BABAD PACITAN

 BABAD PACITAN



Purwadi,

Ketua Lokantara,

HP 0878644043437


A. Drajat Pangkat Semat.


Turunnya Wahyu Cakraningrat merupakan gambaran drajat pangkat semat. Satria piningit telah datang dari bumi Pacitan. Dialah Agus Harimurti Yudhonono atau AHY. Wahyu Cakraningrat yang berwarna biru turun cumlorot madhangi jagat raya. Tanggal 21 Pebruari 2024 AHY resmi dinobatkan sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang / kepala BPN atau Badan Pertanahan Nasional. AHY yang lahir pada tanggal 10 Agustus 1978 ini memiliki nama lengkap Mayor Inf Dr H Agus Harimurti Yudhonono M.Sc MPA MA. Asma kinarya japa.


Kebudayaan memuat nilai simbolik yang disadari oleh AHY. Teori semiotik dan metode hermeneutik saling melengkapi. Maka

Pacitan dalam lintasan sejarah peradaban besar memuat ragam wewarah. Jejak berdirinya Kabupaten Pacitan bersumber dari benda purbakala, petilasan dan kitab Jawa klasik. Analisis penulisan dengan teori semiotik dan metode hermeneutik. Pengunaan cara berpikir ilmiah digunakan AHY untuk membuat keputusan yang tepat. Bersama dengan sang istri Annisa Larasati Pohan, AHY kerap melakukan bawa rasa.


Baca Juga:

BABAD SERAYU

Babad Ratu Beruk

Leluhur Pacitan memberi pelajaran pada AHY. Maka teori semiotik menganalisis data dengan pendekatan simbol. Leluhur Kabupaten Pacitan terbiasa dengan ungkapan pamedhare sasmitane ati. Alam gumelar dibaca demi memperoleh aspek kesempurnaan. Kepada sang anak, AHY berdiskusi arti penting seni edi peni. Almira Tunggadewi Yudhonono dikenalkan sejarah kebudayaan. Faktor historis kultural sangat penting bagi AHY. Maka metode hermeneutik ditujukan untuk menafsir teks Jawa klasik.


Sasmitane ngaurip puniki. Bahwasanya hidup itu penuh dengan perlambang yang perlu ditafsir. Interpretasi demi memperoleh konsepsi yang utuh sepuh ampuh dan tangguh. Budaya luhur merupakan sumber kearifan lokal bagi AHY. Dari pendekatan ilmiah itu lantas dibuat narasi historis. Sesepuh masyarakat Pacitan yang sangat dihormati bernama Ki Ageng Buwono Keling. Beliau masih keturunan Ratu Sima dari kerajaan Kalingga. Asal usulnya dari daerah Keling Jepara. Kedatangan ke pesisir selatan dalam rangka babad alas demi kemuliaan putra wayah. Bapa truka, anak penak, putu nemu, buyut punut.


Inilah wujud kearifan lokal yang selalu diajarkan Presiden SBY pada anak cucu. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Pitutur ini diberikan AHY lewat Bu Ani Yudhonono. Ki Ageng Buwana Keling merupakan kepercayaan Kanjeng Ratu Kalinyamat. Selama Ratu Kalinyamat bertapa di Gunung Danaraja, Ki Ageng Buwono inilah yang menjadi pengawal setia. Kesetiaan lahir batin membuat dirinya dekat dengan Kasultanan Demak dan Pajang. Pada tahun 1550 Ki Ageng Buwono Keling menikah dengan Roro Togali, putri Batara Katong, Bupati Ponorogo. Sejarah memberi local wisdom bagi AHY. Tepa palupi kang utami.


Dengan Edi Baskoro sang adik, AHY kerap rembugan budaya adi luhung. Bersama dengan Roro Togali, Ki Ageng Buwono Keling ditugaskan untuk membuka pemukiman. Kedua mempelai terbiasa hidup prihatin. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit -sakit dahulu, bersenang- senang kemudian. Babad alas dilakukan dengan sepenuh hati. Lama kelamaan menjadi pemukiman yang ramai. Daerah baru ini dinamakan Jati Purwoasri Kebonagung. Basa ngelmu mupakate lan panemu.


Ngumbar gagasan demi keilmuan.Cita cita Ki Ageng Buwono Keling memang luhur. Cita- cita Roro Togali sangat mulia. Para pengikutnya yang terdiri dari Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong, Ki Ageng Ampok Boyo mendukung cita-cita yang luhur dan mulia. Siang malam kerja keras untuk meraih cita -cita. Dari kata cita -cita ini lantas muncul istilah Pacitan. Kawruh tata praja dihayati oleh AHY. Kebudayaan warisan leluhur dijadikan pedoman. Analisis Semiotik untuk memahami simbol budaya. Ilmu tentang tanda terdapat dalam teori semiotik. Analisis semiotik dilengkapi dengan teori semantik.


Daerah baru yang dibuka ini disebut Pacitan. Kata Pacitan berasal dari bahasa Sansekerta. Cita bermakna gagasan, pikiran, gegayuhan, idealisme dan program jangka panjang. Kata cita mendapat awalan Pa dan akhiran an. Jadilah kata yang mengalami proses morfologis. Artinya merujuk pada kata tempat. Pacitan bisa bermakna tempat untuk ngudhal gagasan, menerapkan cita-cita dan meraih idealisme. Pacitan dadi papan kanggo njongko lan njangkah gegayuhan luhur.

Presiden SBY tentu memberi bekal yang cukup dari sisi keilmuan. Ki Ageng Buwono Keling dan Roro Togali menjadi pelopor bangsawan agung. Segala kawibawan, kawidadan, kamulyan, kabagyan lan karaharjan kanthi srana pambudi daya. Beliau berdua memberi wejangan kepada putra wayah dan pengikut.


Tumuju marang kamulyan ora alus dalane. Akeh sandhungane, gedhe godha rencanane. Ibarat lelayaran ing samodra agung. Alun ombak lan topan iku dadi pepalange. Sing sapa temen bakal tinemu, waton gembleng tekade, nyawiji pambudi dayane. Linambaran sabar tawakkal.


