BABAD WONOSOBO

 BABAD WONOSOBO



Purwadi, 

Ketua Lokantara


A. Wedharan Ki Ageng Wonososobo


Pada tanggal 9 Pebruari 2026 diadakan acara budaya. Bertempat di pawiyatan kabupaten Wonosobo. Para budayawan dan dwijatama berkenan hadir. Rembug seni edi peni, budaya adi luhung. 


Ajaran Ki Ageng Wonosobo penuh dengan keluhuran. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Nasihat ini perlu dicamkan oleh setiap orang. Jangan sampai congkak setelah jadi orang besar. Harus ingat asal usul. Orang tirakat sungguh tajam mata batinnya. 

Usaha untuk mewujudkan kesejahteraan yang sempurna dilakukan oleh Ki Ageng Wonososobo dengan menjalankan meditasidi Gunung Sindoro. Harapannya agar masyarakat di lingkungan kabupaten Wonosobo mendapatkan kawibawan, kawidadan, kabagyan dan kamulyan awal akhir lahir batin.


Gunung Sindoro letaknya meliputi daerah kabupaten Wonosobo dan Temanggung. Berdiri kokoh bersebelahan dengan gunung Sumbing. Keduanya dari kejauhan tampak megah, gagah, indah, segar seperti layaknya gunung kembar. 


Dalam sejarahnya gunung Sindoro menjadi tempat bertapa Ki Ageng Wonosobo. Beliau merupakan sesepuh yang masih keturunan  kerajaan Majapahit. Gunung Sindoro dengan ketinggian 3155 m ini  terdapat  puncak Wanatirta yang wingit linuwih. Di sinilah Ki Ageng Wonosobo mahas ing ngasepi, anelasak wana wasa, turun ing jurang terbis. 


Upacara wilujengan yang dilakukan Ki Ageng Wonosobo bertujuan untuk memperoleh keselamatan, kedamaian dan ketentraman jagat raya. Ki Ageng Wonosobo beserta pendhereknya memberi sesaji dan uba rampe di kawah Sindoro. Tempatnya di desa Katekan, Ngadirejo. Sesaji ini dipersembahkan kepada arwah para leluhur.


Hutan Rasamala merupakan pohon besar yang berada di lereng gunung Sindoro. Misalnya pohon Walitis yang berada di Jetis Sela Panjang. Dulunya pohon Walitis ditanam oleh Ki Ageng Wonosobo. Pohon Walitis ini tingginya 30 m dengan garis tengah 8 m. Penanaman pohon Walitis oleh Ki Ageng Wonosobo ini bersama dengan Ki Ageng Makukuhan.


Ki Ageng Wonosobo adalah tokoh yang sakti mandraguna, kebak ngelmu sipating kawruh, putus ing reh saniskara. Kedudukan beliau dalam sejarah kabupaten Wonosobo sangat penting. 


Cikal bakal bibit kawit keberadaan daerah Wonosobo tak lepas dari jasa baik keturunan karaton Majapahit. Mereka adalah trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhak andana warih.


Kabupaten Wonosobo sesungguhnya merupakan penerus kejayaan kraton Majapahit. Dalam lintasan sejarah kerajaan Majapahit adalah negeri yang besar, makmur, aman, damai, sejahtera lahir batin. Rajanya bernama Prabu Brawijaya V 1448-1478. Beliau adalah narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta. 


Prabu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandan Kuning. Beliau putri Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Ketua panitia pernikahan dijabat oleh Raden Depok. Beliau pejabat kraton Pajajaran yang punya koneksi luas. 


Sedangkan walimatul ursy atau nasihat perkawinan dilakukan oleh Syekh Aling Achmad Magribi. Beliau ulama kerajaan Pajajaran yang masih punya hubungan geneologi dengan Husain bin Ali bin Abu Thalib. 


Dari pernikahan ini lahir Raden Bondan Kejawan atau Lembu Peteng. Sejak kecil Raden Bondan Kejawan diasuh oleh Syekh Mutahar Al Mukmin. Setelah dewasa Raden Bondan Kejawan dijodohkan dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub.


Pernikahan Raden Bondan Kejawan dengan Dewi Nawangsih disertai dengan upacara midodareni. Ki Ageng Tarub memasang bleketepe, tuwuhan, cengkir gadhing, pari saagem dan tebu wulung. 


