TRADISI JAWA UNTUK MERAIH KETENANGAN JIWA
TRADISI JAWA UNTUK MERAIH KETENANGAN JIWA
Purwadi,
Universitas Negeri Yogyakarta
Abstrak
Artikel ini berusaha menjelaskan pelaksanaan tradisi Jawa yang berguna untuk meraih ketenangan jiwa. Metode hermeneutik digunakan untuk menganalisis data. Landasan teori dengan pendekatan filsafat budaya. Hasil pembahasan bertujuan untuk mengungkapkan jenis jenis tradisi Jawa. Lantas dianalisis agar butir butir kearifan lokal dalam tradisi Jawa sebagai tuntunan hidup. Dalam rangka hidup berbangsa dan bernegara hasil pembahasan ini sedapat dapatnya memberi sumbangan demi pembinaan nasionalisme. Bagi generasi muda hasil pembahasan ini merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas budi pekerti luhur.
Kata kunci: Tradisi, Jawa, jiwa.
A. Pengantar
Masyarakat Jawa melakukan upacara tradisional demi mendapat keselamatan. Tradisi Jawa berlangsung turun temurun. Misalnya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Pancurendhang Ajibarang Banyumas. Mereka terikat dengan tradisi yang dilakukan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Ketenangan jiwa bisa diraih dengan menjalankan ritual adat. Menurut Damardjati Supadjar (2001) tradisi merupakan sarana untuk melakukan mawas diri.
Tradisi wilujengan itu diteruskan oleh Raja Mataram berikutnya. Pada tahun 1732 Tumenggung Yudanagara menulis Babad Sala. Bupati Banyumas ini dipercaya oleh Sinuwun Paku Buwana II sebagai kepala arsip, dokumentasi dan publikasi Kraton Kartasura. Bupati Yudanagara pernah belajar jurnalistik di Cambridge Inggris. Ketrampilan dan kemahiran Bupati Yudanagara diakui oleh pemerintah Kerajaan Mataram. Keluarga kerajaan Mataram masih melanjutkan tradisi warisan leluhur. Adat istiadat tetap dilestarikan demi keseimbangan hidup.
Moral Pancasila menurut Endang Daruni (2004) perlu diajarkan kepada generasi muda. Tradisi merupakan bentuk pengamalan Pancasila. Bagi warga masyarakat Jawa masa kini, tradisi itu sebagai tuntunan hidup. Butir butir kebajikan tradisional berguna untuk menganyam peradaban dunia. Generasi penerus selalu menjaga tradisi yang mengutamakan keselarasan sosial. Kebudayaan Jawa yang bersifat simbolik terdapat dalam upacara tradisional.
B.
Metode dan Landasan Teori
Penggunaan metode untuk memperlancar jalannya pembahasan. Landasan teori digunakan untuk mempertajam pembahasan data. Analisis budaya digunakan sebagai metode untuk mengulas data. Dengan metode analisis budaya tradisi Jawa dijelaskan demi memperoleh kebaikan. Tentang kebaikan itu berhubungan dengan usaha untuk menata kehidupan masyarakat. Sumaryono (2001) menjelaskan metode hermeneutik untuk menganalisis fenomena budaya.
Filsafat budaya sebagai landasan teori merupakan pilihan yang tepat. Kebudayaan Jawa berusia panjang. Peradaban Jawa terwariskan secara lisan dan tertulis. Analisis budaya didukung oleh literasi yang memadai. Adanya literasi Jawa klasik yang ditulis oleh para pujangga meyakinkan keberadaan adat istiadat. Kegiatan budaya dengan demikian berlanjut terus. Abdullah Ciptoprawiro (1986) menjelaskan permikiran kefilsafatan orang Jawa yang sangat menghormati adat istiadat warisan leluhur.
Dengan menggunakan metode dan landasan teori itu dilakukan pembahasan. Maka hasil pembahasan itu diharapkan dapat memberi kegunaan. Terutama dalam menggali nilai kearifan lokal. Dari hasil penggalian kearifan lokal ini diharapkan ada kontribusi buat mewujudkan suasana yang lebih kondusif. Budaya Jawa bisa memberi peran yang berarti bagi kedamaian.
