat. Tradisi masyarakat Pacitan diungkapkan penuh perlambang. Misalnya kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange. Secara hermeneutik perlu intepretasi yang objektif. Agar diperoleh pemahaman yang sistematis integral dan komprehensif.
C.
Hasil Pembahasan
Pembahasan terhadap data lapangan berdasarkan metode dan landasan teori. Dengan harapan analisis simbolisme budaya Pacitan yang telah berakar lama. Butir butir kearifan lokal menurut Damardjati Supadjar (2001) sebagai sarana untuk mawas diri.
Kebudayaan Jawa menurut Koentjaraningrat (1984) beraneka rupa bentuknya. Maka leluhur masyarakat Pacitan mewariskan keagungan. Berupa seni edi peni, budaya adi luhung. Seni edi peni terwujud dengan karya keindahan. Budaya adi luhung terwujud dengan karya keluhuran. Nak tumanak run tumurun diajarkan dari generasi ke generasi.
Nilai etis filosofis masyarakat Pacitan menurut Abdullah Ciptoprawiro (1986) terkait dengan ilmu kasampurnan. Hal ini wajar mengingat kegiatan kultural tanggal 3 - 4 Nopember 2026 sungguh bermakna. KRA Heru Arif Pianto S.Pd M.Hum tampil sebagai pelopor kesohor. Gagasan cemerlang begitu menantang. Idealitas dan realitas diterapkan secara selaras. Maka muncul produktivitas yang berkualitas. Karena didukung kepribadian yang mentes luwes dhemes pantes.
Menelusuri jejak historis masa silam. Jurusan pendidikan sejarah STKIP PGRI Pacitan menyelengarakan kuliah umum. Dengan tema pelestarian budaya dan kajian budaya lokal untuk memperkokoh jatidiri bangsa.
Pada hari Rabu Kliwon, 4 Nopember 2026 dosen dan mahasiswa membahas sejarah Mataram. KRA Heru Arif Pianto S.Pd M.Hum mandhegani titi laksana hadicara. Ketua prodi sejarah ini juga dipercaya memimpin Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat pang Pacitan. Dukungan penuh dari segenap civitas akademika. Suasana sigrak gumyak semarak.
Wakil Ketua I membuka jalannya sarasehan. Dr Hasan Kalawi M.Pd memberi sambutan. Keplok mbata rubuh menggema di seluruh kawasan kampus. Krisis identitas harus segera diatasi. Yakni dengan pelestarian budaya lokal. Tepat sekali prodi sejarah mengulas kehidupan Kraton Mataram. Karena hingga kini tetap mewariskan nilai peradaban.
Mahasiswa prodi sejarah STKIP Pacitan semangat menyala. Gumreget gumregut gumregah. Jatidiri bangsa perlu digali terus menerus. Pertanyaan dan diskusi sungguh berbobot tinggi. Masa depan mereka cerah ceria. Pacitan menuju jalan kamulyan menjadi kenyataan.
1.
Dhandhanggula PAKASA Pang Pacitan
Paguyuban Kawula winarni,
Kraton Surakarta Hadiningrat,
Pang Pacitan sinebute,
Wusnya kersa angrembug,
STKIP PGRI.
Heru Arif Pianta, Pangarsa pinunjul, Sinengkuyung kadang mitra,
Asesanti setya saraya lestari,
Rumeksa mring budaya.
Tembang dhandhanggula mempunyai makna simbolis. Soekirman (2013) mengatakan bahwa suasana harmonis akan tercipta rasa manis. Sesuai dengan makna simbolis dhandhanggula. Dhandhang berarti hitam. Gula berasa manis. Dalam suasana apa saja orang Pacitan harus tampil manis cerah ceria.
Pisowanan agung Karaton Surakarta Hadiningrat. Warga Pakasa selalu siap untuk melaksanakan gawa gawe. Rum kuncaraning bangsa dumumung ing luhuring budaya. Kebudayaan tradisional sumber utama untuk memperkokoh kebudayaan nasional.
2.