Ini asal mula adat pernikahan Jawa. Mas kawin atau mahar diberikan dalam bentuk pusaka gong Kyai Sekar Delima dan Tombak Kyai Plered. Dari pernikahan Raden Bondan Kejawan dengan Dewi Nawangsih ini lahir tiga putra, yaitu Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pendawa dan Nyi Ageng Ngerang.


Sebetulnya Ki Ageng Tarub merupakan anak dari Syekh Magribi. Ibunya adalah Dewi Rasawulan, putri Bupati Wilwatikta Tuban. Dengan demikian Ki Ageng Wonosobo itu cucu langsung Ki Ageng Tarub. Leluhur Ki Ageng Wonosobo termasuk pembesar kadipaten Tuban. 


Ki Ageng Tarub, dari jalur bapak, Ki Ageng Wonosobo cucu langsung raja Majapahit, Sinuwun Prabu Brawijaya V. Jadi Ki Ageng Wonosobo masih trahing kusuma rembese madu. Keturunan Raden Bondan Kejawan atau Lembu Peteng menjadi orang penting dalam sejarah Jawa. 


Tiga bersaudara selalu berperan dalam perjuangan kraton Demak Bintara, Pajang, dan Mataram. Keturunan Ki Ageng Wonosobo yang menonjol ditunjukkan oleh Ki Ageng Juru Martani. 


Keturunan Ki Ageng Getas Pendawa diperankan oleh Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis dan Ki Ageng Pemanahan. Sedang-kan Ki Ageng Ngerang diwakili oleh Ki Ageng Penjawi. Tokoh-tokoh itu namanya harum dalam silsilah Kerajaan Jawa. 


Nama kecil Ki Ageng Wonosobo adalah Syekh Ngab-dullah Al Akbar. Beliau tekun belajar, rajin tirakat. Suka menjalankan laku prihatin, lara lapa tapa brata. Pada malam Senin Wage selalu tapa kungkum dan tapa ngeli di Sungai Lusi Purwodadi. 


Kadang- kadang anelasak wanawasa, tumurun ing jurang terbis di gunung Kendheng Pati. Sekali tempo bertapa di Gunung Danaraja pada tahun 1485. Berkat lelakunya itu Ki Ageng Wonosobo atau Syekh Ngabdullah Al Akbar menjadi priyagung yang sakti mandraguna. Ditombak mendat, jinara menter.


Tibalah saatnya Ki Ageng Wonosobo menikah dengan Dyah Plobowangi, putri Demang Selomerto. Kediaman Dyah Plobowangi ini terkenal dengan sebutan Plobangan Selomerto. Alangkah bahagianya Ki Demang Selomerto. 


Putri tunggalnya disunting oleh priyagung yang punya derajat keturunan tinggi. Bobot bibit bebet sungguh mengagumkan. Nama Tarub, Tuban dan Majapahit tersohor di tingkat internasional. Ki Demang Selomerto merasa mendapat durian runtuh, kebanjiran segara madu, kejugrugan gunun sari.


Demang Selomerto merasa sudah lanjut usia. Pada tahun 1487 menyerahkan harta benda kepada Dyah Plobowangi. Perkebunan teh disepanjang lereng gunung Dieng berhasil memuaskan. Perkebunan tembakau di kaki gunung Sundara Sumbing menghasilkan untung yang besar. Peternakan sapi di sekitar aliran kali Serayu berkembang baik dan rapi. 


Warisan Demang Selomerto ini otomatis diberikan oleh Dyah Plobowangi. Aneka ragam perusahaan ini menyerap tenaga kerja. Masyarakat turut menikmati. Ditambah lagi sifat ramah Ki Ageng Wonosobo.


Beliau terkenal sebagai pendidik. Padepokan yang berdiri di daerah Plobangan Selomerto didatangi siswa dari segala pelosok Nusantara. Genap tiga tahun lamanya peguron Plobangan Selomerto telah berhasil mendirikan gedung dan fasilitas belajar mengajar yang memadai.


Atas usul Ki Demang Selomerto, daerah yang selama ini dipimpin dinamakan Wonosobo. Berarti darma bakti dan perjuangan Ki Ageng Wonosobo sangat didukung oleh mertua dan istrinya. Kademangan Wonosobo makin maju. 