Nasihat Jenderal Sarwo Edi Wibowo cukup penting bagi AHY. Perjuangan Ki Ageng Buwono Keling dilanjutkan oleh Ki Ageng Pitung. Beliau tinggal di daerah Duduhan Mentoro. Bersama dengan Ki Ageng Posong dan Ki Ageng Ampok Baya, beliau ditugaskan oleh Batara Katong. Para sesepuh Pacitan ini gemar mesu budi. Kerap tapa ngalong, tapa ngidang, tapa ngeli, tapa pendem, tapa pati geni, tapa ngebleng. Dengan tujuan hidupnya tentram lahir batin. Ngelmu iku kelakone kanthi laku. Tidak mengherankan bila para pendiri kabupaten Pacitan sakti mandraguna. Ora tedhas tapak palune pandhe, sisane gerindra, tanapi tedhaning kikir. Cerita sejarah cukup penting bagi AHY. Dari hasil punika Ki Ageng Buwono Keling dengan Roro Togali lahirlah putra kang pekik warnane, abra busanane. Namanya Raden Purbengkoro. Beliau tumbuh menjadi pemuda tampan, cerdas, lincah, ramah tamah, pemurah. Di mana-mana selalu menunjukkan diri sebagai insan yang handal, profesional dan bermoral. Yen kakung ngondhangake kasektene, yen putri ngondhangake baguse.


Pada tahun 1568 Raden Purbengkoro ditetapkan sebagai pengageng Pacitan. Beliau bergelar Demang Bonokeling. Kepemimpinan Demang Bonokeling berdasarkan prinsip ber banda ber bandhu. Saudara yang banyak itu modal utama. Ajaran ini merupakan warisan Ki Ageng Buwono Keling. Nama Demang Bonokeling begitu tenar sampai kawasan Bang Wetan, Bang Kulon dan Pesisir Pulau Jawa.


Demang Bonokeling punya guru spiritual yang terkenal yakni Kyai Siti Geseng. Beliau murid kesayangan Kanjeng Sunan Kalijaga. Selama menjabat sebagai pengageng Pacitan, Demang Bonokeling belajar tata praja, ilmu jaya kawijayan, guno kasantikan. Kyai Siti Geseng memiliki padepokan Siti Bentar di daerah Rejoso. Demang Bonokeling diajari tapa ngeli di Kali Wuluh. Kautaman sumebar ing bumi Pacitan, tanah leluhur AHY. Maka analisis Hermeneutik dilakukan.


Metode hermeneutik digunakan untuk memahami asal usul berdirinya Kabupaten Pacitan. Babat Tanah Jawi, Babat Pengging, Serat Wedhatama, Serat Centhini dan Serat Warni Warni memberi keterangan atas peristiwa masa silam. Literasi yang selalu menyediakan inspirasi dan energi.

Trah Pacitan berjuang demi nusa bangsa. AHY ibarat satria piningit Pacitan. Maka dengan metode hermeneutik awal berdirinya Kabupaten Pacitan terbaca jelas lugas dan tuntas. Sukses gemilang Demang Bonokeling membawa gengsi kehormatan daerah. Tanggal 25 Mei 1570 Pacitan ditetapkan sebagai daerah otonom. Dari kademangan statusnya menjadi kabupaten Pacitan.


Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, raja Pajang berkenan hadir. Peresmian kabupaten Pacitan dihadiri oleh para pembesar Pajang yang tersohor, yaitu Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi dan Ki Ageng Juru Martani duduk di kursi kehormatan.

Kitab Jawa klasik tersimpan dalam perpustakaan Sana Pustaka, Radya Pustaka, Reksa Pustaka dan Sana Budaya. Babat Pengging menceritakan prosesi pelantikan Bupati Pacitan. Dalam tembang dhandhanggula pelantikan dilakukan pada tanggal 25 Mei 1570. Tanggal selawe merujuk pada angka 25. Bulan Mei berdasarkan pada hitungan tahun Masehi.


Tahun sengkalan berbunyi ANGKASA SAPTA PANCA BASKARA. Makna sengkalan itu bertahun 1570. Adapun raja Pajang yang berkuasa bernama Jaka Tingkir atau Mas Karebet. Kelak bergelar Sultan Hadiwijaya. Kutipan secara lengkap dapat memberi penjelasan. Teori semiotik dan metode hermeneutik digunakan untuk membaca sekarang dhandhanggula dalam babat Pengging.


Dhandhanggula


Sekar dhandhanggendhis amurwani,

Hadeging Kabupaten Pacitan,

Kawentar laladan gedhe,

Tlatah panjang punjung,

Kang gemah ripah loh jinawi,

Tata tentrem raharja,

Kutha desa gunung,

Kawibawan kawidadan,

Wus den udi murih basuki lestari,

Sarana njunjung praja.


Duk nalika Raden Jaka Tingkir,

Jejuluk Sultan Hadiwijaya,

Ingaranan Mas Karebet,

Raja kuncara arum,

Dhatulaya ing Pajang Pengging,

Paripurna misuda,

Adipati agung,

Raden Arya Purbengkara,

Sarwa eling asma Demang Banakeling,

Mandhegani Pacitan.


Sinengkalan tenger edi peni,

Angkasa sapta panca baskara,

Tinulis tanggal selawe,

Sasi Mei pikantuk,

Lilah saking pangarsa nagri,

Nayaka lan kawula,

Kersa anyengkuyung,

Mbata rubuh mawurahan,

Bendhe beri puksur tambur suling peling,

Lumampah nut wirama.


Purbengkara jumeneng bupati,

Momong momor momot ing Pacitan,

Kadipaten saya rame,

Makmur mekar ngrembuyung,

Sengkut gumregut Banakeling,

Gya gumregah makarya,

Ing pesisir kidul,

Gumreget mranata praja,

Kakung putri saiyek saeka kapti,

Tumuju mring kamulyan.


Kanjeng Sindunagara Dipati,

setya tuhu Tumenggung Pacitan,

Kapitayan kang sumendhe,

Dhateng agama luhur,

Ber bandha ber bandhu ber budi,

Laku bawa laksana,

Putus barang kawruh,

Ambeg adil paramarta,

Wus marsudi mrih tentreme wong sabumi,

Ngejayeng jagat raya.


Tepat sekali penerapan teori semiotik dan metode hermeneutik. Berdasarkan kutipan babat Pengging itu telah nyata disebutkan suasana awal berdirinya Kabupaten Pacitan.


Pelantikan Raden Purbengkoro atau Demang Bonokeling terjadi pada tanggal 25 Mei 1570. Sejak itu Demang Bonokeling bergelar Kanjeng Adipati Sindunagoro. Untuk menjaga kewibawaan Bupati Pacitan ini, Kanjeng Sultan Pajang memberi tombak pusaka, Kyai Doro Muluk dan Bendera Kyai Gadhing Mas. Kedua pusaka ini menjadi bekal Adipati Sindunagoro dalam mengabdi kepada masyarakat Pacitan. Rakyat bergembira ria, mulai dari kawula ing kutha ing ngakutha, desa ing ngadesa, gunung ing ngagunung. Maka perlu catatan historis dengan segala fenomena sosio kultural. Semangat kebangsaan dari Pacitan bergelora di hati AHY. Trah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang bersinar terang. Teladan buat warga Pacitan.