Gambuh Budaya Pacitan
Budaya adi luhung,
Wilayah Pacitan trus ngrembuyung,
Kesenian tumangkar ing ngendi endi,
Wiwit desa kutha gunung,
Jatidhiri gya kesohor.
Arti tembang gambuh bagi orang Pacitan bermakna interaktif. Sambang sambung antar warga. Sri Harti Widyastuti dkk (2023) mengambil tema kearifan lokal. Sinuhun Paku Buwana IX menulis serat warni warni sebagai bahan pelajaran. Sastra piwulang banyak dihayati kasepuhan Pacitan.
Kebudayaan dan kesenian memang telah memberi kontribusi nyata. Kepribadian bangsa ditingkatkan dengan menggali kearifan lokal. Kerawitan pedalangan tari tembang beraneka rupa. Pariwisata Pacitan berkembang gemilang.
3.
Pucung gunung Pacitan
Kutha agung Pacitan kinupeng gunung,
Cerak Panaraga,
Gunung Kidul Wonogiri,
Wewangunan katon tumangkar ngrembaka.
Makna simbolis tembang pucung berhubungan dengan wejangan alami. Ekologi Pacitan membentuk kepribadian. Solichin dkk (2021) membuat deskripsi tentang ajaran budi pekerti. Yakni keselarasan estetika yang memadukan nilai keagamaan dengan nilai kebudayaan. Hal ini terpantul dalam cerita pewayangan.
Kanugrahan besar bahwa alam Pacitan bergunung gunung. Panjang dawa pocapane, punjung luhur kawibawane. Pasir samudra, wukir gunung. Pratandha yen negara kang pegunungan, nengenaken pasabinan, ngeringaken benawi, mangku bandaran agung.
4.
Kinanthi alun alun Pacitan
Tumuju ing alun alun,
Enggar enggaring penggalih,
Lenggah eca tur sekeca,
Cocok ngunjuk wedang kopi,
Teh jahe dhahar jajanan,
Wiwit enjang dugi ratri.
Simbolisme tembang kinanthi terkait dengan bekal kehidupan. Orang Pacitan sadar pengetahuan tentang sangkan paraning dumadi. Oleh karena itu Damardjati Supadjar (2001) menganjurkan mawas diri. Hari esok harus diperhatikan. Maka perlu memahami makna mati sakjroning ngaurip.
Waktu sore bersama kanca kancane. Warga Pacitan sedang santai setelah merampungkan pekerjaan. Wedang kopi rondhe teh susu tersedia lengkap. Warung berjajar jajar sepanjang lingkungan alun alun. Tua muda bersuka ria. Hidangan sega pecel dan aneka nyamikan memanjakan lidah manusia. Bakul bakul tawa dagangan dengan ramah tamah.
5.
Mijil Praja Pacitan
Tata praja lumaras lumaris,
Pacitan mencorong,
Pangarsa lurah ngantos Presiden,
Darma bakti dhumateng negari,
Pamardi pinuji,
Panjangkah pinuju.
Masa kelahiran secara simbolis diungkapkan tembang mijil. Bayi lahir dalam keadaan putih bersih. Tanpa cela tanpa dosa. Dalam serat Wulangreh Andi Harsono (2005) mengungkapkan arti penting keluhuran budi pekerti. Orang Pacitan menyadari makna kelahiran. Maka diselenggarakan berbagai macam upacara.
Karier orang Presiden terukir indah. Dalam sekup lokal berjaya. Mulai dari dukuhan, kelurahan, kecamatan dan kabupaten. Tingkat propinsi Jawa Timur banyak berperan mujur. Pada tingkat nasional juga bisa berprestasi handal. Bahkan pada level menteri dan presiden. Lila lan legawa kanggo mulyaning negara.
6.
Pangkur Pawiyatan Pacitan.
Pamulangan para siswa,
Den persudi kanthi gemi nastiti,
Anut bapak ibu guru,
Greget gregah sekolah,
Luru ngelmu madhep mantep jroning kalbu,
Kecerdasan kepinteran,
Dados sarjana winasis.
