lPEMIKIRAN PROF DR HR WIJAYA M.SI DALAM KAJIAN SOSIOLOGI ISLAM JAWA

 lPEMIKIRAN PROF DR HR WIJAYA M.SI DALAM KAJIAN SOSIOLOGI ISLAM JAWA



Abstrak


Artikel ini berusaha untuk mengkaji pemikiran Prof Dr HR Wijaya dari perspektif Islam Kejawen. Analisis menggunakan teori sosiologi. Sedangkan metode hermeneutik digunakan untuk memahami seluk beluk Islam Jawa. Masyarakat Jawa secara turun temurun mewarisi literasi klasik. Pembahasan ini bertujuan untuk mendapat nilai kearifan lokal. Ajaran moral leluhur Jawa mengutamakan hakikat hidup yang disebut sangkan paraning dumadi. Makna keutamaan hidup demi memperoleh kesempurnaan sejati. 


Kata kunci: Sosiologi, Wijaya, Jawa. 


A. 

Pengantar


Pembinaan karakter bangsa layak untuk terus dikembangkan melalui kajian sosiologi budaya. Masyarakat nusantara memiliki kekayaan budaya yang berlimpah ruah. Dari Sabang sampai Merauke tersedia kearifan lokal yang bisa memperkokoh kepribadian nasional. 


Pakar sosiologi Islam Jawa tampil dengan mengkaji literasi klasik. Prof Dr HR Wijaya M.Si pengajar dan peneliti dari UIN Raden Fatah Palembang pelopor pendidikan kultural. Theologi antropologi dan ekologi budaya dianalisis secara sistematis integral dan komprehensif. 


Refleksi sosiologis yang dilakukan oleh Prof Dr HR Wijaya M.Si perlu dikaji. Dengan harapan bisa digunakan sebagai bahan renungan bagi peneli lain. Pemikiran yang tertuang dalam tulisan dan ceramah menjadi sumber objek pengkajian. Dalam rangka untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang berbasis pada nilai tradisional. 


B. 

Teori dan Metode


Masyarakat Indonesia yang beraneka rupa perlu pemahaman yang utuh. Demi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka pendekatan sosiologis perlu dilakukan. Teori sosiologi mengajarkan hubungan warga dalam lingkup sosial. 


Tafsir atas keragaman budaya perlu penafsiran hermeneutik. Metode hermeneutik menganjurkan agar peneli dan objek garapan menjadi satu kesatuan. Prof Dr HR Wijaya M.Si merupakan warga masyarakat yang aktif dalam berbagai kegiatan. 


Dengan demikian teori sosiologi dan metode hermeneutik cocok untuk diterapkan. Analisis yang cermat dan tepat menghasilkan kesimpulan yang bermanfaat. Nilai mistik Islam Jawa memperkaya ilmu pengetahuan humaniora. 


C. 

Hasil Pembahasan


Bahasan objek kajian terhadap pemikiran Prof Dr HR Wijaya M.Si berdasarkan sumber primer. Bahan ceramah dan tulisan berlimpah ruah. Pembacaan teks disertai dengan pengamatan aktivitas.


Maka jatidiri kebudayaan nusantara makin kokoh. Dengan hadirnya kearifan lokal. Islam Jawa bentuk akulturasi budaya. Pendidikan karakter digali dari warisan kultural historis.


Pengukuhan guru besar dilakukan pada hari Rabu, tanggal 7 Oktober 2026. Pidato mengulas bidang sosiologi Islam Kejawen. Bertempat di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Guru Besar Kawentar

Prof Dr HR Wijaya M.Si. memadukan unsur keagamaan kebangsaan dan kebudayaan. 


Hari itu cuaca cerah ceria. Matahari bersinar terang dan terang terus. Angin semilir sepoi sepoi. Berhembus membawa hawa sejuk. Aula UIN Raden Patah dikelilingi karangan bunga. Ucapan selamat bahagia bertaburan. Turut mangayu bagya guru Besar sosiologi Islam Kejawen. 


Paham Islam Kejawen berpangkal dari konsep syariat tarikat hakikat makrifat. Derivasi dari ajaran kama arta dharma muksa. Lebih jauh dikenal adanya doktrin kamadhatu rupadhatu arupadhatu nirwana. Akulturasi budaya memberi deskripsi mengenai sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. 


Tembang Jawa memuat butir butir pemikiran cemerlang. Prof Dr Drs HR Wijaya M.Si tampil sebagai pemikir kebudayaan yang memadukan nilai theologis antropologis dan ekologis. Dari kampus UIN Raden Fatah ide gemilang itu terus berkembang. 


