TERTIB FILOLOGIS BUAT KAUM FEMINIS
TERTIB FILOLOGIS BUAT KAUM FEMINIS
Pisungsung kagem Ibu Dra Hesti Mulyani M.Hum.
Oleh: Purwadi,
Universitas Negeri Yogyakarta
A. Kanjeng Ratu Panggung Ampel
Pangkur
Kidung kagem pakurmatan,
Kang minulya Ibu Hesti Mulyani,
Paripurna wusnya rampung,
Makarya pasuwitan,
Tanggap tangguh dwijatama wutuh ampuh,
Tatag tutug momong siswa,
Darma bakti mring negari.
Rasa hormat dan bangga ditujukan kepada Ibu Dra. Hesti Mulyani, M.Hum. Bidang filologi telah dikembangkan dan diajarkan oleh Kanjeng Ibu. Naskah klasik lestari berkat pengajaran dan penelitian teks. Penjabaran ilmiah berlangsung di kampus Karangmalang bersama mahasiswa. Dari perspektif feminisme perlu adanya narasi tentang tokoh keputren.
Kesadaran literasi sudah dihayati oleh Kanjeng Ratu Panggung. Garwa prameswari raja Demak ini terkenal pintar, lincah, terampil, teliti, rikat, trengginas, berbudi luhur dan ramah tamah. Pada hari Ahad Pon selalu diadakan sarasehan sastra bahasa seni budaya di bangsal Semarakata Kraton Demak Bintara. Terlebih dahulu dimulai dengan manguyu ayu oleh abdi dalem pengrawit. Gendhing ladrang slamet berkumandang demi keselamatan dunia seisinya, memayu hayuning bawana.
Kerajaan Demak Bintara berdiri tahun 1478 dipimpin oleh Raden Patah Jimbun Syirullah atau Sultan Syah Alam Akbar I. Kanjeng Ratu Panggung sebagai ketua darma wanita merupakan pelopor gerakan feminisme. Putri Sunan Ampel dari Surabaya ini kerap membaca kitab Jawa klasik. Dengan pendekatan filologis para putri Kasultanan Demak diajak membaca kitab suluk, kakawin dan sastra piwulang. Ekotjipto (2011) mengulas keputren lewat seni pedalangan.
Tertib filologis buat kaum feminis yang dipelopori Ratu Panggung berlanjut terus. Para permaisuri raja Jawa senantiasa belajar tekun tentang wulang wanita. Misalnya Ratu Mas Cepaka, Ratu Waskitha, Ratu Banuwati, Ratu Barang, Ratu Kencana, Ratu Balitar, Ratu Beruk dan Ratu Mas. Garwa prameswari raja Jawa ini tokoh pendekar kaum wanita. Literasi Jawi dibaca demi keluhuran putri sejati.
B. Ratu Banuwati Pengging
Tradisi sadar literasi buat kaum feminis dibaca Ratu Panggung. Kitab kakawin Semara Dahana karya Empu Darmaja mengajarkan konsep kama arta darma muksa. Dengan pemahaman komparatif segaris dengan makna syariat tarikat hakikat makrifat. Wali Sanga membawa kebajikan berdasarkan aspek kultural. Agama ageming aji bahwasanya nilai spiritual bertaburan kemuliaan.
Gumarojog banyu bening,
Tuking gunung Umbul Cakra Pengging,
Mili ngetan tumuju kali Larangan,
Kartasura Surakarta,
Sakbanjure mili neng bengawan gedhe.
Ide cemerlang kajian filologis gagrag Ratu Panggung diteruskan Kanjeng Ratu Mas Cepaka. Garwa prameswari Sultan Hadiwijaya ini putri Sultan Trenggana. Raja Demak atau Sultan Syah Alam Akbar III ini memerintah tahun 1521 - 1539. Ratu Mas Cepaka cucu langsung Kanjeng Ratu Panggung. Trahing kusuma rembesing madu, jiwa patriotik mengalir sebagai sarana pengabdian. Solichin (2021) mengulas aspek filosofis pewayangan.
Umbul Cakra bersumber dari rembesan gunung Merapi. Umbul Pengging bersumber dari rembesan gunung Merbabu. Anelasak wana wasap, tumuruning jurang terbis. Kerajaan Pajang didirikan oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet tanggal 24 Juli 1546. Kanjeng Ratu Mas Cepaka membantu dari perspektif literasi. Segenap abdi dalem sentana diwajibkan membaca serat nitisruti. Pangeran Karanggayam pujangga menyusun serat nitisruti, murih padhangi sasmita.
Serat nitisruti memuat ajaran sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Rasa jati, sari rasa jati, sarira sajati, yang mengetahui hakikat sangkan paraning dumadi. Soekirman (2012) mengulas ilmu serat Centhini. Doktrin mistik yang pernah dibahas pujangga Majapahit. Empu Tantular memberi wejangan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Doktrin Majapahit dilestarikan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ratu Mas Cepaka di tepi Umbul Ngabean mengkaji Kakawin Arjuna Wiwaha, Lubdaka, Ramayana, Baratayuda, Gathutkasa Saraya, Sutasoma, Negara Kertagama. Pemikiran feminisme dari Kerajaan Medang, Kahuripan, Jenggala, Daha, Kediri, Singasari, Malawapati dan Majapahit dipelajari. Perbandingan naskah guna memperoleh keaslian teks. Dasar dasar teori filologi diberikan memadai. Tiap tahun dilakukan pelatihan filologi. Malah dibekali keterampilan bahasa Sanskerta, Arab, China, Inggris, Perancis, Jerman dan Belanda. Mangasah mingising budi, memasuh makan ing bumi, aparat negara dibekali teori diplomasi kenegaraan.
