KONSEP LEADERSHIP BANGSA INDONESIA BERBASIS NILAI BUDAYA TRADISIONAL
KONSEP LEADERSHIP BANGSA INDONESIA BERBASIS NILAI BUDAYA TRADISIONAL
Dr Purwadi M.Hum
A.
Ajaran Luhur Nusantara
Kepribadian bangsa Indonesia bertumpu pada nilai kearifan lokal yang berada di kawasan nusantara. Dari perspektif historis ini perlu digali sistem kepemimpinan yang berasal dari nilai budaya tradisional. Konsep pemimpin tertulis dalam kitab kitab tradisional klasik.
Kesadaran literasi berhubungan dengan sistem kepemimpinan. Misalnya Raja Ali Haji menulis etika kepemimpinan dalam Gurindam Dua Belas. Hikayat Hang Tuah memuat nilai kenegaraan raja raja Melayu. Ila Galigo menjelaskan tata praja masyarakat Bugis Sulawesi Selatan.
Dari Sabang sampai Merauke terdapat ajaran luhur tentang kepemimpinan. Konsep keutamaan tersebut masih relevan diterapkan oleh bangsa Indonesia pada masa kini. Kehidupan berbangsa dan bernegara yang dilandasi semangat Bhinneka Tunggal Ika. Praktek toleransi yang menjunjung tinggi atas keberagaman.
Dalam kitab Sotasoma dijelaskan sistem sosial kerajaan Majapahit. Empu Tantular mewariskan mutiara kebersamaan. Perbedaan dianggap sebagai kekayaan masyarakat. Prabu Hayamwuruk tampil sebagai pengayom. Patih Gadjah Mada bertindak sebagai perdana menteri. Sumpah Palapa sarana untuk mewujudkan persatuan nusantara. Integrasi berpangkal dari prestasi. Kerajaan Majapahit berjaya sebagai negara nasional.
Kerajaan nasional mampu ditunjukkan oleh Sriwijaya di Palembang Sumatera Selatan. Kemakmuran ekonomi disokong oleh keberhasilan dalam bidang maritim. Selat Malaka dikelola dengan koneksi pada pelayaran. Sungai Musi menjadi lalulintas yang produktif dan kreatif. Hasil tambang, kayu dan ikan dipasarkan ke tingkat global.
Gagasan tumbuh subur lewat pendidikan. Kerajaan Sriwijaya pusat ilmu pengetahuan agama Buddha. Untuk itu Raja Balaputradewa bekerja sama dengan wangsa Syaelendra. Maka dibangunlah monumen dunia, yakni Candi Borobudur. Konsep kamadhatu rupadhatu arupadhatu nirwana membuat masyarakat selaras serasi seimbang.
Samudera Pasai Kerajaan besar yang berpengaruh di Asia Tenggara. Sultan Iskandar Muda sungguh cakap cakep cukup. Cakap berhubungan dengan kecerdasan ketrampilan dan kemampuan. Cakep menampakkan nilai logika etika estetika. Cukup memberi kesejahteraan lahir batin pada sekalian rakyat. Peduli pada bahari membuat Kerajaan Samudera Pasai bijak bestari bijak berperi dan cerah ceria berseri seri.
Cirebon dibina Sunan Gunung Jati. Kasultanan Cirebon diberi ajaran untuk berbelas kasih pada rakyat lemah. Praktek keagamaan yang menekankan nilai kemanusiaan. Tradisi untuk menyantuni fakir miskin dan anak terlanjur dipelihara oleh negara. Ajaran ini merupakan doktrin yang diajarkan oleh para penguasa Cirebon. Kebajikan dan kebijakan yang patut ditiru oleh para penyelenggara negara.
Prestasi gemilang ditunjukkan oleh Kerajaan Langkat, Deli dan Serdang. Perkebunan sawit sann karet membawa kemakmuran. Penguasa Melayu di kawasan Sumatera Timur dan Sumatera Utara berjaya nan mulia. Istana Maimun beraura cemerlang. Istana Perbaungan Serdang memancarkan sinar gemilang. Kasultanan Langkat tetap bersemangat dan menumbuhkan daya pikat. Tengku Amir Hamzah penyair gagah nan cerah, dengan syair pantun yang indah. Langkat, Deli, Serdang merupakan Kasultanan yang menghiasi peradaban menjadi terang benderang.
Buton adalah Kasultanan yang tersohor bila ditonton. Refleksi dan kontemplasi bekal untuk terus mengelola bahari. Angkatan laut terbina sempurna. Segala laut selat palung diatur dengan tekad ulung. Kawasan Wakatobi memberi pelajaran bahari yang penuh berkah dan mengandung petuah. Tebaran kebaikan muncul dari Kasultanan Buton nan mulia.
Ternate Tidore merupakan dua Kerajaan yang telah bekerja dengan sepenuh hati. Lada pala dikelola dengan bijaksana. Hasilnya sungguh sukses nan jaya. Rakyat makmur kaya raya. Sultan Hairun mengusaai perdagangan di Asia, Afrika dan Eropa. Pendidikan rakyat Ternate Tidore berdasarkan local wisdom yang sudah terwariskan secara turun temurun.
Dinasti Kerajaan Klungkung di Bali merupakan kelanjutan dari Kerajaan Majapahit. Kakawin Negara Kertagama dibaca. Karya Empu Prapanca ini menjadi inspirasi untuk mengabdi. Kesusasteraan Bali warisan Majapahit yang tetap rahayu lestari. Agar gancar lancar, Kerajaan Klungkung menjalin diplomasi yang erat dengan Kesultanan Bima di Nusa Tenggara Barat. Bentuk kerja sama yang unggul buat menganyam peradaban.