1.

Dhandhanggula


Prof Wijaya sayekti winarni, 

Badhe mendhar mangka guru besar, 

Jroning pawiiyatan gedhe, 

Babaran kawruh ngelmu, 

Mligi bidang sosiologi, 

Mistik kejawen  Islam, 

Sumebar sumawur, 

Kampus UIN Raden Fatah, 

Tata titi para kolega nekseni, 

Kawignyan kautaman. 


Makna tembang dhandhanggula di atas terkait dengan usaha memperoleh ilmu pengetahuan. Pakar mistik Kejawen UIN Raden Fatah mengulas seluk belum ngelmu kasampurnan. Wajar jika mendapat kedudukan sebagai guru besar sosiologi Islam Jawa. Handai taulan memberi ucapan selamat bahagia. Demi pengembangan keutamaan sosial. 


2.

Pangkur


Ngumandhang kota Palembang, 

Banyu bening ilining kali Musi, 

Marsudi dhawuh leluhur, 

Lumantar ibu bapak, 

Sung pituduh Prof Wijaya wani wanuh, 

Kerajaan Sriwijaya, 

Dadi wawasan historis. 


Makna tembang pangkur di atas terkait dengan kesadaran historis. UIN Raden Fatah bertempat di kota Palembang. Pelopor maritim nusantara. Dulu pernah menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Hubungan Palembang dengan Kerajaan Demak sungguh erat. Inspirasi buat pembentukan karakter antar generasi. 


3.

Mijil


Darma bakti dhumateng negari, 

Mengabdi  kesohor, 

Arum wangi melati rinonce, 

Prof Wijaya mejang siswa siswi, 

Kebangsaan inggil, 

Kabudayan unggul.


Makna tembang mijil itu berhubungan dengan akulturasi budaya. Nilai kebangsaan dan kebudayaan berjalan beriringan. Pikiran Prof Wijaya relevan dengan situasi mutakhir. Yakni arti penting seni edi peni dan budaya adi luhung. Edi peni berhubungan dengan faktor keindahan. Adi luhung berhubungan dengan faktor keluhuran. 


4.

Kinanthi


Sambang sambung sawang srawung, 

Wicara ketitik becik, 

Grapyak sigrak tur semanak, 

Ngendi papan mikolehi, 

Gandheng renteng Prof Wijaya, 

Andhap asor welas asih. 


Makna tembang kinanthi itu terkait dengan rasa kemanusiaan. Menurut Prof Wijaya humanisme universal merupakan solusi atas problematika masa depan. Perlu sikap saling menghormati terhadap segala perbedaan. Maka perlu dikembangkan paham bhinneka tunggal ika, yaitu berbeda beda tetapi tetap satu. 


5.

Gambuh 


Ilmu laku tinemu, 

Suka sukur rahayu sempulur, 

Prof Wijaya mulang muruk kawruh Jawi, 

Sosiologi tinutur, 

Satemah ngembuyung awoh. 


Makna tembang gambuh itu berhubungan dengan aspek karya yang produktif. Nenek moyang mengajarkan keselarasan iman ilmu amal. Prof Wijaya memberi deskripsi tentang cipta rasa karsa. Dalam bidang kefilsafatan dikenal adanya ontologi epistemologi aksiologi. Berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian. Orang mesti mau berjuang dengan segala kemampuan. 


6.

Pucung


Sinengkuyung Prof Wijaya adi luhung, 

Wasis samudaya, 

Sanak kadang kakung putri, 

Mbudidaya murih raharjaning praja. 


Makna tembang pucung itu terkait dengan kerja kolektif. Prof Wijaya mengutamakan kebersamaan keterbukaan kesahajaan. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Hasilnya adalah suasana produktif yang maksimal. 


7.

Asmarandana


Zakat fitrah idul fitri, 

Idul Kurban sasi Besar, 

Gotong royong gawa gawe, 

Jumurung kerja sosial, 

imbang serasi selaras, 

Prof Wijaya gugur gunung, 

Caket raket seduluran. 


Makna tembang asmarandana di   atas terkait dengan aspek silahturahmi. Hubungan baik dijaga. Persahabatan dibina. Persaudaraan dirajut. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Prof Wijaya mampu beradaptasi. Maka pergaulan luas dengan teman yang beragam. Seribu teman masih sedikit, satu musuh terlalu banyak. Prinsip yang baik ini dipegang teguh. 


8.