C.
Hasil Pembahasan
Adat istiadat Jawa kaya akan makna simbolik. Bahasa lambang lewat upacara adat perlu dipahami. Hasil pembahasan data budaya berdasarkan metode dan landasan teori. Maka tiap tiap melakukan kegiatan adat orang Jawa selalu bercermin pada paugeran. Bentuk paugeran tradisi Jawa pada umumnya diwariskan secara lisan. Tradisi lisan cocok untuk sosialisasi nilai pada masyarakat agraris. Koentjaraningrat (1984) dengan jelas memasukkan religi sebagai unsur kebudayaan.
Lahir dewasa mati merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia. Proses kelahiran diawali dengan pertemuan pria wanita. Maka peran lembaga perkawinan sangat penting. Orang Jawa menyebut duwe gawe. Artinya sedang punya hajad. Kegiatan tradisi yang menyerap banyak pikiran tenaga waktu dan dana.
Hidup manusia dewasa berwarna warni. Upacara tradisional memerlukan biaya yang banyak. Usaha apa saja demi keberhasilan. Prosesi adat berlangsung sampai ajal menjemput. Upacara kematian pun harus ada. Telung dina, pitung dina, patang puluh dina, nyatus dina dan nyewu dina dilakukan dengan ritual yang serius. Tentu bertujuan untuk mendapatkan suasana hati yang tenteram aman damai.
1.
Prosesi Upacara Adat
Upacara tradisional yang dilakukan dalam lingkup istana tentu melibatkan banyak pihak. Untuk itu perlu peran dari tokoh. Misalnya
Laporan dari Bupati Yudanagara bahwa tabungan Kraton Mataram berlimpah ruah. Batangan emas disimpan di bank Solo Swiss. Harga emas itu sejumlah 10.000 trilyun rupiah. Devisa Mataram Kartasura itu mesti digunakan untuk pembangunan di segala bidang. Agar berhasil keluarga istana melakukan upacara ritual sesuai dengan tradisi yang berlangsung turun temurun.
Bentuk upacara tradisional istana nyata sekali pada masa Kraton Mataram yang masih beribukota di Kartasura. Sunan Paku Buwana II dan Patih Pringgalaya segera mengadakan rapat. Turut hadir Tumenggung Hanggawangsa dari Kadipaten Panjer atau Kebumen. Pangeran Kadilangu dari Demak Bintara. Pangeran Wijil dari Kabupaten Tuban. Adipati Padmanagara dari Kabupaten Pekalongan. Kyai Yasadipura dari Pengging Boyolali. Acara ritual dilakukan demi keselamatan. Soetrisno (2004) menjelaskan ritual tradisi yang terdapat dalam seni pakeliran.
Rapat kenegaraan yang diawali dengan ritual wilujengan telah menghasilkan keputusan penting. Ibukota negara Mataram atau IKM perlu pindah ke daerah Sala. Panitia pembangunan UKM segera dibentuk. Badan Perancang Pambangunan Kraton atau BAPEKRA berkantor di kota Ponorogo. Bupati Ponorogo, Tumenggung Martanagara menjadi kordinator konsep pembangunan. Kajian dilakukan Bupati Martanagara Ponorogo hingga tahun 1738. Tanda sukur lantas menyelenggarakan upacara wilujengan.
Jenang sungsum merupakan tanda acara selesai dengan selamat. Kegiatan selanjutnya adalah tindak lanjut hasil rapat. Maka panitia dibentuk dengan rinci. Seksi dana dipegang oleh Adipati Purbaya Bupati Lamongan. Maklum mertua Paku Buwana II dan ayah Ratu Mas ini pengusaha kayu, minyak tanah dan pelayaran. Omset perusahaan Bupati Purbaya Lamongan lebih dari 20 ribu trilyun. Tiap acara mesti diawali dengan tata cara wilujengan.
