Perjanjian Tuntang Salatiga
Perjanjian Tuntang Salatiga
Purwadi
Ketua Lokantara,
Hp 087864404347
A. Kontrak Politik Tuntang Salatiga
Berdirinya Puro Paku Alaman Yogyakarta atas dasar hasil kontrak politik Perjanjian Tuntang Salatiga. Yakni tanggal 17 Maret 1813. Puro Paku Alaman telah memberi kontribusi besar terhadap jalannya peradaban masyarakat Jawa. Peran ini begitu bermakna bagi kota Salatiga.
Dengan mengkaji secara historis, sosiologis dan filosofis, Puro Paku Alaman, diharapkan terdapat pemahaman secara sistematif, integral dan komprehensif. Warisan luhur masa silam sebagai sarana untuk membaca owah gingsire jaman, agar tetap berpijak pada adat istiadat nenek moyang. Dari perspektif kesejarahan Puro Pakualam senantiasa memegang teguh adat istiadat leluhur. Bandoro Raden Mas (BRM) Haryo Suyadi, yang kemudian dikenal dengan nama Bandoro Pangeran Haryo Notokusumo, lahir 21 Maret 1764 adalah putera Sri Sultan Hamengku Buwono I dan BRA Srenggorowati dari Kasultanan Yogyakarta.
Pangeran Haryo Notokusumo yang bukan putera mahkota, tidak mengira bahwa dikelak kemudian hari akan menjabat tahta Kadipaten dan memperoleh sebidang tanah hak milik turun temurun seluas 4000 cacah. Tanah tersebut terletak di daerah Pajang dan Bagelen, sedangkan yang terletak di daerah Yogyakarta berada di daerah Galur, Tawangarjo, Tawangkarto dan Tawangsoko yang berada di antara Sungai Progo dan Sungai Bogowonto.
Atas dasar usul Sri Sultan Hamengku Buwono II, maka pada tanggal 17 Maret 1913, Gubernur Jendral untuk Tanah Jawa Sir Thomas Stamford Raffles atas nama Pemerintah Inggris menobatkan Pangeran Haryo Notokusumo sebagai Pangeran Merdiko dengan sebutan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hariyo Paku Alam I.
Istana dari Paku Alaman ini biasa disebut Puro dan Kerajaannya bisa disebut Kadipaten. Letak dari Keraton Paku Alaman berada di sebagian kota Yogyakarta dan saat ini daerah itu lebih dikenal dengan kecamatan Paku Alaman. Sedangkan yang didiami oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam yang disebut Puro kini berada di jalan Sultan Agung.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I telah memimpin dengan bijak dan juga merupakan figur yang baik. Beliau sangat terpelajar dan senang mempelajari kebudayaan dan kesusastraan Jawa dan dapat dikatakan sebagai peletak dasar kebudayaan Jawa dalam kraton. Di bawah pemerintahannya, Paku Alam I mengembangkan seni menari dan musik gamelan serta banyak merangkum lagu-lagu kawi. Paku Alam I selain mengembangkan budaya beliau juga ahli bangunan dan senang mempelajari politik dan hukum.
Setelah memerintah selama 16 tahun, maka pada tanggal 19 Desember 1829 Paku Alam I wafat dan dimakamkan di Pasarean Hastana Kotagede. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam II, waktu muda bernama KRT Natadiningrat, kemudian berganti nama KPH Suryaningrat. Beliau lahir 23 Juni 1786, naik tahta 4 Januari 1830 dan wafat pada tanggal 23 Juli 1858, dimakamkan di Pasarean Hastana Kotagede.
Paku Alam II menciptakan tarian khusus laki-laki yang diberi nama Bondoboyo selain itu juga menciptakan tarian Ladrang Inum, Lawung Ageng, Gadung Mlati dan Puspawarno. Masjid yang berada di dalam Puro Paku Alaman juga karya Paku Alam II.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam III, hanya 6 tahun menduduki tahta, sebab diusia muda beliau telah mangkat. Ketika masih muda bernama GPH Sasraningrat, setelah naik tahta menyandang gelar KGPA Surya Sasraningrat. Lahir tanggal 20 Desember 1827, naik tahta 19 Desember 1858 dan mangkat 17 Oktober 1864, dimakamkan di Pasarean Hastana Kotagede.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam IV, lahir tanggal 25 Oktober 1841 dengan nama RM Notoningrat, kemudian KPH Notoningrat ketika naik tahta pada tanggal 1 Desember 1864 bergelar KGPA Surya Sasraningrat. Beliau wafat pada tanggal 24 September 1878 dan dimakamkan di Pasarean Hastana Kotagede.
Karena Paku Alam IV sering mengundang penari-penari dari Eropa, maka tak heran bila ciptaan beliau banyak dipengaruhi tarian Eropa. Misalnya Beksan Floret (beksan dengan pedang), Beksan Schermen (stilisasi tari-tarian dari Eropa), selain menciptakan tarian, beliau juga mendesain wayang kulit yang penggarapannya dikerjakan oleh penatah Ki Kertawawanda.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam V, ketika muda bernama BRMH Natawiliyo, kemudian KPH Suryadilogo. Setelah naik tahta pada tanggal 10 Oktober 1878 beliau bergelar KGPAA Prabu Suryodilogo. Paku Alam V seorang pekerja keras, ia banyak menganjurkan orang-orang muda untuk belajar dan bekerja dengan prinsip Eropa namun tidak menghilangkan tradisi Jawanya. Beliau banyak menyekolahkan kerabat Paku Alaman ke Sekolah Belanda dan beliau merupakan perintis kemajuan pendidikan bagi Kadipaten Paku Alaman. Beliau yang lahir 23 Juni 1833 dan mangkat 6 Nopember 1900 dimakamkan di Pasarean Girigondo, Temon, Kulon Progo.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VI, hanya menduduki tahta selama satu tahun karena sakit yang dideritanya. Sewaktu muda beliau bernama KPH Notokusumo lahir tanggal 9 April 1856 dan ketika naik tahta pada tanggal 11 April 1901 beliau bergelar KGPAA Paku Alam VI, wafat tanggal 9 Juni 1902.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VII, ketika muda bernama GRM Surarjo, kemudian berganti GRMH Surarjaningrat. Pada tanggal 17 Desember 1906 beliau naik tahta dan bergelar KGPAA Suryodilogo. Dan sejak tahun 1921 bergelar KGPAA Paku Alam VII. Lahir 9 Desember 1882, mangkat 16 Februari 1937 dimakamkan di Pasarean Hastana Girigondo Kulon Progo. Paku Alam VII adalah sosok pribadi yang rajin, berpikiran maju dan terbuka.