Megatruh


Unggul kabul organisasi pinunjul, 

Sekretaris PGRI, 

Sadarum Ketua Umum, 

Wadhahe psiko terapi, 

Prof Wijaya kersa momong. 


Makna tembang megatruh ini memuat tata cara berorganisasi. Prof Wijaya bisa menggerakkan kemajuan asosiasi, perhimpunan, paguyuban. Dengan sentuhan tangan yang dingin, organisasi bergerak maju. Dengan jaringan luas, organisasi bergerak dinamis. Bakat kepemimpinan terukur, sehingga bisa diterima oleh semua pihak. Sikap momong momong momot yang akomodatif dan persuasif. 


9.

Durma


Ibu Ela Aspiati nama garwa, 

Dita Nurul Safitri, 

Putra sepisanan, 

Tika Widya Utama, 

Raka Andika Jagad  katri, 

Wusnya bebrayan, 

Subur makmur basuki. 


Makna tembang durma ini berkaitan dengan harmoni keluarga. Masyarakat terkecil menurut HR Wijaya berubah satuan keluarga. Utuhnya keluarga berkaitan dengan kokohnya masyarakat yang lebih luas. Pembinaan keluarga mutlak dilakukan. Tiap keluarga sejahtera mengantarkan pada negara yang sentosa. Di situ diajarkan sikap hak dan kewajiban.


10.

Maskumambang


Muhammad Shalahuddin Syah kang pinilih, 

Muhammad Nyakra Kusuma, 

Lan Naila Larasati, 

Tetiga wayah Prof Wijaya. 


Makna tembang Maskumambang ini berisi tentang pembinaan generasi muda. Dengan pendidikan yang cukup masa depan terarah. Prof Dr HR Wijaya M.Si berusaha keras agar anak muda mendapat kesempatan belajar. Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai. Semboyan ini diresapi benar, agar masa depan lebih cemerlang. 


11.

Sinom


Kuat drajat pangkat semat, 

Wirya arta tri winasis, 

Prof Wijaya ngupakara, 

Bu Ela  nayogyani, 

Ndherek kersa anak putu, 

Mardi dalan  kamulyan,

Yuwana hayu lestari, 

Kawidadan kawibawan karaharjan. 


Makna tembang sinom itu terkait dengan usaha mendapat ketentraman keselamatan dan kebahagiaan. Prof Dr HR Wijaya M.Si memberi keteladanan. Bagaimana cara membangun hubungan baik antara individu dan sosial. Hubungan yang harmonis antara warga negara dengan pemerintah menciptakan suasana yang harmonis. Kemajuan bersama mudah dicapai. Keberhasilan mudah diperoleh dengan lancar. 


D. 

Kesimpulan


Pembahasan terhadap pemikiran Prof Dr HR Wijaya M.Si menghasilkan pemaknaan yang berarti. Puncak mistik Islam Kejawen berupa rasa jati, sari rasa jati, sarira sajati. Ilmu kasampurnan guna memahami hakikat  hidup. Itulah ngelmu sangkan  paraning dumadi. Tiap insan mengerti asal asul dan jatidiri. 


Dalam konteks sosiologis dalam rangka memahami aspek wahdatul wujud. Manunggaling kawula gusti. Bersatunya pemimpin dan rakyat. Dari perspective theologis demi mencapai ketakwaan. Dalam kacamata antropologis demi memayu hayuning bawana. 


Makna simbolik dalam mistik Islam Kejawen relevan untuk disusun sebagai ilmu terapan. Lewat psikologi terapis Prof Dr Drs HR Wijaya M.Si berjasa atas narasi kearifan lokal. Kepribadian bangsa makin kokoh. Jatidiri budaya makin jaya. Nusantara semerbak wangi segala penjuru. 


Daftar Pustaka


Abdullah Ciptoprawiro. 1986. Filsafat Jawa. Jakarta. Gramedia. 


Bratadiningrat. 1990. Asalsilah Warni Warni. Surakarta. Sasana Wilapa. 


Damardjati Supadjar. 2001. Mawas Diri. Yogyakarta. Philosophy Press. 


Koentjarangrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta. Gramedia


Poerbatjaraka. 1952. Kapustakan Djawi. Jakarta. Djambatan. 


Simuh. 1989. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita. Jakarta. UI Press. 


Sumaryono. 2001. Hermeneutik. Yogyakarta. Kanisius. 


Zoetmulder. 1990. Manunggaling Kawula Gusti. Jakarta. Gramedia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Idul Fitri

Dr Nugroho Puji Santoso S.Pd M.Pd

Dari Yogya ke Pangkalpinangl