Tokoh kenamaan adalah Ki Gedhe Sala. Pemilik tanah yang amat luas. Maka Ki Gedhe Sala menerima ganti untung 10 trilyun. Seluruh tanah Sala dibeli oleh Paku Buwana II untuk lokasi ibukota Karaton Surakarta. Kajian yang rinci membuat rencana kerja sangat rapi. Kedamaian kerukunan dan ketentraman merupakan tujuan upacara wilujengan yang dilakukan dalam tiap acara.
Hubungan antara tradisi dengan modernitas amat erat. Misalnya para teknolog Jawa yang mengawali kerja selalu menggunakan sesaji. Kontraktor pembangunan Kraton Surakarta diserahkan Tumenggung Hanggawangsa. Kelak setelah berhasil membangun ibukota Surakarta, Tumenggung Hanggawangsa diangkat oleh Paku Buwana sebagai bupati Panjer atau Kebumen. Bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Aumbinang yang berpusat di Kotawinangun. Tokoh kabupaten Panjer atau Kebumen ini begitu patuh pada prosesi ritual. Maka tokoh ini dikenal sakti mandraguna.
Sunan Kalijaga yang masih keturunan Bupati Wilwatikta Tuban peduli pada adat istiadat Jawa. Maka Pangeran Kadilangu bergerak dalam bidang spiritual keagamaan. Pangeran Wijil bertugas melakukan pengembangan. Adipati Padmanagara bertugas untuk membina birokrasi. Aura kepemimpinan birokrasi terpancar dari tradisi kejawen. Darsiti (2001) menjelaskan tata cara tradisi yang bersumber dari istana.
Dalam hal upacara adat telah dilakukan oleh Sunan Paku Buwana II atau Sinuwun Kombul. Oleh karena Kanjeng Sinuwun Paku Buwana II sukses gemilang. Pada tanggal 20 Pebruari 1745 secara resmi ibukota Mataram pindah ke Sala. Bernama Karaton Surakarta Hadiningrat. Tahun 1746 berdiri bank di kota Surakarta. Mataram semakin cerah gemilang. Kerja keras beriringan dengan ilmu laku. Yudi Latif (2025) menjelaskan arti penting warisan budaya yang sudah berkembang pada masa lampau. Kesadaran historis cocok untuk menganalisis tradisi Jawa. Nilai keluhuran itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari.
2.
Pelestarian Adat Istiadat Jawa
Generasi muda Jawa pada kegiatan budaya. Tradisi warisan leluhur perlu lestari. Dengan berbagai kegiatan generasi muda mengasah keterampilan dan menambah wawasan. Harapan untuk terus melakukan pelestarian ini patut untuk didukung oleh segenap lapisan masyarakat. Analisis Endang Daruni (2004) sangat tepat dalam rangka pembinaan jiwa kebangsaan. Ketenangan jiwa dipengaruhi oleh stabilitas negara.
Kunjungan komunitas budaya Banyumas Setu Kliwon, 3 Januari 2026. Hubungan Banyumas dan Kraton Surakarta diulas dengan jelas tegas tuntas. KP Budayaningrat sebagai pamong Sanggar Pambieara menjelaskan adat istiadat Kraton Surakarta Hadiningrat. Dengan berbusana batik dan iket blangkon, narasi budaya itu tersebar di kalangan anak muda. Turut memberi panduan adat Kraton Surakarta yakni Kanjeng Rawang dan Ndoro Srimulyo. Pemuda Kraton Surakarta ini aktif mengikuti jalannya pelestarian budaya. Yudi Latif (2025) menghormati karya jaman kerajaan masa silam.
Kegiatan adat itu dilanjutkan oleh Paku Buwana XIV di Masjid Laweyan. Kanjeng Sinuwun Paku Buwono XIV ing Masjid Laweyan melakukan upacara adat. Tata cara Jumatan ing Masji Agung Kraton Surakarta sampun ambal kaping pitu. Sinuwun Paku Buwono XIV nuli Jumatan ing Masjid Ki Ageng Enis Laweyan. Rikala dinten Jumat Wage, 2 Januari 2025 para abdi dalem lan sentana sami ndherek. Begitulah adat Jawa yang bisa akomodatif dalam kancah kehidupan yang penuh dinamika perubahan. Analisis Solichin dkk (2021) sungguh tepat untuk membuat deskripsi tentang seluk beluk tradisi.