Pangkur berarti mungkur atau meninggalkan hal hal yang kurang perlu. Hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Besok harus lebih baik daripada hari ini. Soetrisno (2005) memberi ungkapan indah terkait dengan metrum seni pedalangan. Orang Pacitan gemar wayang. Tembang dan wayang selalu berjalan beriringan.
Pendidikan menjadi faktor utama kemajuan. Ngelmu iku kelakone kanthi laku. Sadar untuk bersekolah. Dari SD hingga Perguruan tinggi. Merantau dengan berbekal ilmu pengetahuan. Kitab wulangreh wedhatama centhini candrarini dipelajari. Dhudhah dhudhah gugah gugah sastra piwulang.
7.
Asmarandana Tani Pacitan
Panguripan among tani,
Mapan ing karang padesan,
Rina wengi nyambut gawe,
Nandur pari palawija,
Kedhele kacang lanjaran,
Bayem kangkung tela puhung,
Ingon ingon sapi menda.
Asmarandana berarti cinta kasih. Ungkapan kasih sayang cocok dibuat dalam bentuk tembang. Estetika orang Pacitan berhubungan dengan sikap ramah tamah, sopan santun. Sri Harti Widyastuti dkk (2023) telah mengulas soal etika dan logika dari pujangga istana.
Ketahana pangan menjadi pokok perhatian. Pemerintah dan rakyat manunggal. Palawija seperti kacang kedele tumbuh subur. Palapendhem terdiri dari uwi tela tales suwek ganyong garut. Palakitri yakni kelapa jambe. Palasimpar yaitu krai timun garbis melon semangka. Palarambat misalnya katak ceme blonceng gambas. Palagandul contohnya pelem pisang manggis. Pacitan tempat untuk mewujudkan kemakmuran.
8.
Sinom Pasar Pacitan
Sakeh bakulan ing pasar,
Kawiwitan pasar legi,
Rame saben limang dina,
Sinusulan pasar paing,
Pasar pon trus gumanti,
Pasar wage candhakipun,
Pasar kliwon lumampah,
Dina pasaran ngarani,
Ayo rowang menyang pasar men ngumandhang.
Sumaryono (2021) menjelaskan teori hermeneutika. Penafsiran atas tembang sinom berhubungan dengan masa muda. Mumpung jembar kalangane. Mumpung padhang rembulane. Masa muda untuk belajar. Demi meraih cita cita. Pemuda Pacitan siap menyongsong masa depan.
Pagi hingga petang. Pasar ngumandhang dumugi ing awang awang. Penjual dan pembeli bertemu. Jadwal pasaran sesuai dengan paugeran. Pon wage kliwon legi paing. Pasar sarana perputaran ekonomi transaksi dan rekreasi. Dulce et utile. Menyenangkan dan berguna.
9.
Megatruh Pacitan Gotong royong
Sambang sambung sawang srawung lung tinulung,
Guyub rukun kerja bakti,
Sesambatan gugur gunung,
Saiyek saeka kapti,
Warga bangsa gotong royong.
Megatruh penuh dengan nilai simbolik. Megat dan ruh, yang berarti perpisahan jiwa raga. Yakni menuju kehidupan abadi. Abdullah Ciptoprawiro (1986) mengingatkan arti penting untuk memahami ilmu kasampurnan. Nilai etis filosofis masyarakat Pacitan benyak merujuk pada pitutur luhur.
Pengamalan Pancasila berbasis budaya. Orang tradisional menggunakan media seni. Nilai ketuhanan kemanusiaan kebangsaan kerakyatan dan keadilan. Sambang sambung srawung tulung tinulung. Antar warga guyub rukun gotong royong. Demi meraih kesejahteraan lahir batin awal akhir.
10.
Durma Gegayuhan Pacitan
Tekad waja ngupakara jiwa raga,
Pacitan sigra bangkit,
Kabisan kawignyan,
Gegayuhan sembada,
Tumata permana permati,
Mulya kabagyan,
Tutug tatag tumitis.
Durma berarti gagah berani untuk menghadapi lika liku hidup. Situasi semangat besar tekad tinggi. Orang Pacitan benyak yang merantau berbekal ilmu pengetahuan. Soekirman (2013) menjelaskan psikologis orang rantau yang gigih dalam berjuang. Berani menghadapi resiko dengan penuh rasa tanggung jawab.