Suatu saat Kanjeng Sultan Syah Alam Patah Jimbun Sirullah I atau Raden Patah, raja Demak Bintara hadir di Kademangan Wonosobo. Melihat kemajuan dan kemakmuran, raja Demak Bintara ini amat senang. Dengan resmi Kademangan Wonosobo pada tanggal 25 Mei 1489 ditetapkan menjadi Kabupaten Wonosobo.


Begitulah berdirinya kabupaten Wonosobo yang mendapat dukungan luas. Seluruh rakyat bergembira ria. Keluarga besar Demang Selomerto siap sedia untuk memberi bantuan harta benda. Dyah Plobowangi menjadi istri yang setia. 


Status Kabupaten Wonosobo waktu itu masih dalam pembinaan kerajaan Demak Bintara. Wajar sekali pendirian daerah pemekaran harus diampu oleh kekuasaan induk. Posisi itu tetap berlangsung setelah bergesernya kekuasaan dari Demak, Pajang, Mataram dan Kraton Surakarta Hadiningrat. 


Jasmerah, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Sesanti luhur ini sangat dihayati oleh masyarakat kabupaten Wonosobo. Perjuangan Ki Ageng Wonosobo dijadikan semangat untuk melakukan pembangunan di era sekarang dan dipakai untuk menerawang kehidupan masa mendatang.


B. Ki Ageng Wonosobo Mesu Budi di Alas Rasamala 


Daya linuwih yang diperoleh Ki Ageng Wonosobo berkat meditasi spiritual yang dilakukan di Alas Rasamala. Ki Ageng Wonosobo memang priyagung yang menguasai unggah-ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa. Alas Rasamala ini memiliki pohon warisitis yang tak mempan oleh kobaran api.


Sinom


Anelasak wana wasa

tumurune jurang terbis

kang ri bandhil bebondhotan

ginubet penjalin cacing

wauta sang apekik

gumregut sangsaya sengkut

sayekti datan nyipta

pringga banyuning wanadri

apan nyata satria trah witaradya.


Sinom ini memberi gambaran tentang tekad satria utama yang gigih berjuang. Dia tidak takut oleh mara bahaya ditengah hutan. Ajaran kebaikan selalu dijunjung tinggi. Alas Rasamala yang digunakan sebagai tempat meditasi Ki Ageng Wonosobo terkenal sebagai wana gung liwang-liwung, gawat kaliwat-liwat, angker kepati-pati.


Tokoh Ki Ageng Wonosobo dalam masyarakat terkenal sebagai pribadi yang ramah tamah, luhur ing budi, sopan santun. Dalam kehidupan sehari-hari beliau berusaha untuk amemangun karyenak tyasing sesama. Tak mengherankan bila tua muda, pria wanita menaruh rasa hormat.


Sumbangan Ki Ageng Wonosobo kepada Kerajaan Demak Bintara besar sekali. Setiap kali pisowanan agung di Pendopo kraton Demak Bintara, Ki Ageng Wonosobo kebagian membawa teh. Upacara Grebeg Maulud, Grebeg Syawal dan Grebeg Besar memerlukan makanan dan minuman dalam jumlah besar. 


Konsumsi minuman menjadi jatah Wonosobo. Lauk pauk dan bumbu menjadi tugas Demang Lasem Rembang. Beras ketan dipasok oleh Bupati Pengging. Semangat Wonosobo ini mendapat pujian dari Kanjeng Sunan Kalijaga, Guru Suci ing Tanah Jawi. Ki Ageng Wonosobo termasuk murid kinasih Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu.


Pembangunan Masjid Agung Demak Bintara tahun 1492 juga mendapat sumbangan dari Ki Ageng Wonosobo. Lewat keuangan sang istri, Dyah Plobowangi, beliau membeli kayu jati dari Cepu. Juru ukir dari Jepara didatangkan. Marmer dari Tulungagung pun diborong. Semua dengan kualitas terbaik. Biaya transportasi dan akomodasi ditanggung oleh Dyah Plobowangi. 


Tentu saja Sultan Demak Bintara menjadi semakin dekat. Bahkan Ki Ageng Wonosobo tak segan-segan menyumbang lembaga pendidikan yang dikelola Dewan Wali Sanga. Beliau adalah Sunan Ampel, Sunan Giri I, Sunan Murya, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Mojoagung dan Sunan Kalijaga. Dengan selamat sentosa Ki Ageng Wonosobo dan Dyah Plobowangi berhasil membina rumah tangga. Tuhan memberi anugerah putra putri yang unggul. 