Prabu Siliwangi memimpin Kerajaan Pajajaran. Tanah Pasundan yang bergunung gunung amat agung. Budaya Sunda dibuat edi peni adi luhung. Kama artha dharma muksa menjiwai darma bakti. Pajajaran Majapahit Singasari Daha Jenggala Singasari sekata sehati. Rakyat hidup gemah ripah loh jinawi, murah sandang pangan papan.
B.
Darma Bakti untuk Negeri
Nilai kebangsaan bersemi dari Perguruan Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara mengajarkan konsep pemimpin populer. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa tut wuri handayani.
Nama Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara merupakan trah Pura Paku Alaman. Jelas keturunan langsung dinasti Mataram. Darah juang Panembahan Senapati dalam rangka amemangun karyenak tyasing sasama. Raja Mataram wajib membuat sejahtera lahir batin untuk segenap warga negara. Darma bakti untuk negeri bagi sekalian trah narpati.
Wong agung ing Ngeksiganda memiliki hak dan kewajiban. Raja Mataram mendapat sebutan kehormatan. Narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana.
Raja Mataram dianggap berkuasa seperti dewa. Berkuasa atas legislatif yudikatif eksekutif. Muncul istilah sabda pandhita ratu. Kata raja ibarat hukum. Hak prerogatif ini berlanjut pada kewajiban pokok. Hak dan kewajiban menjadi berimbang.
Sifat raja harus ambeg adil paramarta. Berarti segala kebijakan harus memenuhi syarat keadilan, kearifan, keutamaan, kemanusiaan dan kerakyatan. Watak luhur itu melekat pada diri sang raja. Hukum dijadikan supremasi dalam menata pemerintahan.
Ber budi bawa laksana. Artinya murah hati dan ramah tamah. Kelancaran ekonomi ditangani. Kemakmuran perlu pengelolaan. Rakyat bawah diperhatikan penuh terarah. Pakarti pakerti dan pekerti sudah nyawiji.
Memayu hayuning bawana berarti turut serta dalam mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian dan keadilan sosial. Diplomasi kenegaraan Mataram termaktub dalam sastra piwulang. Sastra gendhing, Nitipraja, Pangracutan, Wulangreh, Wedhatama, Centhini, Wira iswara, Pustaka Raja, Sabdatama, Sabdajati, Dewaruci, Menak, Panji, Candrarini berisi kesadaran literasi.
Pangeran Sambernyawa mengajarkan Tri Dharma. Pedoman kepemimpinan yang mengandung aspek kebersamaan, keterbukaan dan kemitraan.
Rumangsa melu handarbeni.
Rumangsa wajib hangrungkebi.
Mulat sarira hangrasa wani.
Sri Mangkunegara IV punya wejangan terkenal. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Bahwasanya pengetahuan berdampak pada perilaku tindakan. Harapan semua orang agar mendapatkan drajat pangkat semat, guna kaya purun, wirya arta winasis. Sukses hidup yang luhur dan terukur.
Pola kepemimpinan yang mengakar diajarkan oleh Sinuwun Paku Buwana IV. Dalam serat Wulangreh disebutkan etika dasar. Aja adigang adigung adiguna. Adigang seperti sombongnya kijang. Adigung mirip congkaknya gajah. Adiguna ibarat arogansi ular. Ketiganya tak perlu dicontoh. Bahkan berakhir roboh. Jatuh karena ulah kesombongan. Orang perlu rendah hati dan saling menghormati.
Serat Centhini boleh dikata ensiklopedi budaya Jawa. Paku Buwana V menyusun ilmu pengetahuan yang mencakup bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, kesenian dan sejarah. Literasi handal yang ditulis secara profesional. Serat Centhini contoh adanya kesadaran literasi kultural.
Nilai kepemimpinan yang ideal terinci dalam karya pujangga Yasadipura dan Raden Ngabehi Ranggawarsita. Pemikiran para leluhur selalu misuwur. Gagasan para pengarang sentiasa terang kondang kaonang onang.
C.
Refleksi Kepemimpinan
Refleksi dalam diskusi kali ini untuk memperingati Pancasila sebagai dasar negara. Pedoman penghayatan pengamalan Pancasila.
Sinebut eka prasetya,
Iku tekad kang nyawiji,
Mentingna keperluan bebrayan,
Ora mung keperluan pribadi,
Panca karsa dadi panjurung sedya,
Tansah anindakke kelima Pancasila,
Pancasila nyata dadi dasare negara.
Pola kepemimpinan nenek moyang selalu cemerlang. Hasilnya gemilang. Karena bermakna terang benderang.
Daftar Pustaka
Abdullah Ciptoprawiro. 1986. Filsafat Jawa. Jakarta. Gramedia.
Andi Harsono. 2005. Tafsir Serat Wulangreh. Yogyakarta. Pura Pustaka.
Damardjati Supadjar. 2001. Mawas Diri. Yogyakarta. Philosophy Press.
Endang Daruni. 2004. Lambang Garuda Pancasila. Yogyakarta. Pustaka Raja.
Mahmudi. 2007. Spiritual Wirid Widayat Jati. Yogyakarta. Pura Pustaka
Soetrisno. 2006. Kidung Pakeliran. Yogyakarta. Persada.
Soekirman. 2014. Sergai Kampung Kami. Yogyakarta. Bangun Bangsa.

Komentar
Posting Komentar