Sebagian karyanya adalah membangun kantor Pangreh Praja, memperbaiki masjid, dan memperbaiki gedung-gedung kuno. Beliau juga sangat memperhatikan pendidikan, Paku Alam VII memiliki sebuah buku Mithologi Arab yang tiap halamannya dihiasi indah dengan motif flora dan fauna. Sampulnya berlapis emas dan bertabur berlian. Bidang kebudayaan juga tidak luput dari perhatiannya. Beliau tidak kaku dan tidak terlalu terpancang pada patokan joget.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VIII, sewaktu muda bernama BRM Haryo Soelarso Koento Soeratno dilahirkan di Yogyakarta tanggal 10 April 1910. Menginjak dewasa beliau berganti nama KPH Soeryo Dilogo. Dalam tahun 1937 setelah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VII mangkat, beliau naik tahta dan bergelar KGPAA Prabu Soeryo Dilogo dan kemudian menjadi KGPAA Paku Alam VIII. Paku Alam VIII mengenyam pendidikan Europesche Lagere School di Yogyakarta kemudian Christelijke MULO Yogyakarta. Melanjutkan ke AMS-B di Yogyakarta, setelah itu melanjutkan ke Rechts Hoogeschool di Jakarta sampai tingkat candidaat.
Berbagai kedudukan dan peran Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VIII sejak awal kemerdekaan cukup banyak. Tahun 1946 diangkat sebagai Kolonel Kehormatan, dan pada bulan Mei beliau diangkat menjadi Wakil Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Di samping itu Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pemerintahan Daerah DIY. Oktober 1946 beliau menjabat Ketua Dewan Pertahanan Daerah DIY. Setelah clash ke II (1949), beliau menjadi Gubernur Militer DIY dengan pangkat Kolonel. Berdasar Penetapan Presiden No. 16/1959 beliau dinyatakan sebagai Wakil Kepala Daerah DIY. Kemudian berdasar UU Pokok No. 18/1965 beliau diangkat menjadi wakil Kepala Daerah.
Adapun putra-putri Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VIII. Dari dua garwa, Kanjeng Gusti Adipati Paku Alam VIII berputra 16 orang. Banyak kalangan menyebutnya wolu sisih, karena 8 putra-putri dilahirkan oleh garwa KRA Purnamaningrum dan 8 lainnya terlahir dari garwa KRA Retnoningrum.
Putra-putri dari KRA Purnamaningrum adalah :
1. KPH Ambarkusumo
2. BRA Retno Martani
3. KPH Gondokusumo
4. BRA Retno Suskamdani
5. BRA Rukmini
6. KPH Tjondokusumo
7. BRA Retno Widarini
8. KPH Indrokusumo
Putra-putri dari KRA Retnoningrum adalah :
1. KPH Probokusumo
2. BRA Retno Sundari
3. BRA Retno Dewayani
4. KPH Anglingkusumo
5. KPH Songkokusumo
6. BRA Pudjawati
7. KPH Ndojokusumo
8. KPH Widjojokusumo
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VIII diam itu emas. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VIII dikenal sebagai seorang pemimpin yang sedikit bicara. Beliau disebut juga sebagai tokoh nasional yang konsisten dan merakyat, mengembangkan demokrasi dalam pemerintahan.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam VIII adalah putra Sri Paku Alam VII dari perkawinannya dengan garwa permaisuri BRA Retno Puwoso putri Sri Sunan Paku Buwono X dari Surakarta.
Sewaktu kecil Sri Paku Alam VIII bernama BRMH Sularso Kunto Suratno, dilahirkan di Yogyakarta 10 April 1910 atau hari Ahad Pon 29 Mulud Be 1840.
Paku Alam VIII dikenal dengan sebutan Gusti Sul. Di usianya yang telah lanjut, beliau masih menduduki jabatan cukup tinggi dalam pemerintahan, yakni sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski usianya sudah lanjut, namun Sri Paku Alam VIII dalam usia sepuh masih tetap berwajah segar.
Bangun tubuh selalu nampak atletis, karena penggemar olah raga panahan ini setiap hari senantiasa tidak lupa memperagakan olah tubuh. Pada tahun 1992, jabatan tertinggi yang disandang Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya adalah Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. KGPAA Paku Alam wafat pada tanggal 11 September 1998. Dimakamkan di Astana Giri Ganda.
B. Eksekusi Perjanjian Tuntang
Bangunan Puro Paku Alaman merupakan bentuk tindak lanjut eksekusi Perjanjian Tuntang. Praja Paku Alaman atau yang dikenal sebagai Istana Puro Paku Alaman patut disebut sebagai adikarya budaya para leluhur.
Bangunan yang didirikan sejak 17 Maret 1813 itu mempunyai nilai-nilai teknologi dan seni yang tinggi.
Dalam lintasan Historis Puro Paku Alaman merupakan warisan tata nilai yang mengandung ajaran ajaran leluhur. Maka hingga kini masih menjadi sumber inspirasi bagi tata nilai Jawa yang dipakai dalam kehidupan sehari hari. Warisan berharga berupa berbagai naskah kuno, karya tari, barang-barang antik, relatif masih utuh. Hal itu menarik perhatian wisatawan asing, baik untuk kepentingan ilmiah maupun rekreasi.
Usaha pelestarian maksimal dilakukan. Masalah yang dihadapi adalah kerusakan lingkungan dan penurunan nilai budaya. Kerusakan lingkungan yang sudah dan diperkirakan akan berlangsung adalah berupa kerusakan fisik pada bangunan dan sarana penunjangnya, baik di sekitar maupun di luar kompleks. 10 Juni 1867, ketika KGPAA Paku Alam IV memerintah, Yogyakarta diguncang gempa dahsyat yang merusak banyak bangunan termasuk Puro Paku Alaman.