B. Semangat Kebangsaan dari Pacitan.


Perkembangan historis Kabupaten Pacitan merupakan sumber kearifan lokal bagi AHY. Peranan warga Kabupaten Pacitan dalam membangun perdaban dunia patut ditiru. Patuladhan ingkang prayogi.


Panembahan Senopati adalah raja Mataram yang memegang teguh ajaran utama. Yakni amemangun karyenak tyasing sasama. Pada tahun 1593 warga dari Arjosari, Bandar, Nawangan, Ngadirojo diundang ke Kotagedhe. Para pemuda-pemudi Pacitan diberi kursus kerajinan perak. Dengan harapan mereka dapat hidup mandiri setelah pulang dari kursus kerajinan perak, warga Pacitan bisa membuka lapangan kerja. Semangat untuk berwiraswasta sangat didukung oleh para pejabat Mataram.


Kerajaan Mataram diperintah oleh Sinuwun Hadi Prabu Hanyakrawati tahun 1601 – 1613. Program untuk warga Pacitan berupa peningkatan ketrampilan dalam bidang mebel. Warga dari Donorojo, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo dan Tulakan dikirim ke Pati dan Jepara. Di Kabupaten Pati mereka diberi kursus nggergaji kayu jati. Di Kabupaten Jepara mereka belajar seni ukir-ukiran.


Anak keturunan Ki Ageng Petung di Duduhan Mentoro mendapat kesempatan belajar di Semarang. Warga Mojo berjumlah 10 orang diundang untuk magang kerja di pelabuhan Tanjung Emas. Saat itu direktur pelabuhan Tanjung Emas dijabat oleh Kanjeng Ratu Wiratsari. Sepuluh pemuda pemudi itu menjadi pegawai tetap yang mengurusi bidang administrasi pelayaran.


Sejak tahun 1658 banyak warga Pacitan yang belajar tentang maritim. Mereka mendapat fasilitas dari Kanjeng Sinuwun Amangkurat Tegal Arum yang berkuasa di Mataram tahun 1645 – 1677. Manajemen bongkar pasang barang, administrasi pelabuhan, pembekalan pelayaran dan pengelolaan keamanan sebagian dipegang putra putri Pacitan. Mereka terkenal sebagai pekerja keras, tekun dan jujur.


Pada masa pemerintahan Sinuwun Amangkurat Amral yang berkuasa tahun 1677 – 1703 . Banyak program kerajaan yang menguntungkan rakyat Pacitan. Pemudi dari daerah Ngadirojo, Sudimoro, Tegalombo diberi kursus batik di Laweyan. Sedang pemudi dari Arjosari, Bandar, Kebonagung disuruh belajar kuliner di Baki. Adapun warga dari Nawangan, Prengkuku, Punung dan tulakan diberi kesempatan belajar menyulam di Ngawen.


Pada tahun 1706 Sinuwun Amangkurat Mas mengundang warga Pacitan untuk belajar industri trasi di Lasem Rembang. Sedangkan tahun 1723 Sinuwun Amangkurat Jawi memberi kesempatan warga Pacitan untuk belajar industri kecap di Purwodadi. Begitulah para raja Mataram selalu murah hati kepada masyarakat kabupaten Pacitan. Wajar sekali bila sampai sekarang orang Pacitan biasa meniti karir birokrasi di pemerintahan. Mereka sudah terbiasa bekerja rapi dan terukur. Ketrampilan ini diwariskan secara nak tumanak run tumurun.


Perpindahan ibukota Mataram dari Kartasura ke Surakarta terjadi pada tahun 1745. Rajanya bernama Kanjeng Sinuwun Paku Buwono II. Beliau narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ber budi bawa laksana, ambeg adil paramarta, memayu hayuning bawana.


Tiga bulan setelah penataan ibukota baru, kabupaten Pacitan mendapat perhatian utama. Kanjeng Raden Tumenggung Adipati Notopuro I ditetapkan sebagai Bupati Pacitan. Ditunjuknya Adipati Notodipuro sebagai bupati Pacitan atas dasar kemampuan, kemahiran, kepribadian, keteladanan, keluhuran dan keutamaan. Beliau teruji dalam segala hal. Cocok untuk ngemban kawula dasih.


Atas prakarsa Kanjeng Sinuwun Paku Buwono III, hak pembinaan atas kabupaten Pacitan diserahkan kepada Pura Mangkunegaran. Berlaku sejak tanggal 17 Maret 1757. Kebijakan ini sesuai dengan isi Perjanjian Salatiga. Surat keputusan diserahkan langsung kepada Adipati Suryonagoro I. Berkenan hadir yakni Patih Kraton Surakarta Hadiningrat. Beliau bernama KRA Sosrodiningrat III. Kabupaten Pacitan berhasil dan selamat. Rakyat dan pejabat bersatu padu, manunggaling kawula Gusti.


Pembinaan Pura Mangkunegaran pada kabupaten Pacitan berjalan harmonis. Nama beja kemayangan. Orang Pacitan beruntung berlipat ganda. Ibarat kebanjiran segara madu, kejugrugan gunung sari. Drajat pangkat semat meningkat pesat. Wirya arta winasis mengalir ke segala arah. Guna kaya purun hadir sebagai turunnya ndaru keprabon. Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa memberi suri teladan kepada masyarakat Pacitan.


Rumangsa melu handarbeni,

Rumangsa wajib hangrungkebi,

Mulat sarira hangrasa wani.


Tridarma Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I meresap di hati sanubari. Pengabdian orang Pacitan pada bangsa dan negara berkat wedharan luhur nenek moyang.


Selama dibina Pura Mangkunegaran, warga kabupaten mendapat dua keuntungan pokok. Pertama pengalaman dalam bidang pemerintahan. Warga Pacitan bercita-cita untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran buat masyarakat banyak. Pendidikan tata praja diperoleh selama mengabdi di Pura Mangkunegaran. Kelak mereka trampil dalam bidang tata praja dan birokrasi. Meniti karir dalam birokrasi memerlukan ketekunan dan kesabaran. Lila lan legawa kanggo mulyane negara.


Dalam bidang kesenian warga Pacitan trampil sekali. Terutama seni pedalangan, kerawitan dan tembang. Pura Mangkunegaran sangat peduli pada bidang logika etika, estetika. Puncak estetika yang termuat dalam Serat Wedhatama menjadi acuan hidup. Syair karya Sri Mangkunegara IV ini dipelajari dan dihayati dalam kehidupan sehari- hari. Pada tahun 1856 diselenggarakan malam tirakatan. Para kasepuhan Pacitan membahas isi serat Wedhatama sebagai sarana untuk memperoleh kebenaran sejati.


