TRADISI JAWA UNTUK MERAIH KETENANGAN JIWA
TRADISI JAWA UNTUK MERAIH KETENANGAN JIWA
Purwadi,
Universitas Negeri Yogyakarta
A. Pengantar
Masyarakat Jawa melakukan upacara tradisional demi mendapat keselamatan. Tradisi Jawa berlangsung turun temurun. Misalnya masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Pancurendhang Ajibarang Banyumas. Mereka terikat dengan tradisi yang dilakukan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Ketenangan jiwa bisa diraih dengan menjalankan ritual adat.
Tradisi wilujengan itu diteruskan oleh Raja Mataram berikutnya. Pada tahun 1732 Tumenggung Yudanagara menulis Babad Sala. Bupati Banyumas ini dipercaya oleh Sinuwun Paku Buwana II sebagai kepala arsip, dokumentasi dan publikasi Kraton Kartasura. Bupati Yudanagara pernah belajar jurnalistik di Cambridge Inggris. Ketrampilan dan kemahiran Bupati Yudanagara diakui oleh pemerintah Kerajaan Mataram. Keluarga kerajaan Mataram masih melanjutkan tradisi warisan leluhur. Adat istiadat tetap dilestarikan demi keseimbangan hidup.
Bagi warga masyarakat Jawa masa kini, tradisi itu sebagai tuntunan hidup. Butir butir kebajikan tradisional berguna untuk menganyam peradaban dunia. Generasi penerus selalu menjaga tradisi yang mengutamakan keselarasan sosial. Kebudayaan Jawa yang bersifat simbolik terdapat dalam upacara tradisional.
B.
Metode dan Landasan Teori
Penggunaan metode untuk memperlancar jalannya pembahasan. Landasan teori digunakan untuk mempertajam pembahasan data. Analisis budaya digunakan sebagai metode untuk mengulas data. Dengan metode analisis budaya tradisi Jawa dijelaskan demi memperoleh kebaikan. Tentang kebaikan itu berhubungan dengan usaha untuk menata kehidupan masyarakat.
Filsafat budaya sebagai landasan teori merupakan pilihan yang tepat. Kebudayaan Jawa berusia panjang. Peradaban Jawa terwariskan secara lisan dan tertulis. Analisis budaya didukung oleh literasi yang memadai. Adanya literasi Jawa klasik yang ditulis oleh para pujangga meyakinkan keberadaan adat istiadat. Kegiatan budaya dengan demikian berlanjut terus.
Dengan menggunakan metode dan landasan teori itu dilakukan pembahasan. Maka hasil pembahasan itu diharapkan dapat memberi kegunaan. Terutama dalam menggali nilai kearifan lokal. Dari hasil penggalian kearifan lokal ini diharapkan ada kontribusi buat mewujudkan suasana yang lebih kondusif. Budaya Jawa bisa memberi peran yang berarti bagi kedamaian.
C.
Hasil Pembahasan
Adat istiadat Jawa kaya akan makna simbolik. Bahasa lambang lewat upacara adat perlu dipahami. Hasil pembahasan data budaya berdasarkan metode dan landasan teori. Maka tiap tiap melakukan kegiatan adat orang Jawa selalu bercermin pada paugeran. Bentuk paugeran tradisi Jawa pada umumnya diwariskan secara lisan. Tradisi lisan cocok untuk sosialisasi nilai pada masyarakat agraris.
Lahir dewasa mati merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia. Proses kelahiran diawali dengan pertemuan pria wanita. Maka peran lembaga perkawinan sangat penting. Orang Jawa menyebut duwe gawe. Artinya sedang punya hajad. Kegiatan tradisi yang menyerap banyak pikiran tenaga waktu dan dana.
Hidup manusia dewasa berwarna warni. Upacara tradisional memerlukan biaya yang banyak. Usaha apa saja demi keberhasilan. Prosesi adat berlangsung sampai ajal menjemput. Upacara kematian pun harus ada. Telung dina, pitung dina, patang puluh dina, nyatus dina dan nyewu dina dilakukan dengan ritual yang serius. Tentu bertujuan untuk mendapatkan suasana hati yang tenteram aman damai.
1.
Prosesi Upacara Adat
Upacara tradisional yang dilakukan dalam lingkup istana tentu melibatkan banyak pihak. Untuk itu perlu peran dari tokoh. Misalnya
Laporan dari Bupati Yudanagara bahwa tabungan Kraton Mataram berlimpah ruah. Batangan emas disimpan di bank Solo Swiss. Harga emas itu sejumlah 10.000 trilyun rupiah. Devisa Mataram Kartasura itu mesti digunakan untuk pembangunan di segala bidang. Agar berhasil keluarga istana melakukan upacara ritual sesuai dengan tradisi yang berlangsung turun temurun.