Masyarakat menyebut Syekh Ngabdullah Al Akbar dengan gelar Ki Ageng Wonosobo I. Beliau memerintah tahun 1489-1529. Kemudian dilanjutkan Ki Ageng Wonosobo II tahun 1529-1540. Lalu Ki Ageng Wonosobo III tahun 1540-1582. Ki Ageng Wonosobo III memiliki putra putri hasil pernikahan dengan Rara Janten. Keempat putranya yaitu Nyai Ageng Lawih, Nyai Ageng Manggar, Ki Ageng Juru Martani dan Nyai Ageng Sabinah. Putri sulungnya Nyai Ageng Lawih menikah dengan Arya Pangiri, Bupati Glagahwangi. Nyai Ageng Manggar menikah dengan Ki Ageng Giring. Juru Martani menjadi penasihat utama kerajaan Mataram. Nyi Ageng Sabinah menikah dengan Ki Ageng Pemanahan.


Pada periode ini keturunan Ki Ageng Wonosobo menda-pat kesempatan emas dalam pentas kesejarahan. Masing-masing berperan aktif dan memberi sumbangan tenaga, pikiran, harta, benda. Nyai Ageng Lawih yang menjadi istri Bupati Glagahwangi memiliki usaha pelayaran. Beliau wanita karier yang kaya raya. Perusahaannya bermarkas di Banyumanik Semarang. 


Perdagangan ekspor impor mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Beliau memberi biaya belajar kepada pemuda Wonosobo. Mereka dikirim ke Kasultanan Samudra Pasai untuk belajar ilmu maritim tahun 1562. Setelah lulus mendapat pekerjaan di pelabuhan Tanjung Emas. 


Berbeda dengan kakaknya, Nyi Ageng Manggar menjadi istri Ki Ageng Giring. Beliau memiliki usaha agrobis di sepanjang Kali Serayu. Perusahaannya khusus dalam bidang budi daya kelapa. Mulai dari bumbu masak, minyak goreng dan kerajinan sapu lidi serta kesed. Nyi Ageng Manggar orang terpandang. Tetapi Ki Ageng Giring lebih tertarik pada dunia spiritual. Beliau kerap tapa ngidang dan tapa ngrame. Maka Ki Ageng Giring ter-masuk jalma limpat seprapat tamat, waskitha ngerti sakdurunge winarah.


Berkat usahanya itu Ki Ageng Pemanahan mendapat wahyu keprabon dengan minum degan klapa ijo. Nak tumanak run tumurun menjadi raja tanah Jawa. Ki Ageng Juru Martani berjasa pada kerajaan Pajang. Peperangan dengan Arya Penang-sang harus dengan strategi yang jitu. Atas usul Ki Ageng Juru Martani, Danang Sutawijaya unggul dalam pertempuran. 


Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir berkenan memberi dua pusaka sakti, yaitu gong Kyai Sekar Delima dan Tombak Kyai Plered. Gong Sekar Delima bila ditabuh akan menyebabkan seseorang menjadi sehat, kuat dan bersemangat. Tombak Kyai Plered ampuhnya bukan main. 


Ujung tombak Kyai Plered adalah zat kimia beracun. Terkena tusukan tombak Kyai Plered sulit disembuhkan. Maklum dua pusaka itu warisan Prabu Brawijaya V, raja Majapahit. Putra Wonosobo yang diwakili Ki Juru Martani menunjukkan orang pintar dan berwibawa.


Kini Rara Sabinah yang diambil istri Ki Ageng Pemanah-an. Beliau adalah wanita yang gentur tapane mateng semedine. Dari rahim guwa garbanya itu lahir Danang Sutawijaya atau Ngabehi Loring Pasar. Kelak menjadi raja Mataram pertama, Kanjeng Panembahan Senopati ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panetep Panatagama. 


Dengan begitu kerajaan Mataram didirikan oleh keturunan langsung Ki Ageng Wonosobo. Rara Sabinah menjadi ketua protokol istana kerajaan Pajang. Beliau yang mengatur jadwal agenda kerja Sultan Hadiwijaya. Hubung-an Rara Sabinah dengan Raja Pajang begitu dekat. Kedekatan ini berguna untuk membimbing Panembahan Senopati saat memimpin Mataram tahun 1584-1601.