Maju terus pantang mundur. Tekad semangat menyala. Warga Pacitan memperkokoh kepribadian. Ilmu laku jangka jangkah jangkaning jaman. Sikap andhap asor rendah hati ramah tamah dipegang teguh. Ngarah arah miturut wewarah. Sukses gemilang diusahakan dengan menantang yang disertai niat cemerlang. Holobis kuntul baris. Generasi muda wasis dan manis.
11.
Maskumambang Pacitan Widada
Pacitan gua gemah ripah loh jinawi,
Pasir wukir punjang panjang,
Kasantosan lahir batin,
Kawibawan kawidadan.
Maskumambang penuh dengan ajaran simbolis. Mas berarti logam mulia yang mahal harganya. Kumambang berarti terapung di atas air. Koentjaraningrat (1984) menjelaskan sifat dasar orang Jawa. Pasrah sumarah narima ing pandum. Berarti orang Pacitan bersedia untuk kerja keras. Soal hasil sudah ada yang mengatur. Rejeki dan jodoh merupakan urusan takdir. Manusia tinggal menjalankan roda hidup.
Pacitan jalan kamulyan digambarkan dalam bentuk tembang macapat. Generasi muda sadar jatidiri. Sagung warga bebrayan sadar pentingnya kepribadian. Dari Pacitan untuk Indonesia yang sejahtera. Jurusan sejarah STKIP PGRI Pacitan memberi sumbangan ilmu pengetahuan.
STKIP PGRI berbakti untuk negeri. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Pitutur luhur serat Wedhatama itu sungguh mencerahkan. Jalan menuju kamulyan. Pacitan menyongsong masa depan. Mahasiswa dan pemuda berupaya sekuat tenaga. Cita cita pasti terlaksana. Sembada kang sinedya, jumbuh kang ginayuh.
Sumber daya alam berlimpah ruas. Sumber daya manusia selalu terbina. Pemerintah dan rakyat sepakat mupakat. Manunggaling kawula gusti. Menuju hakikat kehidupan sejati. Pacitan teguh berkepribadian. Sebagai negeri kang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Situasi sosial Pacitan yang dianggap ideal. Masyarakat Pacitan setia berbakti kepada nusa bangsa.
D.
Kesimpulan
Pemahaman atas simbolisme budaya Pacitan berdasarkan data lapangan. Terdapat analisa yang berhubungan dengan nilai ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan. Tata laksana kehidupan masyarakat Pacitan ditekankan untuk tampil harmonis.
Perlambang atau unsur simbolik perlu analisa yang memadai. Budaya Pacitan banyak diungkapkan lewat pasemon. Yakni arti kiasan yang bisa dibaca secara tersurat dan tersirat.
Harapan utama dalam pembahasan artikel ini agar bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Budaya Pacitan dapat memberi kontribusi bagi pengembangan budaya nusantara.
Daftar Pustaka
Abdullah Ciptoprawiro. 1986. Filsafat Jawa. Jakarta. Gramedia.
Andi Harsono. 2005. Tafsir Ajaran Serat Wulangreh. Yogyakarta. Pura Pustaka.
Damardjati Supadjar. 2001. Mawas Diri. Yogyakarta. Philosophy Press.
Koentjaraningrat. 1986. Kebudayaan Jawa. Jakarta. Gramedia.
Soekirman. 2013. Sergai Kampung Kami. Yogyakarta. Bangun Bangsa.
Soetrisno. 2005. Kidung Pakeliran. Yogyakarta. Pustaka Raja.
Solichin dkk. 2021. Nafas Islam dalam Wayang. Jakarta. Yayasan Sinergi Persadatama.
Sri Harti Widyastuti dkk. 2023. Sunan Paku Buwana IX dalam Konstelasi Sejarah Sastra Jawa. Yogyakarta UNY Press.
Sumaryono. 2001. Hermeneutik. Yogyakarta. Kanisius.

Komentar
Posting Komentar