Gambaran kerusakan juga tampak pada bangunan Pesanggrahan di Glagah Kulon Progo yang dibangun Paku Alam V, 10 Oktober 1878 – 6 November 1900.
Jembatan Graulan selesai dibangun 1912 dan Pabrik Gula Sewugalur. Sedangkan penurunan nilai budaya terjadi karena dari waktu ke waktu jumlah tokoh yang mau menekuni kebudayaan dan kesusasteraan semakin menyurut. Padahal sebagaimana Kraton Yogyakarta, KGPAA Paku Alam I juga dikenal sebagai peletak dasar kebudayaan dan kesusateraan Jawa. Sedangkan KGPAA Paku Alam II terkenal sebagai seniman ulung.
Hal tersebut masih ditambah dengan kurang terpeliharanya sistem pendokumentasian naskah-naskah yang pernah ditulis. Paku Alaman memiliki ciri arsitektur khas yang didukung dengan bahan-bahan pilihan. Kayu merupakan bahan paling dominan.
Kebanyakan kayu jati, menyusul kemudian batubata, bambu, genting, kaca, kain, rotan, seng. Kayu-kayu diukir dengan ornamen indah dan simbolik. Ornamen ornamen yang berakar dari kebudayaan tradisional Jawa itu merupakan simbol sakral yang erat kaitannya dengan lambang keagungan.
Puro Paku Alaman sampai saat ini masih ditempati para kerabat istana dan juga abdi dalem, emban dan pegawai lainnya. Kegiatan merekapun seperti rumah tangga lainnya. Puro Paku Alaman belakang kini ditempati 13 kepala keluarga. Pada umumnya karya pustaka yang terdapat berisi pitutur tentang jati diri, kewajiban hidup dan ajaran hidup bijaksana. Dari situlah kemudian terpikir untuk perlu adanya kerjasama dengan berbagai pihak yang berkompeten dengan masalah perpustakaan, selain minta bantuan para ahli perpustakaan untuk pengelolaan selanjutnya. Di sisi lain datang masukan agar kesempatan penggunaan perpustakaan tersebut lebih diperbesar dengan aturan yang lebih diperlonggar.
Alun alun Sewandanan (Sewandana)
Papan pandhelikan (schuil loopgraaf) di masa perang letaknya dibawah tanah.
Palegongan (tempat untuk perangkat gamelan jawa) yang pernah dirusak dan kini telah dibangun kembali sejak permulaan tahun 1989. Kedua ruangan yang menjorok ke depan dari bangunan sayap depan sebelah selatan, pada bagian sebelah barat pada dindingnya tertulis : Hing Danawara. Kini ruangan ini dipakai untuk kantor.
Tembakau Vorstenlanden sedang ruangan di sebelah timur yang dahulu disebut ngesengan kini dipakai untuk kantor.
Pintu gerbang (regol) utama disebut Wiworo Kusumo. Di dalam ruangan gerbang sebelah timur terdapat arca Ganesya dari batu hitam. Pada dindingnya terdapat cermin besar sedang di sampingnya terdapat papan dengan tulisan : Engeta Angga Pribadi. Pada ruangan sebelah barat ada sebuah lonceng dari baja hitam (genta) sedang pada dindingnya terdapat pula sebuah cermin besar dan disampingnya terdapat papan dengan tulisan berhuruf Jawa : guna titi purun.
Bangunan sayap depan (selatan) bagian timur dipakai untuk ruang pameran. Adapun museum Puro Paku Alaman terdiri dari benda-benda kuno dan kereta kebesaran peninggalan sejarah. Sejak tahun 1813 Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles memerintah di pulau Jawa.
Di antara ruang museum dengan ruangan di sebelah utara terdapat bekas jalan keluar yang sudah ditutup permanen dan kini untuk kamar kecil dan kamar mandi. Bangunan pada sayap barat yang menyambung ke arah utara, kini dipakai untuk Kantor Inspektorat Keuangan Wilayah DI Yogyakarta dan balai sidangnya. Pada zamannya bagian barat daya ruangan itu dipakai sebagai tempat penyimpanan kendaraan dan kereta kuda. Jalan keluar ke barat sampai kini masih dipakai hanya untuk keperluan khusus.
Ruangan ruangan yang ada di sebelah utara dahulu merupakan kantor Comtabiliteit dan Kashouder Praja Paku Alaman. Sebanyak 2 buah ruangan besar diujung sayap untuk Kantor Perpustakaan.
9. Sumur, Taman berbentuk segi tiga geometris dan bunderan yang letaknya lebih tinggi dari pada jalan sekelilingnya. Pada ujung taman kearah selatan terdapat sebuah meriam kuno. Bangunan pada sayap barat dan sayap timur.
Kuncungan, Bangsal utama sewotomo; didalamnya sebelah utara terdapat 4 buah saka guru lama dengan uleng berukir. Gedhong Purworetno. Kamar Cina untuk menyimpan benda-benda seni bercorak Cina.
Pasarean (kamar tidur). Bangsal Srikaya (kamar kerja raja). Kamar busana. Gedhong Parangkarsa. Bangsal bujana (ketering)
Dalem Ageng Prabayeksa
(didalamnya terdapat sebuah pasren lengkap gedhong pusaka dan senthong wetan). Bangsal Sewarengga. Patehan (dahulu dipakai sebagai ruang bikin minuman teh). Gandhok Wetan, gedhong pengapit wetan.
Gandhok Kulon (gedhong pengapit kulon). Gedhong Maerakaca, bangunan bertingkat berdinding kaca. Bangunan sayap barat (tempat tinggal keluarga/sentana). Tea House, tempat istirahat rangkaian Maerakaca.
Pekiwan (kamar mandi/kamar kecil). Pohon mempelam, Kolam renang untuk keluarga, Pohon gendaria, Balekambang Gudang, Tempat kerja
Kolam kecil . Tembok pemisah halaman belakang. Pintu tengah tembok pemisah. Tempat sepeda Tempat makan ternak.