Peran keturunan Wonosobo di kerajaan Mataram pasca Panembahan Senopati tetap dominan Prabu Hadi Hanyokrowati memerintah tahun 1601-1613. Putra Ki Ageng Juru Martani berperan sebagai Perdana Menteri Mataram. Namanya Patih Mandaraka. Demi menduduki jabatan penting, Patih Mandaraka pernah belajar di kota Tamasek Singapura tahun 1605.


 Beliau belajar sistem maritim, manajemen pelayaran, diplomasi inter-nasional, dan kesusasteraan Melayu. Studi banding ini dilakukan untuk mengetahui kultur Melayu yang berjumlah besar di kawasan Nusantara. Kegiatan ini diikuti oleh para generasi muda di Wonosobo. Mereka utusan dari Kabupaten Wonosobo yang direlokasi ketat. Tenaga trampil, dilatih dan dididik di kancah internasional.


Perjuangan leluhur kabupaten Wonosobo pantas men-jadi tepa palupi bagi generasi muda. Kawidadan, kawibawan, kamulyan lan karaharjan diwariskan turun temurun. Kejayaan, kemakmuran dan keemasan Kabupaten Wonosobo terus dilaku-kan oleh para pemimpin dan rakyat. Itulah konsep manunggaling kawula Gusti. 


Oleh karena itu sudah sepantasnya apabila masyarakat Wonosobo yag terada di sekitar gunung Sindoro menjai9dkan Ki Ageng Wonosobo sebagai panutan agung. Warisan spiritual Ki Ageng Wonosobo diuri-uri murih lestari.  


C.  Warisan Spiritual Ki Ageng Wonosobo


Dalam kehiduan sehari-hari Ki Ageng Wonosobo mengajarkan kehidupan yang penuh dengan kesahajaan, keteladanan, dan keutaman. Ajaran luhur ini dihayati oleh generasi berikutnya. 


Kinanthi 


Padha gulangen ing kalbu, 

ing sasmita amrih lantip, 

aja pijer mangan nendra, 

kaprawiran den-kaesthi, 

pesunen sariranira 

cegah dhahar lawan guling.


Dadiya lakunireku, 

cegah dhahar lawan guling, 

lan aja kasukan-sukan, 

anganggowa sawatawis, 

nora wurung ngajak-ajak, 

satemah nular ing batin.


Para pemimpin kabupaten wonosobo memberi apresiasi yang besar atas sikap yang bijaksana. Misalnya para bupati yang memimpin Wonosobo dengan menjunjung tinggi wulangan, wejangan, wedharan luhur. 


1. Tumenggung Adipati Wonosobo I, 1489-1529. Dilantik pada jaman kerajaan Demak Bintara. Rajanya Raden Patah. 


2. Tumenggung Adipati Wonosobo II, 1529-1540. Dilantik pada jaman kerajaan Demak Bintara. Rajanya Adipati Unus. 


3. Tumenggung Adipati Wonosobo III, 1540-1582. Dilantik pada jaman kerajaan Demak Bintara. Rajanya Sultan Trenggono. 


4. Tumenggung Adipati Wonosobo IV, 1582-1507. Dilantik pada jaman kerajaan Pajang. Rajanya Sultan Hadiwijaya. 


5. Tumenggung Adipati Monconagoro I, 1607-1647. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Prabu Hadi Hanyakwati. 


6. Tumenggung Adipati Monconagoro II, 1647-1670. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Amangkurat Tegal Arum. 


7. Tumenggung Adipati Monconagoro III, 1670-1699. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Amangkurat Tegal Arum. 