Kaum wanita mendapat literasi yang memuat unsur tontonan tuntunan tatanan. Sastra suluk ciptaan Wali Sanga mengajarkan ngelmu kasampurnan. Suluk wujil, malang sumirang, sukarsa, lokajaya, Syekh Malaya dan Kalimasada mencerahkan hati. Padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, kaprawiran den kaesthi. Petuah luhur untuk mencegah dominasi hedonisme dan materialisme. Nilai kebangsaan hendaknya diutamakan, amemangun karyenak tyasing sesama.
Aliran umbul Pengging membasahi gagasan mulia Kanjeng Ratu Banuwati. Putri Pangeran Benawa tersohor ayu hayu rahayu. Wayah dalem Sultan Hadiwijaya ini pernah ndherek suwita kepada Ratu Kalinyamat di Jepara. Serat Babad Tanah Jawi diajarkan untuk mengerti kisah masa lampau. Biografi Adipati Wilwatikta Tuban, Raden Sahid atau Sunan Kalijaga, Rasa Wulan, Jaka Tarub, Nawangwulan, Nawangsih, Bondhan Kejawan, Getas Pendhawa, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Nis, Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senapati. Begitulah leluhur Mataram yang mewariskan tepa palupi.
Ratu Banuwati garwa prameswari Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati, raja Mataram tahun 1601 - 1613. Dari pernikahan ini lahir Gusti Raden Mas Jatmika. Kelak bergelar Kanjeng Sultan Agung Hanyakra Kusuma, yang memerintah Mataram tahun 1613 - 1645. Bersama dengan sarjana pinilih, Kanjeng Ratu Banuwati turut serta menulis serat nitipraja, sastra gendhing dan pangracutan. Demi mengokohkan eksistensi kraton, selapan sekali, yakni hari Selasa Kliwon diadakan gladen tari Bedaya Ketawang. Persembahan buat penguasa laut selatan. Kanjeng Ratu Kidul atau Ratu Kencanasari hadir saat jumenengan raja dengan kendaraan kuda sembrani. Istana Ratu Kidul bernama Saka Dhomas Bale Kencana.
Filologi menjadi topik bahasan yang relevan dan menarik. Ratu Banuwati berusaha untuk menjadi pintu rekonsiliasi antara kerajaan Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram. Kajian literasi secara filologis berbuah laris manis. Pelopor teori sastra yang handal profesional bermoral bermodal. Ber bandha ber bandhu. Babad tanah Jawi telah menerangi hati tiap insani, sesuai dengan ulasan Damardjati Supadjar (2001) yang menganjurkan seseorang agar selalu mawas diri. Ratu Banuwati boleh dijuluki mustikaning putri tetungguling widodari.
C. Kanjeng Ratu Batang
Berpikir dari kawasan pesisir. Tunggak jati terus bersemi. Pikiran cemerlang Ratu Banuwati dikembangkan oleh Kanjeng Ratu Batang. Garwa prameswari Sultan Agung ini sungguh wijining atapa, tedhaking andana warih. Putri Tumenggung Hupasanta bupati Batang, anak Patih Mandaraka dan cucu Ki Ageng Juru Martani. Keturunan Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pendawa, Bondhan Kejawan dan Prabu Brawijaya.
Singiran Sahadat Kures susunan Sultan Agung dicetak oleh Ratu Batang. Upacara pengetan hadeging kraton, malem selikuran, kirab pusaka wulan Sura dan tingalan jumenengan senantiasa dibacakan mantra sahadat kures oleh kanca kaji. Dengan berpakaian beskap putih, iket ulama, jarikan, duwung ladrang, stagen, samir dan radya laksana. Ratu Batang sangat peduli kostum kerajaan. Untuk itu didirikan sanggar pasinaon tata busana gagrak Mataram. Siswa siswi yang belajar berasal dari Blitar, Malang, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Semarang, Wonogiri, Pati, Kudus, Jepara, Grobogan, Banjarnegara, Magelang, Tegal, Kebumen dan Purbalingga. Bahkan cabang pasinaon tata busana berdiri di berbagai daerah kabupaten. Wanita Mataram tahu ngadi sarira ngadi busana.
Popularitas Ratu Batang sangat tinggi. Orang percaya sebagai putri sakti mandraguna. Jim setan peri prayangan takluk. Mahluk halus di alas Roban tak ada yang berani mengganggu. Japa mantra Kanjeng Ratu Batang jelas sangat mujarab. Himpunan teks sahadat kures bisa bikin tolak balak. Salikam salikem, kehing sengkala padha mingkem. Teks sahadat kures disalin terus menerus biar basuki lestari.