Pada tahun 1867 warga Pacitan banyak didorong untuk bekerja di Pabrik Gula Colomadu. Tentu saja atas usulan Sri Mangkunegara IV yang murah hari itu. Mereka bekerja sebagai administrator dan marketing. Kedudukan yang lumayan bagus ini membuat warga Pacitan hidup berkecukupan. Bahkan boleh dibilang berlimpah turah-turah.


Pabrik gula Tasikmadu juga sukses gemilang. Sri Mangkunegara VII pada tahun 1918 mengajak masyarakat Pacitan untuk mengelola kebun tebu. Kantor cabangnya berada di Tawangmangu. Tenaga administrasi banyak diuji oleh orang Pacitan. Begitulah hubungan baik Pura Mangkunegaran dengan warga kabupaten Pacitan. AHY banyak mendapatkan pelajaran tentang kepahlawanan dan keteladanan.


C. Keteladanan Masa Lampau.


Tonggak keagungan historis menjadi inspirasi AHY. Kitab Jawa klasik menyebabkan tonggak sejarah yang sangat penting. AHY gemar membaca kehidupan masa lampau. Baik ini keteladanan leluhur Pacitan.


1. Adipati Notopuro I 1745 – 1750

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono II, raja kraton Surakarta Hadiningrat.


2. Adipati Notopuro II 1750 – 1757

Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, raja kraton Surakarta Hadiningrat.


3. Adipati Suryonagoro I 1757 – 1769

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara I, Puro Mangkunegaran.


4. Adipati Suryonagoro II 1769 – 1792

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara I, Puro Mangkunegaran.


5. Adipati Setrowijoyo I 1792 – 1812

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara I, Puro Mangkunegaran.


6. Adipati Setrowijoyo II 1812 – 1823

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara II, Puro Mangkunegaran.


7. Tumenggung Jogokaryo I 1823 – 1836

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara II, Puro Mangkunegaran.


8. Tumenggung Jogokaryo II 1836 – 1854

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara III, Puro Mangkunegaran.


9. Tumenggung Jogokaryo III 1854 – 1860

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara III, Puro Mangkunegaran.


10. Aryo Marto Hadinagoro 1860 – 1879

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara IV, Puro Mangkunegaran.


11. Aryo Cokronagoro I 1879 – 1906

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara IV, Puro Mangkunegaran.


12. Aryo Cokronagoro II 1906 – 1933

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara VI, Puro Mangkunegaran.


13. Aryo Suryo Hadicokro 1933 – 1942

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara VII, Puro Mangkunegaran.


14. R. Soekardiman 1942 – 1944

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara VII, Puro Mangkunegaran.


15. Susanto Tirtoprojo 1944 – 1945

Dilantik pada masa pemerintahan KGPAA Mangkunegara VIII, Puro Mangkunegaran.


16. R Soetomo 1945 – 1948

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.


17. Soebekti Pusponoto 1948 – 1950

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.


18. Anggris Judodiprojo 1950 – 1956

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.


19. Soekiyun 1950 – 1961

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.


20. Katamsi Pringgodigdo 1961 – 1964

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.


21. Tedjo Sumarto 1964 – 1969

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.


22. Moch Koesnan 1969 – 1980

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.


23. Imam Hanafi 1980 – 1985

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.


24. Mochtar Abdul Kadir 1985 – 1990

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.


25. Soedjito 1990 – 1995

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.


26. Sutjipto 1995 – 2000

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.


27. Soetrisno 2000 – 2005

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.


28. H Sujono 2005 – 2010

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


29. Sudibyo 2010 – 2011

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


30. Indartarto 2011 – 2021

Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


Pucung.


Ilmu Laku


Ngelmu iku kelakone kanthi laku,

Lekase lawan kas,

Tegese kas nyantosani,

Setya budya pangekese dur angkara.


Angkara gung neng angga anggung gumulung,

Gegolonganira,

Triloka lekere kongsi,

Yen den umbar ambabar dadi rubeda.


Beda lamun kang wus sungsem reh ngasamun,

Semune ngaksama,

Sasamane bangsa sisip,

Sarwa sareh saking Mardi martatama.


Taman limut durgameng tyas kang weh limput,

Kerem ing karamat,

Karana karoban ing sih,

Sihing sukma ngrebda saardi gengira.


Yeku patut tinulad tulad tinurut,

Sapituduhira

aja kaya jaman mangkin,

Keh pra mudha mudhi dhiri rapal makna.


Nora weruh rosing rasa kang rinuwuh,

Lumeketing angga,

Anggere padha marsudi,

Kana kene kaanane nora beda.


Uger lugu den ta mrih pralebdeng kalbu,

Yen kabul kabuka,

Ing drajat kajating urip,

Kaya kang wus winahya sekar srinata.


Basa ngelmu mupakate lan panemu,

Pasahe lan tapa,

Yen satriya tanah Jawi,

Kuna kuna kang ginilut tripakara.


Lila lamun kelangan nora gegetun,

Trima yen ketaman,

Sakserik sameng dumadi,

Tri legawa nalangsa srah ing Bathara,


Bathara gung inguger graning jajantung,

Jenek Hyang wisesa,

Sana pasenedan suci,

Nora kaya si mudha mudhar angkara.


Nora uwus kareme anguwus uwus,

Uwose tan ana,

Mung janjine muring muring,

Kaya buta buteng betah nganiaya.


Sakeh luput ing angga tansah linimput,

Linimpet ing sabda,

Narka tan ana udani,

Lumuh ala ardane ginawa gada.


Durung punjul ing kawruh kaselak jujul,

Kaseselan hawa,

Cupet kapepetan pamrih,

Tangeh nedya anggambuh mring Hyang Wisesa.


Masyarakat kabupaten pacitan dan leluhur AHY menghayati ajaran ilmu laku jongko jangkah jangkaning jaman. Pembicaraan tentang ilmu laku menjadi tema sentral bagi Mangkunegara IV. Beliau menghendaki adanya keseimbangan antara faktor material, spiritual dan mental. Boleh berpikir global, tetapi berpijak pada gagasan lokal. Keduanya jangan sampai berbenturan. Setelah berusaha tak lupa berserah diri pada Tuhan, biar hati menjadi tenang. Orang hidup perlu menjaga keselarasan.


Sinom Parijatha


Nulada laku utama,

Tumrape wong Tanah Jawi,

Wong agung ing Ngeksiganda,

Panembahan Senapati,

Kepati amarsudi,

Sudane hawa lan nepsu,

Pinesu tapa brata,

Tanapi ing siyang ratri,

Amamangun karyenak tyasing sasama.