Taman kanak kanak. Bekas gedung tempat olah raga. Kini di bagian barat dipakai sebagai kantor instalatir listrik. Tempat ini semasa pemerintahan Sri Paku Alam VII adalah dapur susu.
Pintu barat halaman belakang
Sekolah Dasar I dan II Puro Paku Alaman. Puro belakang dahulu dipakai sebagai tangsi Legiun AA yang pada ini waktu dimanfaatkan untuk penghunian para keluarga santanadalem.
Pintu gerbang di bagian utara Puro belakang yang dahulu merupakan pintu utama tangsi sekarang selalu tertutup.
Untuk itu bekas kolam air atau blumbangan untuk mandi anak-anak para abdidalem.
Usaha maksimal agar berguna. Misalnya bekas kandang kuda, bekas kandang menjangan. Sumber narasi dari Museum Puro Paku Alaman. Bangsawan Paku Alaman sadar budaya.
C. Legalitas Tuntang Salatiga
Nilai luhur warisan Puro Paku Alaman merupakan hasil legalitas Tuntang.
Bangsa Indonesia memiliki beragam adat istiadat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Puro Paku Alaman salah satu warisan budaya bangsa yang wajib dilestarikan. Upaya pelestarian lingkungan dan kebudayaan praja Paku Alaman. Sebagai peninggalan sejarah bernilai tinggi yang perlu dilestarikan agar generasi yang akan datang dapat menikmatinya.
Puro Paku Alaman memiliki corak yang khas dan merupakan pusat kebudayaan Jawa. Puro Paku Alaman memiliki berbagai karya pustaka yang menggambarkan keluhuran kebudayaan yang dimilikinya, antara lain berupa kepustakaan klasik Jawa Kuno, sastra umum, tari, tradisi kraton lama dan media pewayangan.
Adanya karya sastra yang cukup ternama adalah seperti dihasilkan Paku Alam III yakni Serat Dharma Wirayat. Permaisuri Paku Alam V juga terkenal sebagai penulis yang memperbaharui kidung dan tembang untuk para putri. Karyanya, Cakepan-cakepan Gending, masih tetap terpakai sampai sekarang. Langkahnya kemudian dilanjutkan oleh salah seorang putrinya yang bernama Raden Ayu Nototaruno.
Putri hebat ini mengadakan kursus pakuwon, primbon dan pelintangan kepada kerabat Paku Alaman. Hal ini menunjukkan bahwa kaum wanita di Puro Paku Alaman mendapat hak yang sama untuk mengembangkan intelektualitas, kreativitas dan berperan serta dalam pengembangan tradisi.
Seni budaya berkembang terus. Sejak Paku Alam I sampai V telah tercipta setidaknya 30 karya pustaka, berupa babad, candra dan piwulang. Di samping itu, paling tidak ada 18 budayawan yang mengabdikan diri di Puro Paku Alaman, diantaranya adalah KRT Wasitodiprojo yang pernah menjadi dosen tamu pada sebuah universitas di Amerika Serikat.
Maka karena kurangnya usaha regenerasi, maka setelah banyak budayawan yang mengabdikan diri itu tutup usia, peninggalan yang berupa karya sastra lisan atau tertulis dalam bahasa dan huruf Jawa, tidak ada yang mewarisi. Dukungan untuk hal itu juga telah disampaikan oleh para ahli. Misalnya sejarah dari Universitas dan juga perlu melibatkan budayawan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan ISI Yogyakarta sekaligus ahli seni.
Jelas perlunya bantuan pemerintah pengkajian, serta pengembangan harus diupayakan agar Puro Paku Alaman tetap dalam kondisinya yang asli atau orisinil. Agar lebih terbuka khususnya untuk penelitian sering mengadakan dialog untuk memperoleh masukan. Mengadakan promosi dan publikasi yang lebih gencar. Etos kerja para abdidalem harus dibuat lebih dinamis, dan hal-hal lain yang bertujuan meningkatkan profesionalisme atau pengelolaan Puro Paku Alaman.
Faktor penghambat adalah jumlah karya pustaka yang sangat sedikit, tidak dikelola oleh ahlinya, tidak tersedia dana untuk pengembangan, dan belum adanya kerjasama dengan pihak luar untuk lebih meningkatkan kegunaannya. Sedangkan yang mendukung adalah : tersedianya ruangan, cukup banyak budayawan dan intelektual dari Paku Alaman dan masih ada petugas yang mau mengelola karya karya pustaka.
Koleksi karya pustaka Puro Paku Alaman meliputi 30 judul dari Serat Dharma Wirayat sampai Paprentahan Praja Kejawen. Perlu diketahui tokoh putri Kasunanan yang berpengaruh.
Gusti Adipati Retno Puwoso garwa prameswari Paku Alam VII. Potensi budaya yang lain adalah berupa karawitan dan seni tari yang berbeda dengan yang ada di 3 keraton lainnya yakni Paku Buwono, Hamengku Buwono dan Mangkunegoro. Sejak Puro Paku Alaman berdiri di tahun 1813 sampai 1937 telah tercipta setidaknya 23 macam karya tari yang membuktikan eksistensi Kadipaten Puro Paku Alaman diantara kerajaan lainnya di Jawa. Tapi kini tinggal 6 macam tarian putri dan 4 macam tarian kakung yang dapat dilacak kembali.
Penggalian keenam tarian putri dan keempat beksan, telah diintensifkan dan dibakukan dalam bentuk tulisan. Dan hal itu tidak lepas dari peran abdidalem. Maka untuk meningkatkan dan menggairahkan karawitan dan tarian di Puro Paku Alaman, kesejahteraan mereka harus ditingkatkan.
Dalam hal ini, faktor penghambatnya adalah : sedikitnya ahli dan budayawan bersangkutan yang masih hidup, belum ada ahli tari dari luar yang terlibat, kurangnya dana, kurangnya kader para abdidalem, mereka yang selama ini terlibat tidaklah berlatar belakang pendidikan tari. Sedangkan yang mendukung adalah tersedianya sarana dan prasarana untuk latihan, masih ada yang mau terlibat dalam usaha pelestarian itu, dan mereka yang menguasai tarian dan karawitan tersebut diantaranya ada yang masih hidup.