Upacara maesa lawung diselenggarakan di Alas Krendha Wahana. Ratu Batang membaca kitab Aji Pamasa, penguasa kerajaan Pengging. Dari keterangan ini diyakini tata cara rajawedha sudah dilakukan oleh Prabu Sintawaka di kerajaan Gilingaya. Dalam perjalanan selanjutnya atas perintah Ratu Batang, dalang Ki Panjangmas menyusun lakon Sesaji Rajasuya. Gunanya untuk menjaga keselamatan bangsa dan negara. Maka dikatakan upacara wilujengan negari.
Dari kajian filologi pula Ratu Batang menyadari arti penting ekonomi. Panembahan Senapati ahli tata kelola pasar. Maka mendapatkan gelar Ngabehi Loring Pasar. Kotagedhe dibangun sebagai sentra kerajinan perak. Ekspor kerajinan perak sampai negeri Hindustan, Srilangka, Nepal, Turki, Mesir, Bagdad, Persis, Madagaskar dan Ngerum.
Devisa negara berlimpah ruang. Cadangan uang Mataram cukup untuk pembangunan segala bidang. Perkebunan teh di pagilaran Batang, perkebunan kopi di Kembang Semarang dan perkebunan tembakau di Tegalgondo Klaten beruntung besar. Roda ekonomi berputar lancar. Mataram subur makmur.
Istana kerta Mataram dibangun sebagai pusat pemerintahan. Kotagedhe menjadi sentra bisnis. Kanjeng Ratu Batang mendukung penuh kegiatan penyalinan naskah di kawasan Bulaksumur. Tepi selokan Mataram tempat berkumpul sarjana linuwih. Naskah kuna dibahas dalam perspektif modernitas. Komunitas Bulaksumur dipilih Ratu Batang sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Cocok dengan anjuran Endang Daruni (2005) yang mengulas tentang pandangan hidup bangsa Indonesia. Jawa jiwa kang kajawi.
Tiap diadakan diskusi naskah, Ratu Batang menyumbang suguhan tradisional. Angkringan dari Bayat diundang. Sedang ronde, teh, kopi selalu tersedia hangat. Geplak Bantul, gathot thiwul Gunung Kidul, salak pondoh Sleman dan gebleg Kulonprogo diborong untuk nyamikan peserta sarasehan. Bidang filologi Bulaksumur berjalan sigrak gumyak semarak.
Kamadhatu rupadhatu arupadhatu nirwana dipahami Ratu Batang saat mengikuti upacara di Candi Borobudur. Kisah Ratu Pramodha Wardhani memang ulung anggun agung. Pembangunan candi Borobudur, Pawon, Mendut dan Ngawen mengagumkan sepanjang jaman. Prestasi gemilang raja Mataram Prayoga ini dikelilingi oleh gunung Merapi Merbabu Sindara Sumbing Ungaran. Kali Praga mengalirkan kebajikan sampai samudera selatan. Sembah kalbu yen lumintu dadi laku. Manggih hayu ayem tentrem kang tinemu.
Belajar serat babad tanah Jawi memperluas wawasan. Ratu Batang meneliti kisah Ratu Sima raja Kalingga yang adil dan bijaksana. Kerajaan Kalingga yang terletak di daerah Keling kaya akan sumber daya alam. Kayu jati Cepu berkualitas paling baik. Usaha ukir ukiran Jepara termahsyur di seluruh dunia. Lewat kidung pakeliran Soetrisno (2004) mengulas seni edi peni budaya adi luhung. Kajian filologi menghendaki adanya keindahan dan keluhuran berjalan beriringan. Ratu Batang berhasil mewujudkan tatanan hidup selaras serasi seimbang.
D. Ratu Serayu Dulangmas
Tokoh feminis yang super manis yakni Kanjeng Ratu Kencana atau Wiratsari. Garwa prameswari Sinuwun Amangkurat Agung. Raja Mataram 1645 - 1677. Berjasa atas wilayah Kedu Magelang Banyumas. Babad Dulangmas disusun berdasarkan kitab Jawa klasik. Sarasehan filologi kerap dilakukan di pinggir kali Serayu. Maka Ratu Kencana mendapat gelar Kanjeng Ratu Dulangmas.
Asal usul Ratu Kencana memang genep genah megah indah mewah gagah. Ayahnya adalah Pangeran Radin atau Tumenggung Kajor. Keturunan langsung Pangeran Benawa, Jaka Tingkir, Kebo Kenanga, Handayaningrat, Pembayun, Prabu Brawijaya. Jalur Ratu Kencana Amangkurat dari Pajang Pengging Majapahit. Pangeran Kajor kondhang sebagai tuan tanah kaya raya. Menngusai lalulintas perdagangan di pesisir utara. Meliputi Surabaya Lamongan Gresik Tuban Semarang Pekalongan dan Tegal. Kemudian berkembang sampai selat Malaka, Samudera Pasai dan Tamasek Singapura. Kekayaan Kekayaan niaga ini diwariskan pada putrinya, Ratu Kencana. Kelancaran pembangunan Mataram atas kontribusi Pangeran Radin yang memiliki jaringan bisnis pelayaran.