Ajaran Panembahan Senopati itu dihayati benar oleh para kasepuhan masyarakat Pacitan. AHY paham sejarah budaya bangsa. Lagu sinom ini berisi tentang ajaran keutamaan yang telah diwariskan oleh Panembahan Senopati. Beliau adalah raja Mataram yang pertama. Sebagai seorang pemimpin Panembahan Senopati berhasil mengendalikan tingkah lakunya. Beliau mau memperkokoh jati diri dan selalu mawas diri. Dengan rakyatnya senantiasa berbuat kebajikan yang dapat menyenangkan pada sesama. Sikap hidup yang perlu dicontoh oleh sekalian pemimpin.


Tembang sinom Parijatha iku kapethik saka Serat Wedhatama kang dianggit dening Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Panjenengane ngasta minangka adipati ing Mangkunegaran nalika taun 1853 – 1881. Kanggone para seniman tembang sinom mau mathuk minangka mat-matan. Lagune kepenak lan cakepane mawa pitutur luhur. Wong Jawa perlu nulad kautaman kang wis diwarisake dening Panembahan Senapati, raja ing Kraton Mataram.


Sembah kalbu yen lumintu dadi laku.

Manggih hayu ayem tentrem kang tinemu.


Balung janur, janur ingisenan boga.

Widadaa, lepat saking sambikala


Peringatan atas peristiwa historis sungguh penting. Tanggal 25 Mei 1570 merupakan tonggak sejarah berdirinya Kabupaten Pacitan.


Bumi Pacitan mewariskan pemimpin unggulan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono contohnya. Kini Agus Harimurti Yudhonono melanjutkan cita cita luhur. Gagasan besar buat ibu pertiwi. Putra putri Pacitan berdarma bakti buat ibu pertiwi. Lila lan legawa kanggo mulyaning negara.



Kraton Pajang


1.

Dhandhanggula


Angleluri bumi Pajang ngunu, 

Kapurwakan Pangeran Benawa, 

Putra raja Pajang kiye, 

Ratu Cempaka ibu, 

Hadiwijaya Jaka Tingkir, 

Mantu Sultan Trenggana, 

Narendra misuwur, 

Karaton Demak Bintara, 

Banuwati garwa Hadi Nyakrawati, 

Jumeneng ing Mataram. 


2.

Sinom


Nata Agung Brawijaya, 

Angratoni Majapahit, 

Rahadyan Bondhan Kejawan, 

Pala krama lan Nawangsih, 

Nawangwulan hapsari, 

Garwa Kyai Ageng Tarub, 

Putra Getas Pendhawa, 

Rara Kasihan kang putri, 

Suka girang dhaup lan Ki Ageng Ngerang. 


3.

Kinanthi


Trahing Ngerang asesunu, 

Nama Ki Ageng Penjawi, 

Botoh unggul Kraton Pajang, 

Agul agul Jaka Tingkir, 

Lumawan Arya Penangsang, 

Wus ginanjar bumi Pati. 


4.

Pangkur


Ki Ageng Panjawi putra, 

Winastanan Ratu Waskitha Jawi, 

Ngembani narendra tuhu, 

Prabu Hadi Mataram, 

Sultan Agung edi peni adi luhung, 

Trah Mataram Pajang Demak, 

Kasusra arum kuncara.


5.

Pucung


Wiwit kuncung putra Pajang nganti gelung, 

Pangeran Benawa, 

Mbabar kawruh ngudi ngelmi, 

Trah tumerah bisa ngrenggani sejarah. 


RATU BANUWATI PRABU HADI


1.

Dhandhanggula


Tepa palupi Dyah Banuwati, 

Siwi ayu Pangeran Benawa, 

Kang ibu menggalih gedhe, 

Rara Tasikmadu, 

Pamekasan suta bupati, 

Wisma ing Surabaya, 

Bandaran kang agung, 

Pelabuhan Tanjung Perak, 

Dagang layar kayu sarem gamping laris, 

Gancaring daya arta. 


Sinuwun Hadi Hanyakrawati, 

Dyah Banuwati minangka garwa, 

Mumpuni kasarjanane, 

Suka ambangun gedhung,

Pesanggrahan den arah bathi, 

Pasewan Jayakarta, 

Gumyak sigrak rebut payu, 

Sambung srawung manca praja, 

Emas picis anglumpuk lumaris manis, 

Nambah santosa praja. 


Dodol lisah bumi banyu mili, 

Blora Bojonegoro lan Tuban, 

Winangun punjering bale, 

Dedunung kutha Cepu, 

Banuwati angindhit dhuwit, 

Karya wragat negara, 

Mrih kuncara arum, 

Mataram ngejayeng jagad, 

Prameswari weruh petung lincah kesit,

Nuhoni trahing Pajang. 


Raja putra Pajang kang winarni, 

Asmanipun Pangeran Benawa, 

Wusnya minulya sumare, 

Ing Morotoko dhukuh, 

Kapernah desa Wateshaji, 

Minangka pajimatan, 

Agung inggil luhur, 

Suka lila angrumeksa

Warga Pati kecamatan Pucakwangi, 

Ginanjar antuk berkah.


Narendra gung Raden Jaka Tingkir, 

Jejuluk Sultan Hadiwijaya, 

Kang kawentar Mas Karebet, 

Wasis waskitha ampuh, 

Tedhak turun priyagung Pengging, 

Atma Kebo Kenanga, 

Tur rembesing madu, 

Dhasare trahing kusuma, 

Ratu Pembayun Dayaningrat Dipati, 

Turase Brawijaya.


Kanjeng Ratu Cepaka linuwih, 

Ingkang ibu Pangeran Benawa, 

Pindha melathi rinonce, 

Ganda sumerbak arum, 

Sekar dhaton kinasih aji, 

Kanjeng Sultan Trenggana, 

Bagas bagus alus, 

Ber budi bawa laksana, 

Ambeg adil mbahu dhendha anyakrawati, 

Nata Demak Bintara.


Ratu Kalinyamat luwih sugih, 

Pangeran Hadirin wus anggarwa, 

Asale Samudra Pase, 

Ber bandha lan ber bandu, 

Rajabrana inten mas picis, 

Rena tata wiyata, 

Kawruh wulang wuruk, 

Benawa ndherek suwita, 

Gelis wasis tatas titis samukawis, 

Meguru aneng Jepara. 


Sami ndherek Pangeran Hadirin, 

Kanjeng Madiun Rangga Jumena, 

Dipati Pangeran Onje, 

Benjang nuli kajunjung, 

Purbalingga mangka bupati, 

Raden Joko Kahiman, 

Derajat ngaluhur, 

Adipati Banyumas, 

Wus permati nggulawenthah siswa siwi, 

Jeng Ratu Kalinyamat.


Banuwati sung tepa palupi, 

Minangka dadi garwa pangarsa, 

Candra tiyang sepuh lare, 

Mbudidaya praja maju, 

Kanca estri wruh jatidhiri, 

Wisma boga lan wastra, 

Wareg cekap cukup, 

Butuh jembar jangkah wiyar, 

Sagung putri kebat rikat amakarti, 

Mbangun nagri Mataram. 