Karya pustaka sebagai sumber narasi sejarah Paku Alaman juga memiliki museum yang bercorak khusus yang menggambarkan kebudayaan dan sistim pemerintahan Pura Paku Alaman.
Dari kenyataan di atas dipandang perlu dibentuknya suatu komisi yang dapat melaporkan secara lengkap.
Kondisi Puro Paku Alaman dalam bahasa Indonesia dan Inggris, yang akan melibatkan berbagai lembaga, baik swasta maupun pemerintah. Diharapkan dari laporan ini akan menggugah para investor untuk mengulurkan bantuan tidak bersyarat bagi pengembangan dan pelestarian kebudayaan di Pura Paku Alaman.
Bangunan penting di kompleks Puro Paku Alaman adalah Proboyekso yang khusus diperuntukkan sebagai tempat penyimpanan pusaka pusaka dan cinderamata yang menjadi peninggalan budaya dan sejarah. Bahwa kondisi bangunan perlu diamati, telah diteliti oleh seorang konservator dan restorator.
Adapun kayu jati yang meski tidak diawetkan tetap bermutu tinggi sangat mudah retak bila sering terasapi oleh asap kemenyan di tempat tertutup tanpa ada sirkulasi udara. Paku Alaman tampak nyaman.
Untuk itu perlu dipikirkan pengurangan pembakaran kemenyan dan pengadaan ventilasi udara yang memadai agar Paku Alaman terhindar dari sumber keretakan tersebut. Suasana asri di Pura Paku Alaman dijaga bersama.
Eling lan waspada adalah sikap utama. Pengamatan juga perlu dilakukan pada sumber kemusnahan berupa aliran listrik mengingat masih terdapat benda benda atau bagian yang letaknya berdekatan dengan jaringan listrik yang sewaktu-waktu bisa menyulut bahaya kebakaran. Pencegahan perlu dilakukan. Agar suasana Pura Paku Alaman tetap aman damai.
D. Kebijakan Rawa Pening
Wilayah Puro Paku Alaman di Kulon Progo hasil kebijakan Rawa Pening. Kabupaten Kulon Progo mengalami perkembangan dari masa ke masa. Hal ini terkait dengan pembagian wilayah pada jaman kerajaan masih memiliki kekuasaan teritorial dan administratif. Pada tanggal 17 Maret 1813 ditanda tangani perjanjian Tuntang. Bertempat di tepi Kali Tuntang, sebelah barat Gunung Merbabu, barat lereng gunung Telamaya yang berdekatan dengan Rawapening.
Berdasarkan perjanjian Tuntang, maka berdirilah Kadipaten Pura Paku Alaman. Pangeran Notokusumo dinobatkan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I. Pada waktu itu kasultanan Yogyakarta diperintah oleh Sri Sultan Hamengku Buwono II.
Terjadilah pembagian wilayah antara kekuasaan Kasultanan Yogyakarta dengan Pura Paku Alaman. Pangeran Notokusumo yang menjadi Paku Alam I adalah adik Sultan Hamengku Buwono II. Wilayah Kasultanan Yogyakarta meliputi daerah Kulon Progo. Sedangkan wilayah Pura Paku Alaman terdiri dari daerah Adikarto.
Meliputi Kabupaten Pengasih dan Kabupaten Sentolo yang berdiri secara resmi tahun 1831. Lantas pada tahun 1851 dibentuklah kabupaten Nanggulan. Pemekaran kabupaten Kalibawang terjadi pada tahun 1855.
Kabupaten Pengasih, Sentolo, Nanggulan dan Kalibawang pada tahun 1812 digabung menjadi satu, dengan nama Kabupaten Kulon Progo. Pada tanggal 16 Februari 1827 kabupaten Kulon Progo terbagi menjadi dua kawedanan serta delapan kapanewon. Ibukota pindah ke daerah Sentolo.
Kawedanan di Kulon Progo meliputi daerah Pengasih yang terdiri dari kapanewon Lendah, Sentolo, Pengasih dan Kokap. Sedangkan kawedanan Nanggulan terdiri dari Kapanewon Girimulyo, Kalibawang dan Samigaluh.
Para bupati yang menjabat di kabupaten Kulon Progo yaitu :
1. KRT Poerbowinoto
2. KRT Notoprajarto
3. KRT Harjodiningrat
4. KRT Djojodiningrat
5. KRT Pringgo Diningrat
6. KRT Setjodiningrat
7. KRT Poerwoningrat
Perubahan administrasi terjadi pada tahun 1951. Kadipaten Adikarto dan kadipaten Kulon Progo digabung menjadi satu. Sebagai dasar hukum yaitu undang-undang No. 18 tahun 1951. Sejak itulah Kulon Progo menjadi kabupaten otonom dengan beribukota di Wates.
Adapun wilayah Adikarto merupakan daerah kekuasaan Pura Paku Alaman. KGPAA Paku Alam I mendapat hak kekuasaan sebelah barat sungai Progo. Sepanjang pantai selatan ini disebut dengan nama Pasir Urut Sewu. Daerah kekuasaan Pura Paku Alaman juga mendapat sebutan Kabupaten Karang Kemuning. Sebagai pusat pemerintahan beribukota di daerah Brosot. Penasihat utama Pura Paku Alaman bernama Kyai Demang Kawirejo.
Para bupati yang pernah memerintah di Kadipaten Karang Kemuning yakni :
1. Tumenggung Sosrodigdoyo
2. R. Rio Wasadirdjo
3. RT Surotani
4. RMT Djayengirawan
5. RMT Notosubroto
6. KRMT Suryaningrat
7. Mr. KRT Brotodiningrat
8. KRT Suryaningrat (Sungkono)
Bupati yang memerintah Kadipaten Karang Kemuning pertama kali dipegang oleh Tumenggung Sosrodigdoyo. Kemudian dilanjutkan oleh Raden Rio Wasadirdjo. Keduanya atas perintah KGPAA Paku Alam V untuk melakukan pembangunan Rawa di Karang Kemuning.