Istana Mataram berdiri pada tahun 1650 di Lesmana Ajibarang Banyumas. Kantor dibangun untuk mengurus tambang emas. Bertindak selaku direktur yakni Pangeran Lambung Mangkurat dari Banjarmasin Kalimantan Selatan. Kemudahan tambang emas juga karo fasilitas kantor yang berdiri di Bumiayu Brebes. Kereta api menuju Betawi dibangun untuk transportasi. Aktivitas bisnis logam mulia mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Amangkurat Agung yang didampingi Ratu Serayu Dulangmas berhasil. Mataram menjadi negara kang gedhe obore, padhang jagade, dhuwur kukuse, adoh kuncarane, ampuh kawibawane. Bebasan kang cerak manglung kang tebih mentiyung. Sami pasok glondhong pangareng areng, peni peni raja peni, guru bakal guru dadi, emas picis raja brana.
Kemampuan Ratu Kencana ampuh tanggap tanggon tangguh. Dalam bidang pertanian amat sukses. Budidaya bawang merah dikembangkan. Brambang Brebes terkenal mahal. Banyak orang Nganjuk datang belajar menanam brambang. Ratu Kencana memberi beasiswa. Petani brambang Sukomoro, Bagor, Rejoso tampil sebagai petani brambang yang berhasil. Pedagang brambang berharta terpandang. Tiap tahun pesta desa dengan nanggap wayang. Jajah desa milangkori.
Kanjeng Ratu Kencana Serayu membina kuliner. Warung Tegal tumbuh di mana mana. Dulu usaha ini dirintis oleh Ratu Kencana. Doni Rekro Hariyani (2001) menerangkan keluhuran putri Jawa. Etos kerja orang Tegal rantau berbekal pengalaman. Ratu Kencana tahu jiwa wirausaha. Perantau Tegal dibimbing untuk mendapat pendidikan dasar. Kursus masak enak diselenggarakan. Koki ternama diundang untuk memberi pelatihan. Martabak menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Roda ekonomi berputar dari bisnis kuliner khas Tegal. Para ahli kuliner menyusun racikan bumbu.
Tambang emas ini memberi keuntungan besar. Dana Mataram cukup untuk memindahkan ibukota dari Plered ke Kartasura. Amangkurat Agung membuat rencana matang. Namun rencana ini bisa terwujud setelah Amangkurat Amral tahun 1677 - 1703. Ratu Serayu Dulangmas mbandhani berdirinya kraton Kartasura.
Kiprah Ratu Serayu Dulangmas herois nasionalis dan patriotis. Angkatan laut dibina. Tegal sebagai pusat pendidikan Maritim. Iskandar Yasin (2025) menjelaskan makna jiwa kebangsaan. Pendidikan maritim karya Ratu Kencana berlangsung sampai tahun 1959. Ramadhan KH (1994) membuktikan siswa pelayaran yang bernama Ali Sadikin. Gubernur Jakarta ini legendaris sekali. Lulusan sekolah maritim Tegal yang tegak lurus berjuang untuk negeri.
Bidang filologi yang dikuasai Ratu Kencana diwariskan pada menantunya. Yakni Kanjeng Ratu Mas Balitar. Garwa Sinuwun Paku Buwana I ini ahli sastra. Berkuasa di Mataram Kartasura tahun 1708 - 1719. Gemar membaca dan menyadur kesusasteraan. Misalnya serat Iskandar Zulkarnaen, serat kandha, serat Yusuf. Ratu Mas Balitar putri Pangeran Balitar bupati Madiun, trah Kerajaan Demak Bintara.
Ratu Mas Balitar menerapkan wajib belajar. Tiap pukul 18 - 21 para pemuda diwajibkan untuk belajar dan menulis. Malah bangsawan Menak Pasundan belajar di Kraton Kartasura. Tradisi ini sudah dirintis sejak jaman Amangkurat Tegalwangi. Pengetahuan filologi demi usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.
E. Kanjeng Ratu Beruk Palawija
1.
Dhandhanggula
Raden Ajeng Yuwati kang siwi,
Adipati Jeng Wirakusuma,
Saking bang wetan wus moncer,
Katelah Ratu Beruk,
Surabaya Lamongan Gresik,
Probolinggo Lumajang,
Blitar Tulungagung,
Situbondo Pasuruan,
Banyuwangi Jomang Pacitan Kediri,
Bojonegoro Tuban.
Kanjeng Ratu Bang Wetan winarni,
Tetungguling wanita minulya,
Sumenep Sampang Trenggalek,
Mojokerto Madiun,
Ponorogo Caruban Ngawi,
Bangkalan Pamekasan,
Tlatah Ratu Beruk,
Mojoagung Kertasana,
Amartani tanem tuwuh jagung pari,
Kali Brantas Bengawan.
Gya binangun kehing lumbung pari,
Kutha gunung ing karang padesan,
Katon asri jajar jejer,
Kraton Mataram purun,
Ngati ngati gemi nastiti,
Permana simpen pangan,
Cukup tumpuk undhung,
Warata ing saknegara,
Kadang tani among dagang tukang sami,
Sedaya ngupakara.