2.

Pangkur


Banuwati mulang mejang, 

Tata cara urip sampun kawuri, 

Warisan para leluhur, 

Demak Pajang Mataram, 

Ilmu laku pasahe krana panemu, 

Gumregut greget gumregah, 

Prameswari kang sejati. 


Pangeran Benawa putra, 

Paring asma Ratu Dyah Banuwati, 

Wanita hayu rahayu, 

Dhauping palakrama, 

Prabu Hadi Nyakrawati gya miyos sunu, 

Sultan Agung Nyakrasuma, 

Narendra Kraton Mentawis.


Wondene Rangga Jumena, 

Retna Dumilah garwa Senapati, 

Tedhak turune Madiun, 

Jeng Ratu Mas Balitar, 

Prameswari Paku Buwana kang sepuh, 

Tangguh tangggon tansah tanggap, 

Ambawani tanah Jawi. 


Benawa asung tuladha, 

Nurunake darah santri priyayi, 

Nggegulang sabarang ilmu, 

Pesantren gya ngrembaka, 

Pamulangan dadi piranti pituduh, 

Gumebyar gilar sumebar, 

Kinarya sangu makarti. 


Aneng tlatah Jawi wetan, 

Garwa Prabu Hadi Hanyakrawati, 

Mrantasi pakaryan rampung, 

Tuwa mudha pinercaya, 

Langkah maju panemu laju limaku, 

Mawi jejeging redana, 

Kanjeng Ratu Banuwati. 


3.

Gambuh


Sembada ampuh tangguh, 

Darma bakti konjuk para sepuh, 

Prameswari Kanjeng Ratu Banuwati, 

Angengeti bapa ibu, 

Mula banjur sregep maos. 


Sowan marang leluhur, 

Kraton Surakarta kang misuwur, 

Putra Pajang sumare laladan Pati, 

Benawa paring pitutur, 

Mawi wejangan miraos. 


Pangeran Benawa perlu, 

Medharake sanggya ilmu laku, 

Kawruh sepuh wutuh kasampurnan jati, 

Drajat pangkat semat wahyu, 

Rumasuk padhang sumorot.


Kedhung kawruh pituduh, 

Banuwati prameswari wutuh, 

Barang kalir lumaku gancar sumilir, 

Mataram sangsaya maju, 

Ing bawana trus kesohor. 


4.

Kinanthi


Sampun mulang Sultan Agung, 

Prameswari Banuwati, 

Kawruh tama niti praja, 

Sinerat ing sastra gendhing, 

Wacan serat pagracutan, 

Dimen dadi jalma lantip. 


Benawa patut tiniru, 

Bekti marang Senapati, 

Pasrah panguwasa Pajang, 

Kawibawan kraton Pengging, 

Lumintir aneng Mataram, 

Supaya lumaku becik. 


Nak tumanak run tumurun, 

Pangeran Benawa iki, 

Pinaringan kanugrahan, 

Kawiryan hartawan wasis, 

Demak Pajang lan Mataram, 

Widada sugeng lestari.


Adi luhung jiwa agung, 

Kanjeng Ratu Banuwati, 

Garwa nata ing Mataram, 

Krana maringi tuladha, 

Wulang wuruk becik apik, 

Pepundhen para kawula, 

Labuh labet mring negari.


WAHYU NARAPRAJA


1.

Pangkur 


Pajimatan Girilaya, 

Wus sumare Jeng Ratu Banuwati, 

Ingkang ibu Sultan Agung, 

Putra Raden Benawa, 

Ayu hayu ayem ayom tur rahayu, 

Wayah dalem Sultan Pajang,

Turun Demak Majapahit. 


2.

Asmarandana


Mbrebes mili darah Pengging, 

Makurung Handayaningrat, 

Kebo Kenanga Karebet, 

Kanjeng Ratu Mas Cempaka, 

Sultan Trenggana ing Demak, 

Raden Patah Ratu Panggung, 

Sunan Ampel Surabaya.


3.

Pucung


Bibit ratu rumambat mawa lelaku, 

Pangeran Benawa, 

Sumare ing Pucakwangi, 

Gentur tapa mapan ing perenging arga.


4.

Mas Kumambang


Gunung Sewu jejer kidul ing pesisir, 

Dumugi tlatah Pacitan, 

Ginanjar wahyu winasis, 

Narapraja kang sembada. 



BABAD SERAYU


Purwadi, 

Ketua Lokantara


1.

Gumrojog ilining tirta, 

Rumbesing gunung Sindara Sumbing, 

Urute kali Serayu, 

Temanggung lan Magelang, 

Tlatah Kedhu Banjarnegara lumebu, 

Wonosobo Purbalingga, 

Banyumas Cilacap mili. 


2.

Mijil


Babad tiinata sigra tinulis, 

Katelah brang kulon,

Demak Pajang Mataram wus rame, 

Sinuwun Amangkurat manggalih, 

Ratu prameswari, 

Kencana Serayu.


PAJIMATAN AMANGKURAT TEGALARUM





1.


Pangkur




Sentana abdi pangarsa, 


Pajimatan Mangkurat Tegalwangi,


Narendra gung ing Mentarum, 


Pakuncen Adiwerna, 


Wus misuwur pepundhen para leluhur, 


Kanjeng Ratu Sri Kencana, 


Darah nata tanah Jawi. 




Bumiayu Brebes endah, 


Gagah megah katonton merak ati, 


Warisan para leluhur, 


Bawah Kraton Mataram, 


Adi luhung tuwuh kagunan ngrembuyung, 


Kawula tata raharja. 


Wisma wastra waras wasis. 




Sinar damar mencar gilar, 


Bumiayu ngupakara ngaurip, 


Tlatah Brebes dunung tepung, 


Gunung Slamet sarana, 


Amanekung semedi


ing Sumeragung, 


Kaliguwa Paguyangan, 


Candi Kramat Pancurawis.  




Kaloka Brebes minulya, 


Pra bregada alelayar bahari, 


Rikat trampil nyabrang laut, 


Dugi manca nagara, 


Numpak prahu mawi gladhi kawruh ngelmu, 


Pelabuhan ing samudra, 


Gemah ripah juru belah. 




Gapura selat Malaka, 


Johor Banjar Aceh Melayu Deli, 


Pelabuhan Tegalarum, 


Pangarsaning samudra, 


Raden Lambung saking Borneo Malambung,


Trah kusuma Kalimantan, 


Priyayi ing Banjarmasin. 




Nama Lambung Mangkurat, 


Setya bekti pangarsa Tegalwangi, 


Brebes purun anenuntun, 


Dedagang juru para, 


Mas jumerut  Martapura awis patut, 


Pawitan bandha lumaksa, 


Arta daya dana picis. 