Masjid Ki Ageng Enis Laweyan sering digunakan untuk ritual kebatinan. Coos kurmat dhateng para leluhur. Shalat Jumat ing Masjid Laweyan. Miturut serat babad bilih
Ki Ageng Enis putra Ki Ageng Sela. Wayah Ki Ageng Getas Pendhawa. Buyut Raden Bondan Kejawan. Wareng Sinuwun Prabu Brawijaya raja Majapahit. Tentu saja pendukung budaya ini merupakan bentuk dari pengaruh agama Islam Hindu Budha. Toleransi sudah berjalan dalam masyarakat adat tradisional.
Ilmu dan laku selalu menjadi perhatian keluarga Mataram. Maka bentuk arasilah saking Kadipaten Tuban perlu diketahui. Adipati Wilwatikta peputra Dewi Rasa Wulan. Peputra Ki Ageng Tarub. Peputra Nawangsih. Peputra Getas Pendhawa. Peputra Ki Ageng Sela. Peputra Ki Ageng Enis. Tokoh ini menjalankan ilmu laku panemu. Damardjati Supadjar (2001) mengulas mawas diri yang berhubungan dengan tradisi warisan nenek moyang.
Lingkungan Laweyan cocok untuk kegiatan para peenghayat kejawen. Lajer Ki Ageng Enis peputra Ki Ageng Pemanahan. Peputra Panembahan Senapati raja Mataram. Lajeng nurunaken raja ing Karaton Surakarta Hadiningrat. Kanjeng Sinuwun Paku Buwono XIV caos kurmat dhateng para leluhur. Penghayat kejawen melestarikan tradisi ritual. Andi Harsono (2005) menekankan arti penting sastra piwulang untuk melestarikan tradisi Jawa pada masa mendatang.
Aspek kematian juga menjadi cara pelestarian tradisi.
Peringatan mendhak wayah dalem dilakukan oleh keluarga Kraton Surakarta. Upacara wilujeng untuk peringatan wafat wayah dalem KRMH Aditya Soeryo Harbanu SH. Beliau adalah putra GKR Retno Dumilah. Punya garwa bernama R Ay Rika Wiyandari. Diselenggarakan pada hari Setu Wage, 3 Januari 2026. Bertempat di dalem Kayonan kompleks Kraton Surakarta. Suasana begitu khusuk dan hikmat dalam lingkungan kejawen. Endang Daruni (2004) mengambil tradisi Jawa sebagai bahan pengamalan Pancasila.
Abdi dalem ulama berbusana beskap putih. Pakai blangkon, bebedan jarik motif wahyu tumurun. Kalung samir warna merah kuning. Dada sebelah kiri disematkan bross radya laksana. Stagen sabuk epek timang dengan kelengkapan pusaka keris. Duduk bersila sambil membaca tahlil tahmid takbir tasbeh. Abdi dalem lain berbusana batik dengan menyertai doa bersama. Mereka dengan duduk lesehan di atas tikar. Darsiti (2001) mengulas kehidupan istana yang kaya tradisi adi luhung.
Ubarampe sesaji tertata rapi. Sepasang lilin nyala kerlap kerlip. Lampu dalem kayonan menyala. Suasana tambah agung anggun. Foto KRMH Aditya Soeryo Harbanu SH terpampang. Terdapat pula foto Sinuwun Paku Buwana XII, Kanjeng Ratu Ageng dan GKR Retno Dumilah. Tuan rumah GKR Ayu Koes Indriyah. Foto foto klasik terpampang anggun. Memancarkan aura bangsawan.
Perpaduan agama dan budaya menyertai upacara adat Kraton Surakarta. Doa menggunakan bahasa Arab. Lirik irama memakai seni Jawa. Tradisi itu berlangsung berabad abad. Turun temurun beranak pinak diwariskan terus menerus. Kebudayaan yang bersumber dari Kraton Surakarta layak untuk dilestarikan. Pelestarian budaya menjadi tugas utama bagi pemerintah dan masyarakat. Ulasan Solichin dkk (2021) sangat relevan dengan tradisi Jawa yang selaras dengan ajaran agama. Nilai kebangsaan keagamaan beriringan dengan nilai kebudayaan.