Tirta umbul Cakra umbul Pengging,
Mili tumuju ing Kartasura,
Pertanian dadi moncer,
Pari jagung ngrembuyung,
Saurute Larangan Kali,
Mataram Surakarta,
Asri subur makmur,
Palapendhem palawija,
Palasimpar palagandhul palakitri,
Sumusul palarambat.
Patuladhan Amangkurat siji,
Nalikane yasa pabrik kecap,
Bahan dhele yekti sae,
Ratu Beruk sinau,
Purwodadi papan makarti,
Nganjuk Jombang Lamongan,
Kediri Madiun,
Bojonegoro Blitar,
Tulungagung Trenggalek Pacitan Ngawi,
Tanduran palawija.
Palawija tanduran winarni,
Rikala jaman Kraton Mataram,
Kacang ijo jagung dhele,
Akarya subur makmur,
Tlatah wetan kawula dasih,
Sasana boga wastra,
Cukup tangguh wutuh,
Tegal wiyar sawah jembar,
Kadang tani sengkut gumregut makarti,
Ngayahi kewajiban.
Pasugatan kagem para estri,
Methik saking wacan serat kina,
Rinaos dimen pikoleh,
Pahargyan hari ibu,
Tandha yekti minangka bekti,
Wanita wani nata,
Desember rolikur,
Sarana amrih minulya,
Sung palupi kaca benggala pawestri,
Ratu Beruk kinucap.
Kaloka Raden Ajeng Yuwati,
Putri Adipati Surabaya,
Wirakusuma parabe,
Kaloka Ratu Beruk,
Garwa Paku Buwana ping tri,
Nyata trahing kusuma,
Garis saking ibu,
Rengganis ing Wanasaba,
Wayah Sindureja Ki Juru Martani,
Warangka gung Mataram.
Ratu Beruk dadya prameswari,
Kanjeng Sunan Kraton Surakarta,
Pindha sesotya rinonce,
Angripta bathik truntum,
Murih gancar dagang lan tani,
Raja kaya tanduran,
Temah subur makmur,
Sakeh ama banjur lunga,
Perbawane pepundhen Nagri Mentawis,
Kanjeng Ratu Kencana.
2.
Kinanthi
Wanita bang wetan hayu,
Ratu Beruk wasis titis,
Miyos kutha Surabaya,
Sinebut Ratu Yuwati,
Turut dhusun pegunungan,
Njajah desa milangkori.
Pisungsung isine lumbung,
Gaplek tela jagung pari,
Ngumandhang ing awang awang,
Nutu beras mawi seni,
Sinambi tembang dolanan,
Guyub rukun merak ati.
Olah olah bahan baku,
Pawon minangka piranti,
Dhedhaharan bumbu kecap,
Kedhele dadi wigati,
Mulane Ratu Kencana,
Enggal yasa bangun pabrik.
Beruk Ratu ngudi ngelmu,
Dugi Eropa negari,
Jerman Inggris Roma Prancis,
Polandia Italia,
Portugal Sepanyol Suwis,
Ngupakara pertanian,
Milang miling pilih tandhing.
Pengetan ing hari ibu,
Mangka tandha darma bakti,
Mugi enggal antuk berkah,
Wiwit saking brayat alit,
Dugi laladan negara,
Kersa ngungak jaman riyin.
Gusti Kanjeng Ratu Beruk,
Ndherek Bupati Kediri,
Adipati Jayaningrat,
Tulungagung Nganjuk Ngawi,
Madiun Trenggalek Blitar,
Ngudi ilmi olah tani.
Mbudidaya nandur jagung,
Manca warni bibit pari,
Rajalele menthik genjah,
Tela pohung ketan gurih,
Amrih kacukupan boga,
Warga wareg waras wiris.
3.
Gambuh
Bang wetan Ratu Beruk,
Kadang tani tampi wulang wuruk,
Tegal sawah pekarangan papan karti,
Tata cara tanem tuwuh,
Samapta sakeh pirantos.
Lumpang alu kadulu,
Rinten dalu mireng wong anutu,
Ndheplok tela jagung tapen inter pari,
Njupuk gabah saking lumbung,
Nyambut gawe gotong royong.
Ratu Beruk kayungyun,
Pabrik kecap kasusra binangun,
Purwodadi tlatah tepak yasa kardi,
Suwasana pancen jumbuh,
Gegayuhan wus kelakon.
Subur makmur misuwur,
Bahu suku weh udhu panemu,
Laku laris manis Jeng Ratu Mentawis,
Kutha dhusun sami purun,
Tanduran ngrembuyung awoh.
Wejangan pra leluhur,
Gya andulu eling hari ibu,
Para putri pinaring tepa palupi,
Maca sejarah rumuhun,
Seserepan kang wigatos.
Ratu Beruk sung wuruk,
Kawruh empuk janganan matumpuk,
Wortel kenthang kacang bentis kubis buncis,
Bayem gambas ceme kangkung,
Kemangi keningkir terong.
Semangka manggis dhuku,
Kates pisang duren pelem jambu,
Palawija palapendhem palakitri,
Ratu Beruk paring tuduh,
Sabarang tanduran awoh.