Rawa-rawa ini menjadi wilayah yang indah atau adi. Para petani dapat bercocok tanam dengan subur makmur atau karta. Dari kejadian ini wilayah Karang Kemuning lantas diubah menjadi Kadipaten Adikarto. Ibukota dari Brosot dipindah ke daerah Bendungan pada tahun 1877.
Daerah Kadipaten Adikarto semakin maju dan sejahtera. Pada tahun 1903 ibukota kadipaten Adikarto dipindahkan ke daerah Wates. Kadipaten Adikator terdiri dari dua kawedanan yaitu Kawedanan Sogan dan Galur. Kawedanan Sogan terdiri dari kapanewon Wates dan Temon. Kawedanan Galur terdiri dari Brosot dan Panjatan.
Pada tahun 1951 kadipaten Kulon Progo dan kadipaten Adikarto digabungkan menjadi satu. Berdasarkan undang-undang no 18 tahun 1951. Yang disahkan pada tanggal 12 Oktober 1951.
Berurutan bupati Kulon Progo setelah penggabungan wilayah Kulon Progo dan Adikarto adalah sebagai berikut.
1) KRT Suryoningrat 1951 – 1959
2) R Prodjo Suparno 1959 – 1962
3) KRT Kertodiningrat 1963 – 1969
4) R Soetedjo 1969 – 1975
5) R Soeparno 1975 – 1980
6) KRT Wijoyo Hadiningrat 1981 – 1991
7) Drs H Suratidjo 1991 – 2001
8) H Toyo Santoso Dipo – HM Anwar Hamid 2001 – 2006
9) H Toyo Santoso Dipo – Drs. H Mulyono 2006 – 2011
10) dr. H Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) – Drs H Sutedjo 2011 – 2018
11) Drs H Sutedjo 2018 – 2021
Segenap pemimpin dan rakyat bersatupadu, agar kabupaten Kulon Progo semakin maju. Deretan sejarahyang pernah terjadi merupakan pelajaran yang berharga bagi generasi sekarang. masa silam selalu menawarkan pengalaman yang mengandung keteladanan serta kebajikan.
Tanggal 17 Maret 18 13 Pura Paku Alaman resmi berdiri. Pangeran Notokusumo bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I.
Kontrak politik diresmikan oleh Gubernur Jenderal Raffles. Selaku wakil pemerintah Kerajaan Inggris Raya. Sejak pagi gendhing Monggang berkumandang. Tanda penobatan Pangarsa istana pura.
Malam sebelumnya Pangeran Notokusumo tapa kungkum di Kali Serang. Dengan dikawal abdi dalem purwo kinanthi. Layaknya lelaku yang dijalankan oleh Joko Tingkir.
Siram jamas untuk sesuci diri di kali Serang. Pangeran Notokusumo mulai mantab untuk memimpin pura Paku Alaman. Sejenak peristiwa historis perlu ditinjau ulang.
Berdirinya Pura Paku Alaman tanggal 17 Maret 1813. Bermula dari diplomasi tingkat tinggi yang dilakukan oleh Trah Mataram. Berada di bawah kaki Gunung Merbabu yang berhawa sejuk.
Perjanjian Tuntang Salatiga menjadi tanda berdirinya Puro Pakualaman Yogyakarta. Pengesahan ini dilakukan oleh Gubernur Jendral Raffles pada tanggal 17 Maret 1811. Pangeran Notokusumo dinobatkan menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I.
Keindahan gunung Merbabu memikat hati. Raffess adalah tokoh hebat. Akrab dengan masyarakat Salatiga. Pernah melakukan wisata berkuda. Rute tengaran Susukan, Karanggede. Saat istirahat di Pasar Susukan sempat kuliner sego jagung dengan lawuh bothok teri. Suguhan sayur adas dan kikil jamu. Disantap di pinggir kali Serang sambil mancing. Rasanya serba nyamleng.
Aliran Kali Serang berair kinclong. Adanya prestasi gemilang kota Salatiga lereng gunung Merbabu amat penting. Keberadaan Kadipaten Pakualaman dalam sejarah Kerajaan kerajaan di Jawa tampaknya tidak dapat dipisahkan adanya persaingan elite politik atau bangsawan. Dalam perjalanannya Kadipaten Paku alaman telah mengalami dinamika perkembangan yang ditandai adanya pergantian pemerintahan mulai dari Paku Alam I sampai dengan Paku Alam VIII.
Salatiga lereng gunung Merbabu perlu dikenang oleh Dinasti Mataram. Untuk mendapatkan gambaran tentang Kepala Dinasti Kadipaten Pakualaman, maka uraian akan dijelaskan secara rinci dan singkat mulai dari Paku Alam I sampai dengan Paku Alam VIII, serta profil Paku Alam IX. Yeeldijk yang pernah menjadi Residen Yogyakarta, mengatakan bahwa permasalahan yang dihadapi Pangeran Notokusumo dan RT Notodiningrat masih kurang jelas baginya. Ditambahkan, bahwa Pangeran Notokusumo dan RT Notodiningrat dituduh berkomplot dengan R. Rangga yang memberontak. Tuduhan ini sebenarnya hanya dipergunakan sebagai alasan yang tidak wajar untuk mengelabui mata orang.
Dengan demikian wilayah Salatiga menjadi tempat penting bagi dinasti Mataram. Alasan yang sebenarnya, Pangeran Notokusumo dituduh ingin menjatuhkan Pangeran Adipati Anom dan RT Notodiningrat dituduh akan mendongkel Patih Danurejo. Sementara itu hubungan tidak baik antara GKR Kencono Wulan dengan Pangeran Adipati Anom merupakan latar belakang yang ikut memperburuk situasi politik pada waktu itu.