Bentuk upacara tradisional istana nyata sekali pada masa Kraton Mataram yang masih beribukota di Kartasura. Sunan Paku Buwana II dan Patih Pringgalaya segera mengadakan rapat. Turut hadir Tumenggung Hanggawangsa dari Kadipaten Panjer atau Kebumen. Pangeran Kadilangu dari Demak Bintara. Pangeran Wijil dari Kabupaten Tuban. Adipati Padmanagara dari Kabupaten Pekalongan. Kyai Yasadipura dari Pengging Boyolali. Acara ritual dilakukan demi keselamatan.
Rapat kenegaraan yang diawali dengan ritual wilujengan telah menghasilkan keputusan penting. Ibukota negara Mataram atau IKM perlu pindah ke daerah Sala. Panitia pembangunan UKM segera dibentuk. Badan Perancang Pambangunan Kraton atau BAPEKRA berkantor di kota Ponorogo. Bupati Ponorogo, Tumenggung Martanagara menjadi kordinator konsep pembangunan. Kajian dilakukan Bupati Martanagara Ponorogo hingga tahun 1738. Tanda sukur lantas menyelenggarakan upacara wilujengan.
Jenang sungsum merupakan tanda acara selesai dengan selamat. Kegiatan selanjutnya adalah tindak lanjut hasil rapat. Maka panitia dibentuk dengan rinci. Seksi dana dipegang oleh Adipati Purbaya Bupati Lamongan. Maklum mertua Paku Buwana II dan ayah Ratu Mas ini pengusaha kayu, minyak tanah dan pelayaran. Omset perusahaan Bupati Purbaya Lamongan lebih dari 20 ribu trilyun. Tiap acara mesti diawali dengan tata cara wilujengan.
Tokoh kenamaan adalah Ki Gedhe Sala. Pemilik tanah yang amat luas. Maka Ki Gedhe Sala menerima ganti untung 10 trilyun. Seluruh tanah Sala dibeli oleh Paku Buwana II untuk lokasi ibukota Karaton Surakarta. Kajian yang rinci membuat rencana kerja sangat rapi. Kedamaian kerukunan dan ketentraman merupakan tujuan upacara wilujengan yang dilakukan dalam tiap acara.
Hubungan antara tradisi dengan modernitas amat erat. Misalnya para teknolog Jawa yang mengawali kerja selalu menggunakan sesaji. Kontraktor pembangunan Kraton Surakarta diserahkan Tumenggung Hanggawangsa. Kelak setelah berhasil membangun ibukota Surakarta, Tumenggung Hanggawangsa diangkat oleh Paku Buwana sebagai bupati Panjer atau Kebumen. Bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Aumbinang yang berpusat di Kotawinangun. Tokoh kabupaten Panjer atau Kebumen ini begitu patuh pada prosesi ritual. Maka tokoh ini dikenal sakti mandraguna.
Sunan Kalijaga yang masih keturunan Bupati Wilwatikta Tuban peduli pada adat istiadat Jawa. Maka Pangeran Kadilangu bergerak dalam bidang spiritual keagamaan. Pangeran Wijil bertugas melakukan pengembangan. Adipati Padmanagara bertugas untuk membina birokrasi. Aura kepemimpinan birokrasi terpancar dari tradisi kejawen.
Dalam hal upacara adat telah dilakukan oleh Sunan Paku Buwana II atau Sinuwun Kombul. Oleh karena Kanjeng Sinuwun Paku Buwana II sukses gemilang. Pada tanggal 20 Pebruari 1745 secara resmi ibukota Mataram pindah ke Sala. Bernama Karaton Surakarta Hadiningrat. Tahun 1746 berdiri bank di kota Surakarta. Mataram semakin cerah gemilang. Kerja keras beriringan dengan ilmu laku.
2.
Pelestarian Adat Istiadat Jawa
Generasi muda Jawa pada kegiatan budaya. Tradisi warisan leluhur perlu lestari. Dengan berbagai kegiatan generasi muda mengasah keterampilan dan menambah wawasan. Harapan untuk terus melakukan pelestarian ini patut untuk didukung oleh segenap lapisan masyarakat.
Kunjungan komunitas budaya Banyumas Setu Kliwon, 3 Januari 2026. Hubungan Banyumas dan Kraton Surakarta diulas dengan jelas tegas tuntas. KP Budayaningrat sebagai pamong Sanggar Pambieara menjelaskan adat istiadat Kraton Surakarta Hadiningrat. Dengan berbusana batik dan iket blangkon, narasi budaya itu tersebar di kalangan anak muda. Turut memberi panduan adat Kraton Surakarta yakni Kanjeng Rawang dan Ndoro Srimulyo. Pemuda Kraton Surakarta ini aktif mengikuti jalannya pelestarian budaya.
Kegiatan adat itu dilanjutkan oleh Paku Buwana XIV di Masjid Laweyan. Kanjeng Sinuwun Paku Buwono XIV ing Masjid Laweyan melakukan upacara adat. Tata cara Jumatan ing Masji Agung Kraton Surakarta sampun ambal kaping pitu. Sinuwun Paku Buwono XIV nuli Jumatan ing Masjid Ki Ageng Enis Laweyan. Rikala dinten Jumat Wage, 2 Januari 2025 para abdi dalem lan sentana sami ndherek. Begitulah adat Jawa yang bisa akomodatif dalam kancah kehidupan yang penuh dinamika perubahan.