Kebo sapi den ingu,
Wedhus suku papat ngrengga sungu,
Bebek menthok ayam banyak kuthuk meri,
Ratu Beruk gya anjurung,
Among tani ingon ingon.
4.
Pucung
Ratu Beruk paring conto nandur jeruk,
Wilayah bang wetan,
ing perenging gunung Wilis,
Kutha Malang woh wohane pirang pirang.
Nata lesung lumpang alu pinggir lumbung,
Kothekan wirama,
Mirip lagu laras gendhing,
Sigrak gumyak sarwa jenak enak penak.
Dhele Nganjuk bahan kecap pancen gathuk,
Suku Wilis Pandhan,
Kediri Madiun Ngawi,
Panaraga Sragen Tuban Rembang Blora.
Tebu wulung anteb kalbu lung tinulung,
Nandur palawija,
Sinengkuyung prameswari,
Kanjeng Sunan Paku Buwana kepranan.
Urun rembug wola wali ngantos ketug,
Warah para sepah,
Sumimpen sakjroning puri,
Perlu maca pustaka terang terwaca.
Kebak purun Ratu Beruk wus tumurun,
Kebon apel Malang,
Padhet singset rasa gempi,
Jenak grapyak sambang sambung saya penak.
Srupat sruput unjukan gawe kepencut,
Wedang angsle Malang,
Segere teh gula kopi,
Garwa nata karya gembira kawula.
Ratu Beruk kersa medhar wulang wuruk,
Kawruh tegal sawah,
Ngrembaka tumangkar tani,
Mrih negara murah wisma boga wastra.
Wajib niru kanggo sagung para guru,
Ngasta pawiyatan,
Minterake siswa siswi,
Sung tuladha utama Ratu Kencana.
5.
Sinom
Panaliten ing bang wetan,
Tanah geni banyu kali,
Bantala kanggo tanduran,
Gunung Kelud mubal geni,
Semeru Bromo hagni,
Wusnya dhawuh Ratu Beruk,
Lumampah kali Brantas,
Ngarah ngarih toya warih,
Sumber alam maringi beja pangeram.
Sumadiya alu lumpang,
Piranti anutu pari,
Sanak kadang padhusunan,
Among dagang juru tani,
Taberi saben hari,
Nata lesung jagi lumbung,
Ora bakal kapiran,
Sugih tela jagung pari,
Boga wastra waras wasis cukup wisma.
Tanduran kedhele sawah,
Perlu tegal papan garing,
Barat sumilir kumlebat,
Kembang mulut warna warni,
Suket thukul diwatuni,
Bareng awoh trus diundhuh,
Minangka bahan kecap,
Bumbu sedhep enak gurih,
Manuhara keplek ilat angon rasa.
Ratu Kencana kuncara,
Cerak caket juru tani,
Kanjeng Ratu Palawija,
Sami kersa amastani,
Cihna raos tresna sih,
Konjuk Kanjeng Ratu Beruk,
Gennya paring geng nugraha,
Sagunging kawula dasih,
Sihing raja ambabar gesang minulya.
Bathik truntum pralampita,
Wejangan sang prameswari,
Sinuwun Paku Buwana,
Sunan Surakarta ping tri,
Tumuwuh tresna jati,
Lestari hayu rahayu,
Manten mangun bebrayan,
Siyang ratri nunggak semi,
Putra wayah trah tumerah antuk berkah.
Ngadi salira busana,
Kanjeng Ratu Prameswari,
Sagung pra juru sumbaga,
Bisa laku lancar laris,
Meguru dados cantrik,
Dhateng Kanjeng Ratu Beruk,
Kanggo sangu makarya,
Juru paes mitayani,
Wenang kondhang mencorong regeng gumilang.
6.
Maskumambang
Saperenging kiwa tengen gunung Kawi,
Tinanem kehing woh wohan,
Tuwuh aglis katon manis,
Ratu Beruk borong tumbas.
Payon blabak lempeng rapet kayu jati,
Lumbung bakuh kukuh kuwat,
Rayap lunga tikus wedi,
Perbawane japa mantra.
Dagang kecap pundi papan antuk bathi,
Pasar gancar bakul lancar,
Suka bagya kadang tani,
Pratikel Ratu Kencana.
Mataram manggih jaman kencana rukmi,
Krana tandur palawija,
Suka lila among tani,
Nyata awoh bagya mulya.
Sowan raka Pamekasan Adipati,
Sumenep Bangkalan Sampang,
Madura pancen wigati,
Ratu Beruk sambung sambang.
Hari ibu wanci pengetan prayogi,
Ratu Beruk garwa nata,
Asung wulang para putri,
Kinen ngreksa kayuwanan.
Bagya mulya wibawa sagung pawestri,
Anggegulang kautaman,
Saka gurune negari,
Bebrayan langkung tumata.
7.
Mijil
Sidoarjo Surabaya Gresik,
Pabrik barang cocok,
Dagang pasar gawe bakul rame,
Tanjungperak layaran negari,
Kersa mandhegani,
Kanjeng Ratu Beruk.