3.
Penyebaran Upacara Tradisional
Penjuru kawasan nusantara kaya akan tradisi luhur. Warga penghayat kejawen tersebar di segala penjuru dunia. Khusus untuk bumi nusantara peran penghayat sungguh bermakna. Adat menjadi tuntunan hidup yang penuh dengan penghayatan tinggi. Ciri ciri masyarakat pantai sawah dan gunung tentu berlainan. Upacara tradisional sesuai dengan adat istiadat lingkungan.
Masyarakat pantai memiliki mitologi khusus. Pantai Parangkusumo ramai orang ritual pada malam Selasa Kliwon. Penghayat kejawen yakin akan kekuasaan Kanjeng Ratu Kidul. Penguasa laut selatan keluar dari istana saja dhomas bale kencana. Kraton milik Ratu Kidul terdiri dari emas intan berlian yang gemerlapan. Ratu Kidul atau Kencana Hadisari naik kuda sembrana datang ke tepi samudera selatan. Koentjaraningrat (1984) menjelaskan rentetan budaya Jawa dengan pendekatan filsafat antropologi.
Cempuri Parangkusumo dipercaya tempat pertemuan Ratu Kidul dengan Panembahan Senapati. Orang melakukan meditasi dengan berbagai keperluan hajad. Kembang kenanga mawar melati berbau wangi. Harum bercampur asap dupa. Juru kunci siap untuk membantu kelancaran semedi. Orang duduk bersila dengan konsentrasi pikiran. Dari perspektif filosofis Abdullah Ciptoprawiro (1986) mengulas tradisi yang berhubungan dengan kebijaksanaan.
Labuhan merupakan prosesi di pantai Parangkusumo. Barang barang sakral segera dilabuh. Sesaji dihanyutkan di tepi pantai. Doa diucapkan dengan mantra sakti. Orang yakin bahwa hajad permohonan segera terkabul. Ritual ini hampir berlangsung tiap hari. Barang kali penjelasan Andi Harsono (2005) sangat relevan dengan situasi mutakhir.
Kepercayaan di pantai utara Jawa terkait dengan Dewi Lanjar. Pesisir lor menjadi kekuasaan Dewi Lanjar. Ki Haji Manteb Sudarsono dalang dari Doplang Karangpandan Karanganyar. Setelah meditasi di pesisir pantai utara mendapat anugerah berlimpah. Karier pedalangan tampil cemerlang. Masyarakat pesisir utara yakin akan kekuasaan Dewi Lanjar. Sesaji jangkep dipersembahkan oleh para penghayat kejawen.
Lancaran Banaran Kulon Makmur merupakan tanda kehidupan masyarakat agraris. Dengan menyebut ragam tanaman maka tanah makin gembur hasilnya makin makmur. Bait tembang ini menggambarkan dunia pertanian. Koentjaraningrat (1984) sangat tepat mengulas mistik agraria di tanah Jawa sepanjang masa.
Tumata teratur Banaran Kulon misuwur,
Tlatah Bagor andhap asor wis kesohor,
Ing Nganjuk kutha apik sarwa resik,
Gunung Wilis Pandhan asri indah sesawangan.
Ijo royo royo brambang pohung pari jagung,
Subur tandurane budaya keluhurane,
Monggo mas mampir kene murih lejar penggalihe,
Wewaton alon alon pamrihe bisa kelakon.
Saat tahun baru tiba para penghayat kejawen mengungkapkan isi hati.. Lewat seni tembang dhandhanggula harapan itu terwujud. Sebisa bisanya tahun baru memberi harapan yang lebih mulia. Tahun baru nyekar dhandhanggula. Lagu ini memberi suasana tambah manis suka gembira. Soetrisno (2004) membahas tradisi Jawa yang terdapat dalam pakeliran wayang purwa.