Semua itu adalah karena Pangeran Adipati Anom mendapat hasutan dari provokator yang ingin menjatuhkan eksekutif. Melalui penderitaan dan perjuangan yang panjang. Beliau dipindah dari satu kota ke kota lain, akhirnya sesudah Pangeran Adipati Anom dinobatkan oleh Gubernur Inggris sebagai Sultan Hamengku Buwono III di Loji, tempat kediaman Minister Residen Inggris. Orang internasional sudah biasa interaksi di kota Salatiga, kaki gunung Merbabu.
Sebaiknya trah Mataram belajar atas sejarah kota Salatiga dan sekitarnya maka pada esok harinya, Senin 29 Juni 1812 Pangeran Notokusumo dinobatkan oleh Gubernur Jenderal Raffles sebagai Pangeran Merdiko di dalam kraton, dengan gelar KGP Adipati Paku Alam, sedangkan RT Notodiningrat berganti nama menjadi KP Ario Suryaningprang dan RM Salyo, adinda RT Notodiningrat menjadi KP Ario Suryaningprang. Mengenai berdirinya Kadipaten Pakualaman sekalipun Pangeran Notokusumo secara resmi telah dinobatkan menjadi Sri Paku Alam I pada hari Senin 29 Juni 1812, akan tetapi Politik Kontrak antara Gubernur Inggris dengan Sri Paku Alam baru dibuat dalam bulan Maret 1813.
Politik Kontrak ini dibuat pada tanggal 17 Maret 1813. Anehnya ialah bahwa berdirinya Kadipaten Pura Mangkunegaran pun terjadi pada tanggal 17 Maret, sebab perjanjian Salatiga antara investor dengan Sri Mangkunegara dibuat pada tanggal 17 Maret 1757. Berita tu tersebut dalam Gedenkschrift 25 jarig bestuurjubileum Paku Alam VII. Tokoh Salatiga yang mewarisi semangat juang leluhur yakni Matori Abdul Jalil. Ketua partai ini pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Trah Mataram mewarisi budaya Pajang. Gunung Merbabu dianggap wingit wigati. Dengan demikian maka pada tanggal 17 Maret 1813 Pangeran Notokusumo menerima jabatannya sebagai Sri Paku Alam I dari gubernur Inggris, dan dengan demikian pula nama bagi dinasti Pakualaman diletakkan dasar dasarnya.
Dalam bukunya tentang Verhouding der Vorsten terdapat ulasan menarik. Raffles mengingat jasa jasa Pangeran Notokusumo, mengangkat beliau sebagai Pangeran Merdiko, dengan gelar Pangeran Adipati Paku Alam. Sumbangan wilayah Salatiga bagi perkembangan kerajaan Jawa sungguh besar. Raffles meninggalkan jejak manis di sepanjang aliran Kali Tuntang Tengaran.
Kesadaran historis ini hendaknya diresapi dengan sepenuh hati. Lara lapa tapa brata. Sejarah menawarkan keutamaan. Komunitas seni budaya sekitar Gunung Merbabu telah menyumbang penulisan Kesusasteraan bermutu tinggi.
Hulu Merbabu menawarkan kejernihan. Pangeran Notokusumo mengikuti jejak Joko Tingkir. Leluhurnya menjalankan lelaku di gunung Merbabu dan Kali Serang.
Pangeran Notokusumo pendiri dinasti Pura Paku Alaman. Pewaris Trah Mataram ini memiliki peristiwa historis di Kali Tuntang dan Kali Serang.
E. Kontrak Politik Perjanjian Tuntang
Perjanjian Tuntang merupakan peristiwa historis yang sangat penting. Adapun bunyi Politik Kontrak antara Sri Paku Alam I dengan Gubernur Inggris pada tanggal 17 Maret 1813 itu selengkapnya adalah sebagai berikut:
Generasi muda perlu belajar sejarah. “Perjanjian yang dibuat antara John Crawfurd Residen Yogyakarta, untuk itu diberi kuasa penuh oleh Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jenderal dari pulau Jawa dan sekitarnya di satu pihak dan Pangeran Paku Alam di pihak lain secara rinci bunyi perjanjian itu dapat dibaca dengan saksama :
Pasal 1
Karena Gubernur Inggris sepenuhnya yakin tentang kesetiaan dan jasa-jasa Pangeran Paku Alam, maka Gubernur Inggris akan memberi perlindungan secara langsung kepada Sri Paku Alam dan keluarganya.
Pasal 2
Gubernur Inggris berjanji, selama Pangeran Paku Alam bersikap dengan kehendak Inggris, akan memberikan tunjangan bulanan kepada Sri Paku Alam sebesar 750 real seumur hidup, dan gubermen Inggris akan mengusahakan agar Sri Sultan Hamengku Buwono III memberi tanah kepada Sri Paku Alam sebesar 4000 cacah, dan bahwa tunjangan bulanan dan tanah itu setelah Sri Paku Alam mangkat, akan beralih kepada puteranya yang tertua Pangeran Suryaningrat.
Pasal 3
Pemberian tanah kepada Sri Paku Alam itu akan tetap dijamin oleh gubermen Inggris, dan tanah itu akan diatur serta diperintah sesuai dengan kehendak gubermen Inggris.
Pasal 4
Di daerah-daerah yang berada di bawah kekuasaan Sri Paku Alam, tidak akan dipungut pajak-pajak baru, dan penghasilan tanahnya tidak boleh ditambah atau dirubah, kecuali jika sudah mendapatkan ijin lebih dahulu dari gubermen Inggris.
Pasal 5
Sri Paku Alam berjanji untuk memelihara korps dragonders sebanyak 100 orang untuk kepentingan gubermen Inggris, berdasarkan syarat-syarat seperti diatur dalam pasal pasal di bawah ini.
Pasal 6
Korps tersebut dipersenjatai dan diberi uniform oleh gubermen Inggris, sedangkan Sri Paku Alam mengurus tentang kuda dan perlengkapannya.
Pasal 7
Sri Paku Alam berjanji, kecuali akan memberi suplay kepada korps juga untuk memberi gaji bulanan sebagai berikut: Sersan 3 real, Kopral 2 ½ real, Serdadu 2 real.