Sandhang pangan papan anyukupi,
Dandang kekep genthong,
Ngaron jambang bul jun ember,
Enthung irus siwur kendhi,
Kukusan kuwali,
Cedhak karo lumbung.
Yasa kecap gagrag Purwodadi,
Budidaya kraton,
Dhele kangge bahan tahu tempe,
Saben hari piranti nyukupi,
Among dagang bathi,
Juru tani cukup.
Pereng gunung Pandhan gunung Wilis,
Palawija katon,
ijo royo royo mawor jene,
Gunung Lawu ing Madiun Ngawi,
Larik tharik tharik,
Ama lunga kabur.
Becik maca serat Candrarini,
Pujangga kedhaton,
Wiwit timur nganti tuwa gedhe,
Ngerti unggah ungguh tata krami,
Pakarti pekerti,
Kuneng kayat kayun.
Kayungyun mring kehing barang bening,
Tinon kinclong kinclong,
padhang sumandhang sendhen sumendhe,
Pepundhen ingkang pinundhi pundhi,
Pandam pandom dadi,
Dumadine pandum.
8.
Asmarandana
Blitar Trenggalek Kediri,
Pabrik tahu sami yasa,
Dhele bahan kanggo tempe,
Sumebar ing ngendi pasar,
Keklumpuk prabeya dana,
Wulangane Ratu Beruk,
Tumrape warga bang wetan.
Kawula kraton Mentawis,
Dhahar enak ngaso jenak,
Priyayi gesang mentereng,
Megah mewah gagah indah,
Tumpuk barang turah bandha,
Olah seni lesung lumbung,
Kepranan marang kagunan.
Amangkurat Tegalwangi,
Ambangun kecap Grobogan,
Misuwur enak rasane,
Kaloka manca nagara,
Nambahi bandha Mataram,
Nulad Kanjeng Ratu Beruk,
Kinen buka tegal sawah.
Wiji semi pereng giri,
Kopi teh bahan minuman,
Jajar jejer gandheng renteng,
Penggalih Ratu Kencana,
Memetri tanduran pangan,
Murih cakap cekap cukup,
Warata wong saknegara.
Andhap asor welas asih,
Marang sesamaning gesang,
Kempal wetah datan geseh,
Keseser olah kridhaning manah,
Nguliring budi pangarah,
Kapernah telenging kalbu,
Ibu bapak cepak penak.
Sidoarjo tlatah pabrik,
Seng perunggu wesi waja,
Dhadhung kawat tali rante,
Surabaya Pasuruan,
Lumajang Gresik Lamongan,
Sampun pirsa Ratu Beruk,
Situbondo Prabalingga.
9.
Pangkur
Kepranan tlatah bang wetan,
Tegal sawah njalari sugih luwih,
Turah mbruwah bandha bandhu,
Kanjeng Ratu Kencana,
Sung tetulung kulak kalang kaling kalung,
Kaliling lumantar sabda,
Mangka garwa prameswari.
Ngumandhang karang padesan,
Kakung putri sami anambut kardi,
Mangungkung suwara lesung,
Alu tumiba lumpang,
Amisungsung pari jagung jero lumbung,
Rumeksa anyimpen boga,
Tan sumelang tan kuwatir.
Kedhele wadhah karungan,
Pabrik kecap wilayah Purwodadi,
Angsal saking Ngawi Nganjuk,
Kediri Panaraga,
Sami purun abdi dalem ing Madiun,
Keceh dinar arta daya,
Sinengkuyung prameswari.
Papan tanam palawija,
Sawah tegal baon banyune mili,
Wulang wuruk Ratu Beruk,
Tambak bendung bengawan,
Kehing wadhuk binangun telaga mathuk,
Wiji thukul butuh toya,
Tandur subur makmur semi.
Tegal amba sawah jembar,
Panguripan petani tanah Jawi,
Tuladha Jeng Ratu Beruk,
Ngon ingon raja kaya,
Ngingu marmut kelinci trowelu kemput,
Bebek mentho banyak ayam,
Kebo wedhus kuda sapi.
Urut nyabrang kali Brantas,
Jenak penak baita den tumpangi,
Malang Blitar Tulungagung,
Trenggalek Kertasana,
Jombang Kriyan Mojokerto wus kadulu,
Ratu Beruk niti priksa,
Among dagang juru tani.
10.
Megatruh
Kanjeng Ratu Kencana Bang Wetan Beruk,
Cerak raket kadang tani,
Binangun piranti bakul,
Dina pasaran Pon legi,
Saben Wage Paing Kliwon.
Sagah saguh ngadhepi baya pakewuh,
Dumugi mangsa paceklik,
Wigatine mbangun lumbung,
Isi tela jagung pari,
Simpen gaplek thiwul gathot.
Kagem lawuh bumbu kecap tambah imbuh,
Dhaharan sangsaya gurih,
Gothak gathuk celak celuk,
Ratu Beruk amirsani,
Gawe kuncaraning kraton.
Pari jagung tanduran ketela puhung,
Ratu Beruk baut tani,
Gejig icir tanem tuwuh,
Mangka pangarsa negari,
Sebar gancar tuku adol.