Rasa paksi angkasa kaeksi,
Sinengkalan gumantine warsa,
Tahun rong ewu selawe,
Ing rong ewu nem likur,
Purna gati lakon kawuri,
Mahargya jagad anyar,
Jumangkah tinuju,
Wawasan sarta gagasan,
Den persudi murih gancaring pakarti,
Nuli awoh kamulyan.
Inti dari makna tembang di atas berhubungan dengan hasil perbuatan seseorang. Maka Sumaryono (2001) telah memberi anjuran tafsir hermeneutik untuk fenomena tradisi budaya Jawa. Hari esok tetap cerah ceria.
Gelis manis sabarang perkawis,
Ngarah arah lumampah sumarah,
Lajer laju saya suwe,
Umur mundur kesingkur,
Tandang kardi dhasar utami,
Sembada kang kajangka,
Jumbuh kang ginayuh,
Kepranan daya dinayan,
Laras laris tatag tutug tatas titis,
Manggih suka raharja.
Isi tembang di atas jelas penuh dengan harapan besar. Namun demikian Damardjati Supadjar (2001) tetap semangat untuk mawas diri. Ujian dan cobaan hidup silih berganti. Maka perlu sikap waspada dan hati hati.
Gya katitik mrih bisane becik,
Pengalaman kanggo pamulangan,
Pikir gedhe regeng rame,
Tetep tampa tinempuh,
Karep karti kerep makarti,
Kawibawan kawignyan,
Sesorah sesuluh,
Anut laksitaning alam,
Asung asri asring basuki lestari,
Tumanggal wanci enggal.
Bait tembang di atas memberi pelajaran tentang segala kebaikan. Tata cara wilujengan tahun baru 1 Januari 2026 diungkapkan dengan nilai estetis. Hampir semua aktivitas kejawen terhubung dengan aspek seni. Meditasi beriringan dengan rasa seni. Etika diajarkan dalam bentuk sajian estetika.
Dhandhanggula Natapraja menjadi instrumen untuk memberi semangat kepemimpinan. Pejabat kepala desa terpilih diberi ucapan selamat dari pendukung. Suka sukur diungkapkan dalam bentuk tembang macapat. Doa dan harapan betul betul tercurah demi lancarnya pengabdian.
Mahargya Luluk Endah Purwanti,
Winisuda pangarsane desa,
Banaran kulon tlatahe,
Bagor Nganjuk pinunjul,
Tata titi nggennya makarti,
Kawibawan kawignyan,
Tekan teken tekun,
Micara rasa miraga,
Tatas titis tatag tutug samukawis,
Rampung kehing pakaryan.
Tembang dhandhanggula di atas itu bermakna sangat dalam. Ritual dengan nuansa alam desa sungguh terasa. Pejabat kepala desa Banaran Kulon Bagor Nganjuk sungguh bahagia. Warga desa berharap tugas yang diemban pimpinan bisa berhasil. Wilujengan spiritual bertujuan untuk mewujudkan ketentraman masyarakat desa. Abdullah Ciptoprawiro (1986) memberi harapan tentang tata cara tradisional yang bersumber dari sastra piwulang.
Mijil merupakan jenis tembang macapat. Dapat digunakan untuk ucapan hari ulang tahun seseorang. Upacara adat tanggap warsa disajikan dengan lelagon. Unsur estetika merupakan bagian utama. Guru besar yang mengajar di perguruan tinggi menyadari arti penting nilai kearifan lokal.
Prof Doktor Sri Harti Widyastuti,
Saking Trasan Plikon,
Wolu Oktober tahun selawe,
Asesanti sugeng ambal warsi,
Manggih sugih singgih.
Ping suwidak telu.
Kutipan tembang mijil di atas digunakan oleh kalangan akademis. Tradisi ritual berharap muncul keselamatan ketenangan dan kebahagiaan lahir batin. Handai taulan memberi ucapan selamat.
Tembang macapat di bawah ini bermakna puji syukur. Terkait dengan akademis orang Jawa yang sedang menempuh ilmu pengetahuan. Misalnya tembang mijil yang memberi nuansa masa kelahiran.