2.


Durma




Kotagedhe kuthapraja ing Mataram, 


Dhawuhe Jaka Tingkir, 


Nata tanah Jawa, 


Lestari Lumaksana, 


Pamanahan Juru Martani, 


Sutawijaya, 


Penjawi saking Pati. 




Anglir mendhung wadya bala wus atata, 


Aglar sami sumiwi, 


Santana arapak, 


Ngagem busana endah, 


Maneka warna tinon asri, 


Kraton Mataram, 


Sadaya pacak baris. 




Sigra mangsah lumampah anut wirama, 


Tambur gong bendhe beri, 


Suling sesauran, 


Trompet munya ngumandhang, 


Kuthagedhe Kerta Plered mring, 


Segarayasa pilih. 




Amangkurat nata agung binathara, 


Wibawa welas asih, 


Grapyak kumawula, 


Susila tata krama, 


Sabarang pakaryan pratitis, 


Hormat sasama, 


Gita gati taberi. 




3.


Asmarandana




Cak cakan gemi nastiti, 


Bumiayu Brebes purna, 


Sepi pamrih rame gawe, 


Ngayahi pakaryan praja, 


Sukeng tyas asung panggagas, 


Wiwit desa kutha gunung, 


Ngirit kawula sentana. 




Telaga Renjeng marsudi, 


Kasudibyan kanugrahan, 


Mangsa labuh mangsa mareng, 


Wadhuk Penjalin patirtan,  


Wader badher kehing mina, 


Tuking Bening tapa kungkum, 


Puncak Sakub sung pepuja.




Pendhak warsi mangastuti, 


Curug Putri ing Candi Pangkuan, 


Sagung pamuji pendherek, 


Kapitayan Amangkurat, 


Jroning kapti ngalap berkah, 


Semurup kawula Tarub, 


Trahing Ki Ageng Sela. 




4.


Dhandhanggula




Asma Gusti Raden Mas Sayiddin, 


Raja putra negari Mataram, 


Bagus winasis mentereng, 


Atmaja Sultan Agung, 


Ratu Batang sang prameswari, 


Tedhaking Hupasanta, 


Bupati misuwur, 


Juru Martani Ki Saba, 


Brawijaya Bondhan Kejawan siwi, 


Sela Nis Pemanahan. 




Urutane turun Majapahit, 


Wilwatikta adipati Tuban, 


Rasawulan Magribi Seh, 


Peputra Jaka Tarub, 


Nawangwulan putri Nawangsih, 


Lembu Peteng akrama, 


Asesunu sampun, 


Ki Ageng Getas Pendhawa, 


Wanasaba Sela Kasihan sumiwi, 


Leluhur kraton Jawa. 




Kyai Ageng Sela peputra Nis, 


Turun Kyai Ageng Pemanahan, 


Alas Mentaok pernahe,


Penjawi sabiyantu, 


Handayani Juru Martani, 


Tetruka Ngeksiganda, 


Pulung wahyu ndaru, 


Giring kanugrahan degan, 


Gagak emprit Senapati wus inganggit, 


Danang Sutawijaya. 




Nata mbahu dhendha nyakrawati, 


Raja ber budi bawa laksana, 


Lenggah ing kedhaton Plered, 


Sri Amangkurat Agung, 


Wus sumare ing Tegalwangi, 


Sembada wirotama, 


Sugih bandha bandhu, 


Ambeg adil paramarta, 


Seger bener kober bleger pinter becik, 


Paring tepa tuladha. 




Sunan Amangkurat Tegalwangi, 


Narendra gung Karaton Mataram, 


Lir ganda mlathi  rinonce, 


Angambar wangi arum, 


Wulang wuruk ing Tanah Jawi, 


Lumantar Wali Sanga, 


Gancar mbabar kawruh, 


Wiwit Kraton Demak Pajang, 


Mandhegani murih basuki lestari, 


Bumiayu kawedhar.




Prameswari nata kaping siji, 


Kanjeng Ratu Mas ing Surabaya, 


Guyub rukun gandheng renteng, 


Pangeran Pekik sunu, 


Wandansari putri Mentawis, 


Wasis manis kawentar, 


Rayi Sultan Agung, 


Apeputra Raden Rahmat, 


Amangkurat Amral anglintir tumuli, 


Kartasura Diningrat. 




5.


Kinanthi




Kondhang Brebes Bumiayu, 


ingon ingon kebo sapi, 


Kewan iwen bebek ayam, 


Menthok trowelu kelinci, 


Sakathahing rajajaya, 


Gurih enak endhog asin. 




Amangkurat Tegalarum, 


Garwa Ratu Wiratsari, 


Putra Pangeran Kajoran, 


Tedhak turun Jaka Tingkir, 


Benawa karaton Pajang, 


Kasusra diddaya sekti. 




Joko Kahiman satuhu, 


Titis wasis samukawis, 


Atmaja Sunan Prawata, 


Kinen jumeneng Bupati, 


Pangarsa tlatah Banyumas, 


Dhawuh raja Jaka Tingkir. 




Kusuma rembesing madu, 


Amangkurat Tegalwangi, 


Anggarwa Ratu Kencana, 


Raden Drajat Banyumanik, 


Sinuwun Paku Buwana, 


Atmaja narpa Mentawis. 




Suwita Pangeran Lambung, 


Miyos saking Banjarmasin, 


Ndherek Sunan Amangkurat, 


Milangkori tanah Jawi, 


Gya nami Lambung Mangkurat, 


Lestari dadya priyayi. 




6.


Mijil




Narendra kagungan emas picis, 


Tlatah sisih kulon, 


Amemangun kedhaton Pamase, 


Bumiayu Brebes amemetri, 


Dayane hartati, 


Jeng Ratu Serayu. 




Bupati sigra sengkut makarti, 


Manunggal gumolong, 


Cipta rasa karsa karya gedhe, 


Linambaran pakarti pekerti, 


Bumiayu kang wigati, 


Brebes guyub rukun. 




Ngalami jaman kencana rukmi, 


Amangkurat katong, 


Sentana punggawa jero beteng, 


Bumiayu kawula negari, 


Brebes tunggal kapti, 


Bumiayu makmur. 




7.


Gambuh




Boga wastra sadarum, 


Sunan Amangkurat


Bumiayu, 


Waras wasis wisma laras laris manis, 


Pereng Srayu Brebes rahayu, 


Katon maton tanggap tanggon. 




Bangunan saka kayu, 


Brebes mathuk Bumiayu gathuk, 


Nalakerta sesepuh trah Majapahit,  


Banyumas tambah ngrembuyung, 


Suka gembira rinaos. 