8. Tumenggung Adipati Monconagoro IV, 1699-1712. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Amangkurat Amral. 


9. Tumenggung Adipati Monconagoro V, 1712-1728. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Paku Buwana I. 


10. Tumenggung Adipati Wonokusumo I, 1728-1750. Dilantik pada jaman kerajaan Mataram. Rajanya Paku Buwana II. 


11. Tumenggung Adipati Wonokusumo II, 1750-1790. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana III. 


12. Tumenggung Adipati Wonokusumo III, 1790-1821. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana IV. 


13. Tumenggung Adipati Wonokusumo IV, 1821-1825. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana V. 


14. Tumenggung Adipati Setjonagoro 1825-1832. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana VI. 


15. Tumenggung Adipati R Mangunkusumo 1832-1857. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana VII. 


16. Tumenggung Adipati R Kertonegoro 1857-1863. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana VII. 


17. Tumenggung Adipati Tjokroadisoerjo 1863-1869. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana IX. 


18. Tumenggung Adipati Suryohadikusuma, 1889-1898. Dilan-tik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana IX. 


19. Tumenggung Adipati R Suryohadinagoro, 1898-1919. Dilan-tik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana X. 


20. Tumenggung Adipati RA Sosrohadiprojo, 1919–1944. Dilan-tik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana X. 


21. Tumenggung Adipati Singgih Hadipuro, 1944-1946. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta. Rajanya Paku Buwana XI. Patihnya RMAA Sosrodiningrat yang menjadi anggota BPUPKI. 


22. R Soemindro, 1946-1950. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno. 


23. R Kadri, 1950-1954. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno. 


24. R Omar Soerjokoesoemo, 1954-1955. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno. 


25. R Sangidi Hadisoetirto, 1955-1957. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno. 


26. Rapingoen Wimbohadi Sedjono, 1957-1959. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno. 


27. R Wibowo Helly, 1960-1967. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno. 


28. Drs. Darodjat AWS, 1967-1974. Dilantik pada jaman Presiden Soekarno. 


29. R Mardjaban 1974-1975. Dilantik pada jaman Presiden Soeharto. 


30. Drs. Soekamto 1975-1985. Dilantik pada jaman Presiden Soeharto. 


31. Drs. Poedjihardjo 1985-1990. Dilantik pada jaman Presiden Soeharto. 


32. Drs. H Soemadi 1990-1995. Dilantik pada jaman Presiden Soeharto. 


33. Drs. H Margono 1995-2000. Dilantik pada jaman Presiden Soeharto. 


34. Drs. Trimawan Nugrohadi, 2000-2005. Dilantik pada jaman Presiden Abudurrahman Wahid. 


35. Drs. H. Abdul Khaliq Arif, 2005-2015. Dilantik jaman Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. 


36. Eko Purnomo SE MM menjabat sejak tahun 2016. Dilantik jaman Presiden Joko Widodo. 


Kabupaten Wonosobo cukup membanggakan. Rakyatnya ramah tamah, murah hati dan guyub rukun. Gunung Sindoro Gunung Sumbing memberi pengayoman wilayah bagian timur. Dua gunung kembar ini ibarat Nakula Sadewa. Bagian utara berhias Gunung Dieng atau Hadining Hyang, merupakan lambang anugerah alam. Daerah Wonosobo selatan kinclong kinclong banyune waduk Wadas Lintang. Dari Wonosobo berhulu kali Serayu.


Anjajah desa milangkori

Kala mangsane pariwisata. 

Hla endahe bumi nusantara. 

Ingkang adi luhung

Alas lan gunung gunung. 


Ajaran Ki Ageng Wonosobo penuh dengan keluhuran. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Nasihat ini perlu dicamkan oleh setiap orang. Jangan sampai congkak setelah jadi orang besar. Harus ingat asal usul. Orang tirakat sungguh tajam mata batinnya. 


Usaha untuk mewujudkan kesejahteraan yang sempurna dilakukan oleh Ki Ageng Wonososobo dengan menjalankan meditasidi Gunung Sindoro. Harapannya agar masyarakat di lingkungan kabupaten Wonosobo mendapatkan kawibawan, kawidadan, kabagyan dan kamulyan awal akhir lahir batin.


Adityo Jatmiko adalah pewaris ajaran Ki Ageng Wonosobo. Pada tanggal 17 Agustus 2020 mendaki di puncak gunung Sindoro. Adityo Jatmiko berasal dari perumnas Jl Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta menjalankan lelaku. Demi masa depan yang lebih gemilang.


Kabupaten Wonosobo punya sejarah panjang. Berhubungan langsung dengan Kraton Mataram Surakarta. Budaya Jawa makin mencar arum kuncara. 



Senin, 9 Pebruari 2026.

Purwadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Babad GKR WANDANSARI

Kidung Idul Fitri

Adipati Dayaningrat Pengging Sepuh