Krakal garu lumaku anuting luku,
Macul cemplong klacen dhangir,
Dhaut arak matun tandur,
Wayah panen ani ani,
Pinuji adat kedhaton.
Gandheng wanuh renteng renteng manah luruh,
Tembung manis cara aris,
Tata krama sopan santun,
Gemi nastiti taliti,
Alon alon waton klakon.
Kacang ijo wohing kedhele pinunjul,
Kediri Madiun Ngawi,
Ponorogo Jombang Nganjuk,
Palawija unggul ugi,
Suka rena Ratu Katong.
11.
Durma
Madhep mantep sregep antep genep genah,
Wiraganing pawestri,
Wiwit bangun enjang,
Tatanan bale wisma,
Mersudi rampunge pakarti,
Jangka sembada,
Ratu Beruk winasis.
Gita gita cekat ceket nambut karya,
Wanci datan peduli,
Apa dene kutha,
Gunung desa ngadesa,
Sabarang gaweyan mrantasi,
Ratu Kencana,
Asung tepa palupi.
Raja Alaungpaya negeri Siyam,
Paku Buwana ping tri,
Ajar palawija,
Tanem tuwuh bang wetan,
Kacang kedhele jagung pari,
Ratu Kencana,
Sawega kadang tani.
Pabrik kecap Grobogan sigra kinucap,
Rasane manis gurih,
Kondhang dugi manca,
Ratu Beruk Kencana,
Dhawuh elah nangkodha aglis,
Kirim negara,
Siyam Hindustan Mesir.
Pertanian Peternakan perkebunan,
Kerajaan Mentawis,
Tegal baon sawah,
Gumelar dawa jembar,
Dedagangan pasaran tani,
Gregah lumampah,
Genah jangkeping urip.
Lumbung nyata papan kanggo ngreksa boga,
Sumimpen jagung pari,
Minangka cecadhang,
Kala mangsane kurang,
Upama mangsane paceklik,
Tansah siyaga,
Tata titi ing gati.
Bakni hagni siking geni guna kaya,
Murub kayangan api,
Suminar dumilah,
Tekad mangalat alat,
Ratu Beruk Sunan kaping tri,
Putri bang wetan,
Tuladha para tani.
F. Keutamaan Filologi Feminis
Wanita selalu wanita mranata lan wani ditata. Tata titi tatas titis tatag tutug. Pelopor gerakan feminisme Jawa ternyata menyadari arti penting kawruh utama. Sastra piwulang diulas oleh Andi Harsono (2005). Para bangsawan kraton peduli literasi yang dianalisis secara filologis. Kesadaran gender ditunjukkan oleh Doni Rekro Hariyani (2001) yang mengulas adanya partisipasi perempuan masyarakat desa.
Tata kehidupan sosial yang selaras serasi seimbang diulas oleh Sukatmi Susantina (2001) yang sesuai dengan pengamalan Pancasila. Dalam pembahasan filologis yang rinci Munarsih (2003) memberi contoh wulang wuruk. Serat Centhini menjelaskan peran wanita Jawa sepanjang masa. Mahmudi (2008) membahas jiwa agung lewat serat wirid. Kitab wulang wuruk itu jalan cerah, murih padhanging sasmita.
Para mahasiswa di kampus ungu Karangmalang mendapat pengetahuan filologi dari Ibu Dra Hesti Mulyani M.Hum yang teliti dan telaten. Tertib filologis menjadikan pola terapan kawruh Jawa tampak lebih genep dan genah. Untuk itu perlu ucapan terima kasih dan apresiasi yang amat mendalam. Pambagya raharja kagem Bu Hesti. Mugi sami hayu rahayu. Puji pinuji manggih suka basuki. Matur nuwun.
Daftar Pustaka
Andi Harsono. 2005. Tafsir Serat Wulangreh.
Yogyakarta. Pura Pustaka.
Damardjati Supadjar. 2001. Mawas Diri. Yogyakarta. Philosophy Press.
Doni Rekro Hariyani. 2001. Partisipasi Perempuan Masyarakat Desa. Yogyakarta. Philosophy Press.
Ekotjipto. 2011. Lakon Wayang dalam Seni Pedalangan. Jakarta. Pepadi
Endang Daruni. 2005. Moral Pancasila. Yogyakarta. Pustaka Raja.
Iskandar Yasin. 2025. Ensiklopedi Taman Siswa. Yogyakarta. Bangun Bangsa.
Mahmudi. 2008. Serat Wirid. Yogyakarta. Pura Pustaka.
Munarsih. 2003. Serat Centhini. Yogyakarta. Gelombang Pasang.
Ramadhan KH. 1994. Bang Ali Demi Jakarta. Jakarta. Sinar Harapan.
Soekirman. 2012. Kamus Serat Centhini. Yogyakarta. Pura Pustaka.
Soetrisno. 2004. Kidung Pakeliran. Yogyakarta. Persada
Solichin. 2021. Nafas Islam dalam Wayang. Jakarta. Senawangi.
Sukatmi Susantina. 2001. Akulturasi Gamelan Jawa. Yogyakarta. Philosophy Press.
Purwadi,
FBSB UNY
HP 087864404347

Komentar
Posting Komentar