Pasal 8
Korps secara teratur akan mendapat latihan dari seorang Inggris yang diangkat untuk tugas itu, dan tidak akan ada serdadu yang dapat dipecat oleh Sri Paku Alam tanpa ijin gubermen Inggris.
Pasal 9
Pada akhirnya ditentukan, bahwa kecuali korps di atas Sri Paku Alam atau keluarganya dengan alasan apapun juga tidak diperkenankan untuk memelihara atau mengerahkan sebuah pasukan militer.
Ditanda tangani, dibubuhi segel dan dibikin
di Yogyakarta pada tanggal 17 Maret 1813
Tertanda
(J. Crawfurd)
F. Perjanjian Paku Alam – Inggris
“Contract and Engagement entered into and agreed upon, between John Crawfurd Esq., Resident at the Court of the Sultan of Java, duly authorized there to by the Hon. Th. S. Raffles, Lieut. Governor of the island of Java and its Dependencies, on the one side, and the Prince Pangeran Paku Alam, on the other”.
Art. 1
Whereas the British Government are entertaining a high sense of the fidelity, attachement and public services of the Prince Paku Alam, they are hereby placed to take Him and his family under their own immdiate protection.
Art. 2
The British Government stipulate to pay to the Prince Paku alam during his lifetime and while he conducts himself to their entire satisfaction, a monthly stipend of 753 Sp. Dollars, and they further engage to make arrangements with H.H. the Sultan of Java, by which the Prince shall be placed in possession of lands to the full amount of 4000 Chachas, to be in like mannor hold during his life and good behaviour, and to descend to his eldest son, the Prince Suryo Ningrat, to be held on similar terms and conditions.
Art. 3
The lands in question shall be held under the guarrantee of the British Government, and be subject to which form of administration and government, as the said British Government may be pleased hereafter to establish; and it is more particularly provided that they shall b subject to any modifications that may become necessary in he special arrangements which are in contemplation for the territories of Their H.H. the Soosoohonan and Sultan.
Art. 4
In the lands now given to the Price Paku Alam it shall be fully understood, that no new taxes shall be levied nor shall the present Revenue be in any manner increased or altered without the express consent of the British Government.
Art. 5
In consideration of the benefits conferred upon the Prince Paku Alam, he hereby stipulates, to support and maintain for the service of the British Government a Corps of One hundred Horse, under the terms and conditions specified in the following articles.
Art. 6
The Corps shall be armed and clothed by the British Government, in such manner as they may deem most expedient, the Prince on his part supplying horses, accoutrements and neccessaries.
Art. 7
The Prince Paku Alam stipulates and engages, that, besides the ordinary rations of rice, his Corps shall be paid at the following monthly rates : to a Sergeant 3 Sp. D, to a Corporal 2 ½ Sp. D, to a Private 2 Sp. D.
Art. 8
The Corps shall be regularly mustered by an Officer of the British Government, appointed for this purpose, and no individual, of which it consist, shall be discharged en any account without the express permission of the said Government.
Art. 9
Finally, it shall be fully understood, that except the Corps now alluded to, neither the Prince Paku Alam or any of his family shall directly, on any account, maintain any other species of military force or establishment.
The proposed Engagement is approved and sanctioned.
Batavia, 17 March 1813.
By order of the Hon. Lieutt-Governor,
(Signed) C. Assey, Secretary.
G. Serat Rawa Pening
1
Dhandhanggula
Serat Rawa Pening katon bening,
Hadeging Pura Paku Alaman,
Babad Paku Alaman winarni,
sinengkuyung Tuwan Raffles,
kondhang Jendral Gubernur,
Perjanjian Tuntang sayekti,
mapan ing Salatiga,
Perenging Merbabu,
Pangeran Natakusuma,
Winisuda minangka Gusti Dipati,
Jeng Arya Paku Alam.
Sengkut wadya Karang Kemuning,
Mbata rubuh sorak mawurahan,
Pacak baris suka rame,
Mila sami amunjuk,
Syukur marang Hyang Maha Widi,
Praja Paku Alaman,
Pasir Urut Sewu,
mbangun raharjaning Pura,
Abdi dalem sepuh anom kakung putri
Adikarta kuncara.
2.
Pangkur
Pangeran Natakusuma,
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati,
Arya Paku Alam tuhu,
Lenggah dhampar kencana,
Pura Agung Paku Alaman kang luhung,
Pangayoman pra nayaka,
Sentana kawula dasih.
Manut perjanjian Tuntang,
tapak asma tepining rawa Pening,
Sisih ler gunung Merbabu,
Perenging Telamaya,
Wulan Maret tanggal pitulas kasebut,
sewu sangang tus telulas,
ing praja Karang Kemuning.
3.
Pucung
Pura agung Paku Alaman ngrembuyung,
Ngejayeng bawana,
Gagah jumangkah makarti,
Tlatah Tuntang perjanjian ing Semarang,
Wusnya rampung Paku Alam kang linuhung,
Sri Natakusuma,
Tuwan Raffles mandhegani,
Yasa praja kang sinebut Adikarta.
4.
Mas Kumambang
Para narapraja ing sakjroning puri,
Pangeran Natakusuma,
Sigra kersa andhawuhi,
Nindakake kewajiban.
Wus kasusra saindhenging jagad iki,
Nama perjanjian Tuntang,
Gusti Kanjeng Adipati,
Paku alam kawisuda
5.
Kinanthi
Babad Pasir Urut Sewu,
katelah Karang Kemuning
Pangeran Natakusuma,
Jumeneng dadya Dipati,
Paku Alam kang sepisan,
Sesambetan bangsa Inggris.
Tlatah Tuntang nyata arum,
Cikal bakal tandha yekti,
Tumrap wangsa Adikarta,
Setya tuhu darma bekti,
Sempuluring kawibawan,
mrih bagya mulya lestari.
Salatiga merupakan kota penting dalam lintasan peradaban Mataram. Kota mediasi, diplomasi, administrasi dan lierasi yang dicatat sejarah. Peran dan insan Salatiga menyatu dalam lingkungan alam.
Jumat Kliwon, 27 Pebruari 2026.
Purwadi

Komentar
Posting Komentar