Loro Mei ujian promosi,
Pendadaran doktor,
Prastawa gedhe tahun selawe,
Cik Venny Indera Ekowati,
Nyerat disertasi,
Srana tamat lulus.
Isi tembang di atas itu sesuai dengan makna tembang
dhandhanggula. Kondisi yang manis cocok untuk membentuk suasana bahagia. Endang Daruni (2004) mengulas moral Pancasila sebagai dasar negara.
Bu Profesor Endang Nurhayati,
Pak Profesor Suwardi sang dwija,
Doktor Cipto pangarsane,
Penguji jangkepipun,
Bu Prof Sri Harti Widyastuti,
Prof Afendy Widayat,
Saking jawi rawuh,
Doktor Ardianto nyata,
Dhumateng Cik Venny Indera Ekowati,
Lumampah gancar lancar.
Makna tembang itu sesuai dengan makna tembang sinom. Cocok untuk pembinaan anak muda. Generasi penerus perlu ritual budaya. Damardjati Supadjar (2001) telah berkali- kali mengajarkan mawas diri bagi semua kalangan akademisi perguruan tinggi.
Regeng gayeng sigrak gumyak,
Pahargyan tata promosi,
Kembul bujana ndrawina,
Kadang mitra murwakani,
Mesem sakjroning ati,
Tekan tekun guyub rukun,
Marga suka gembira,
Venny Indera mersudi,
Sung pepuja linambaran bagya mulya.
Arti tembang di atas segaris dengan makna tembang durma. Mumpung ada kesempatan harus berbuat maksimal. Demi menyongsong hari esok. Endang Daruni (2004) menjelaskan nilai kebangsaan berdasarkan moral Pancasila.
Tekat kuat tlaten panen drajat semat,
Lumantar filologi,
Bidang keahlian,
Maca nulis huruf naskah,
Venny Indera Ekowati,
Wus paripurna,
Yekti kanthi permati.
Maksud tembang di atas sesuai dengan arti asmarandana. Untuk itu perlu berbuat kebajikan. Mirip dengan suasana jaman keemasan. Dengan tafsir hermeneutik Sumaryono (2001) mendukung penuh praktek tradisi di kawasan nusantara. Tentu saja budaya Jawa punya peran yang sangat penting.
Malaysia manca nagri,
Program master linampahan,
Age pindha mas rinante,
Rinengga mbabar seminar,
Aneng ngendi konferensi,
Cik Venny kersa meguru,
Murih jembaring wawasan.
Arti tembang di atas sesuai dengan makna tembang megatruh. Kesadaran tentang makna kematian perlu refleksi. Hari esok harus lebih baik. Endang Daruni (2004) sangat menghargai praktek pengamalan Pancasila yang bersumber dari tradisi.
Sambang sambung sawang srawung lung tinulung,
Cik Venny mitayani,
Tanngap tanggon tatag tangguh,
Titis wasis samukawis,
Sumeh semune miraos.
Isi tembang di atas sesuai dengan makna tembang
maskumambang. Maka jaman keemasan perlu diwujudkan. Generasi mendatang berhak atas kemuliaan. Yudi Latif (2025) mendorong kajian yang bersumber dari kesadaran historis. Dari masa lampau kebijaksanaan hidup digali tiada henti. Ibarat sumur kebajikan yang sangat dalam airnya.
Mideringrat njajah desa milangkori,
Saindhenging nusantara,
Cik Venny pacak baris,
Beres sinambi makarya.
Arti tembang di atas selaras dengan tembang pucung. Humor bisa makin kesohor. Asalkan sopan santun tetap dijaga. Pelestarian dengan mawas diri sebagaimana ulasan Damardjati Supadjar (2001) yang bernilai etis filosofis.
Kang tinemu kerep udhu bahu suku,
Cik Venny enthengan,
Barang muntel diudhari,
Sung pepadhang karya suka sanak kadang.
Isi tembang di atas cocok dengan mskna tembang gambuh. Hubungan sosial harap bisa selaras serasi seimbang. Anjuran Endang Daruni (2004) sungguh penting untuk menyelaraskan hubungan Pancasila sebagai dasar negara dengan interaksi budaya.