Masjid Ki Ageng Enis Laweyan sering digunakan untuk ritual kebatinan. Coos kurmat dhateng para leluhur. Shalat Jumat ing Masjid Laweyan. Miturut serat babad bilih
Ki Ageng Enis putra Ki Ageng Sela. Wayah Ki Ageng Getas Pendhawa. Buyut Raden Bondan Kejawan. Wareng Sinuwun Prabu Brawijaya raja Majapahit. Tentu saja pendukung budaya ini merupakan bentuk dari pengaruh agama Islam Hindu Budha. Toleransi sudah berjalan dalam masyarakat adat tradisional.
Ilmu dan laku selalu menjadi perhatian keluarga Mataram. Maka bentuk arasilah saking Kadipaten Tuban perlu diketahui. Adipati Wilwatikta peputra Dewi Rasa Wulan. Peputra Ki Ageng Tarub. Peputra Nawangsih. Peputra Getas Pendhawa. Peputra Ki Ageng Sela. Peputra Ki Ageng Enis. Tokoh ini menjalankan ilmu laku panemu.
Lingkungan Laweyan cocok untuk kegiatan para peenghayat kejawen. Lajer Ki Ageng Enis peputra Ki Ageng Pemanahan. Peputra Panembahan Senapati raja Mataram. Lajeng nurunaken raja ing Karaton Surakarta Hadiningrat. Kanjeng Sinuwun Paku Buwono XIV caos kurmat dhateng para leluhur. Penghayat kejawen melestarikan tradisi ritual.
Aspek kematian juga menjadi cara pelestarian tradisi.
Peringatan mendhak wayah dalem dilakukan oleh keluarga Kraton Surakarta. Upacara wilujeng untuk peringatan wafat wayah dalem KRMH Aditya Soeryo Harbanu SH. Beliau adalah putra GKR Retno Dumilah. Punya garwa bernama R Ay Rika Wiyandari. Diselenggarakan pada hari Setu Wage, 3 Januari 2026. Bertempat di dalem Kayonan kompleks Kraton Surakarta. Suasana begitu khusuk dan hikmat dalam lingkungan kejawen.
Abdi dalem ulama berbusana beskap putih. Pakai blangkon, bebedan jarik motif wahyu tumurun. Kalung samir warna merah kuning. Dada sebelah kiri disematkan bross radya laksana. Stagen sabuk epek timang dengan kelengkapan pusaka keris. Duduk bersila sambil membaca tahlil tahmid takbir tasbeh. Abdi dalem lain berbusana batik dengan menyertai doa bersama. Mereka dengan duduk lesehan di atas tikar.
Ubarampe sesaji tertata rapi. Sepasang lilin nyala kerlap kerlip. Lampu dalem kayonan menyala. Suasana tambah agung anggun. Foto KRMH Aditya Soeryo Harbanu SH terpampang. Terdapat pula foto Sinuwun Paku Buwana XII, Kanjeng Ratu Ageng dan GKR Retno Dumilah. Tuan rumah GKR Ayu Koes Indriyah. Foto foto klasik terpampang anggun. Memancarkan aura bangsawan.
Perpaduan agama dan budaya menyertai upacara adat Kraton Surakarta. Doa menggunakan bahasa Arab. Lirik irama memakai seni Jawa. Tradisi itu berlangsung berabad abad. Turun temurun beranak pinak diwariskan terus menerus. Kebudayaan yang bersumber dari Kraton Surakarta layak untuk dilestarikan. Pelestarian budaya menjadi tugas utama bagi pemerintah dan masyarakat.
3.
Penyebaran Upacara Tradisional
Warga penghayatan kejawen tersebar di segala penjuru dunia. Khusus untuk bumi nusantara peran penghayat sungguh bermakna. Adat menjadi tuntunan hidup yang penuh dengan penghayatan tinggi.
D.
Kesimpulan
Bagi masyarakat Jawa adat istiadat itu sangat penting. Dari masa kelahiran dewasa sampai meninggal dunia selalu dilakukan upacara adat. Kegunaan adat istiadat untuk mencapai rasa tenang aman damai.
Penduduk Jawa yang tinggal di kawasan pedesaan terlalu akrab dengan masalah adat. Bahkan masyarakat Jawa yang tinggal di kawasan perkotaan tetap menjalankan upacara adat. Hanya saja kegiatan adat itu disesuaikan dengan perkembangan jaman.
Pada masa modern ternyata upacara adat masih relevan. Nalar modernitas perlu keselarasan dengan pola pikir tradisional. Masyarakat Jawa berhasil memadukan kehidupan modern dengan adat istiadat tradisional.

Komentar
Posting Komentar