Misuwur priyayi luhur,
Ngangsu kawruh pituduh pitutur,
Tata titi Cik Venny Indera Ekowati,
Pasinaon wus tinempuh,
Enggal antuk gelar doktor.
Makna tembang di atas selaras dengan makna tembang sinom. Anak muda perlu mawas diri dengan naluri tradisi. Ulasan Soetrisno (2004) sangat relevan buat menggali nilai luhur tradisi. Seni pakeliran wayang sangat lengkap dan utuh dalam merajut estetika tradisional.
Kapurwakan dhahar siang,
Pasugatan sarwa adi,
Papan jenak raos enak,
Eca gurih kang pinilih,
Mirasa merak ati,
Suwe ora nate temu,
Kapang enggal kumleyang,
Sami mahargya Cik Venny,
Micara miraga wibawa widada.
Isi tembang di atas selaras dengan makna tembang pangkur. Seseorang mesti mawas diri. Agar sosial makin cemerlang. Andi Harsono (2005) dengan tepat menganjurkan tafsir literasi klasik buat tuntunan. Karya pujangga sangat efektif untuk membuat adanya pelestarian tradisi di seluruh pelosok tanah air.
Pratelan sarta wangsulan,
Disertasi angrembag filologi,
Serat Jayalengkara,
Mengku kawruh kinarya ndhudhah pituduh,
Gumelaring kitab kina,
Wulang wuruk tiyang Jawi.
Makna tembang di atas selaras dengan makna tembang kinanthi. Bekal hari esok perlu dipersiapkan sejak dini. Keterangan Endang Daruni (2004) jelas dapat membantu pemahaman atas pengamalan Pancasila di kawasan nusantara. Nilai kebangsaan perlu dibina melalui jalur tradisi yang sudah punya pengalaman lama.
Jawat asta para rawuh,
Sakwusnya terang mirsani,
Keplok alok seru imbal,
Gumun cingak amemuji,
Disertasi becik apik,
Doktor Venny pancen peni.
Tafsir tembang di atas jelas memuat kearifan tradisi. Daru Winarti dkk (2023) memberi keterangan tentang tradisi yang dianut oleh orang Jawa. Sedangkan Sri Harti Widyastuti dkk (2023) membahas tradisi yang berasal dari sastra piwulang. Tradisi Jawa itu sungguh sungguh menghendaki adanya tertib sosial. Sastra piwulang menawarkan cara pelestarian tradisi yang bersumber dari warisan literasi.
Tenang dan damai jelas harapan bagi orang Jawa. Dengan menggunakan metrum tembang macapat akan lebih mudah. Pemahaman budaya perlu arti simbol. Sebisa bisanya ritual Jawa dapat dimengerti. Sebagai bahan renungan yang cocok. Kebahagiaan diusahakan dengan ritual kejawen yang tersebar di segala penjuru alam.
Baik golongan bangsawan kraton maupun rakyat biasa, tradisi itu dianggap penting. Terutama untuk meraih ketenangan jiwa. Rasa aman damai sejahtera berkat upacara tradisi. Kegiatan ini maka dilakukan turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Harapan tradisi dan adat istiadat untuk meraih bahagia itu disadari benar oleh masyarakat Jawa.
D.
Kesimpulan
Bagi masyarakat Jawa adat istiadat itu sangat penting. Dari masa kelahiran dewasa sampai meninggal dunia selalu dilakukan upacara adat. Kegunaan adat istiadat untuk mencapai rasa tenang aman damai.
Penduduk Jawa yang tinggal di kawasan pedesaan terlalu akrab dengan masalah adat. Bahkan masyarakat Jawa yang tinggal di kawasan perkotaan tetap menjalankan upacara adat. Hanya saja kegiatan adat itu disesuaikan dengan perkembangan jaman.
Pada masa modern ternyata upacara adat masih relevan. Nalar modernitas perlu keselarasan dengan pola pikir tradisional. Masyarakat Jawa berhasil memadukan kehidupan modern dengan adat istiadat tradisional.
Daftar Pustaka

Komentar
Posting Komentar