Sukengtyas Brebes hayu, 


Rikat mlaku  dagang layar payu, 


Juru tani taliti gemi nastiti, 


Pra leluhur paring dhawuh, 


Darapon tumanja awoh. 




8.


Pangkur




Bumiayu Ajibarang, 


Brebes Wangon Kebumen ugi, 


Purbalingga


Sumberpucung, 


Sokaraja Banyumas, 


Gandrungmangun Amangkurat gya ambangun, 


Banjarnegara Pemalang, 


Kendal Batang Tegal Slawi. 




Meguri ing Lasem Rembang, 


Pabrik trasi


kondhang belah pesisir, 


Brebes Bumiayu purun, 


Amangkurat mranata, 


Kanjeng Ratu kersa udhu bahu suku, 


Pasaran manca negara, 


Dugi Samudra Pasai. 




Brebes kocap pabrik kecap, 


Madeg jejeg mapan neng Purwodadi, 


Kedhele Ngawi Madiun, 


Tuban Lamongan Blora, 


Ponorogo Blitar Nganjuk Tulungagung, 


Trenggalek Sragen Pacitan, 


Bojonegoro Kediri.




Adipati Brebes Banyumas, 


Golong gilig arsa mbangun negari, 


Dhawuh Amangkurat Agung, 


Nuhoni Ratu Kencana, 


Mrih rahayu iline kali Serayu, 


Angocori sawah sawah, 


Tela pohung jagung pari. 




Pelabuhan Brebes Tegal, 


Amangkurat anggagas Surabangi, 


Ternate Bugis Maluku, 


Tidore Bali Banjar, 


Deli Serdang Palembang Bangka Belitung, 


Cirebon Banten Sumedang, 


Lampung Siak Indragiri. 




9.


Asmarandana




Kanjeng Ratu Wiratsari, 


Prameswari Amangkurat, 


Yasa Kedhaton Pamase, 


Bumiayu Purbalingga, 


ing Lesmana Ajibarang, 


Mahargya Ratu Serayu, 


Kadang tani among dagang. 




Dumugi Rembang pesisir, 


Pelabuhan dagang layar, 


Selat Malaka Tamasek, 


Banjar Aceh Deli Serdang, 


Ternate Bugis Makassar, 


Tidore Ambon Maluku, 


Cirebon Banten Pasundan. 




Kawentar bakul martabak, 


Raos eca warung Tegal, 


Soto seger bumbu sate, 


Bumiayu Ajibarang, 


Lelana dodol panganan, 


Regane murah misuwur, 


Pasugatan kang prasaja. 




10.


Pucung




Cilacap Majenang wangon Bumiayu, 


Gandrungmangun Kroya, 


Darma bakti Wiratsari, 


Prameswari nata agung binathara. 




Tlatah timur tani dagang tambah makmur, 


Probolinggo Malang, 


Pasuruan Jombang Gresik, 


Amangkurat narendra gung mider ing rat. 




Alun alun papan amba kebak purun, 


Aneng Purwakerta, 


Bumiayu laris manis, 


Amangkurat paring cahya kang sumirat. 




Tani maju perenging gunung Serayu,


Kebumen Cilacap Purbalingga, 


Pekalongan Tegalwangi, 


Bumiayu Pemalang Brebes weh terang. 




Gunung Slamet sanana mesu lelaku, 


ing Kali Gung Tegal, 


Aneng Cipanas Pakujati, 


Pra pangarsa


tarak brata lara lapa. 




11.


Megatruh




Sarwa luhur Bumiayu Brebes subur, 


Kabawah kraton Mentawis, 


Raja Amangkurat Agung, 


Sarta Ratu Wiratsari, 


Pura Pamase mencorong. 




Manggis dhuku seger buger padha tuku, 


Bener cocok enak gurih, 


Redi Srayu


pereng gunung, 


Suka lila kadang tani, 


Tandur subur aweh awoh.




Bumiayu Brebes urut gunung laut, 


Banyu mili aneng kali,


Gunung Slamet margi hayu, 


Marembes ing tegal sabin,


Gemah ripah jinawi loh. 




12.


Pucung




Desa gunung seni tumangkar ngrembuyung, 


Wilayah Banyumas, 


Kanjeng Ratu Wiratsari, 


Amangkurat nata agung hayuningrat. 




Laris payu pakaryan pereng Serayu, 


Warga pegunungan, 


Gumelem tansah makarti, 


Setya darma labuh labet marang praja. 




Bumiayu Brebes nyumbang bahu suku, 


Tumraping bebrayan, 


Gotong royong tandang kardi,


Suka lila ngesti mulya tata praja. 




13.


Kinanthi




Brebes Wangon Bumiayu, 


Kinclong kinclong sarwa bening, 


Kanjeng Sunan Amangkurat, 


Sesarengan prameswari, 


Nyawang gunung Slamet endah, 


Ajibarang edi peni. 




Pasir wukir panjang punjung, 


Kawula praja Mentawis, 


Amangkurat kalokengrat, 


Kanjeng Ratu Wiratsari, 


Ngudi dagang pelayaran, 


Lumampah pambelah gisik. 




Kawula Brebes andulu, 


Jangkah jangkaning ngaurip, 


Timbang anut ing kabisan,


Among dagang juru tani, 


Suwita marang negara, 


Nara praja lan prajurit. 




14.


Pangkur


Bumiayu Ajibarang, 


Papan sumber emas kencana rukmi, 


Nata Amangkurat Agung, 


Wiratsari kang garwa, 


Paring dhawuh mrih Banyumas wutuh tangguh, 


Kuwat drajat pangkat semat, 


Sugih bandha bandhu budi. 




Bregada jurit samudra, 


Pilih tanding madyaning jalanidhi, 


Mundhut piranti perahu, 


Nadyan reregan larang, 


Reksa laut suradhadhu baut patut, 


Silem gladhening layaran, 


Prigel trampil olah warih. 




Ngedhep mantep sade bogawa, 


Rega murah nanging rasane gurih, 


Grapyak penak kehing bakul, 


Mersudi arta daya,


Bisa untung marga ngerti marang petung, 


Tuna santak bathi sanak, 


Bumiayu tliti gemi. 




15.


Pucung




Bumiayu Brebes Pekalongan hayu, 


Cilacap Majenang, 


ing Pemalang Tegalwangi, 


Amangkurat mandhegani sagung rakyat. 




Ing Serayu kali ayu lan rahayu, 


Sunan Amangkurat, 


Tapa kungkum tapa ngeli, 


Mesu jiwa anoraga cipta rasa. 




Numpak prahu tengah laut sigra laju, 


Aneng pelabuhan, 


Rumeksa wadya prajurit, 


Tata bala olah gelaring samudra. 




Jamak lamun pra leluhur anenuntun, 


Bumiayu Tegal, 


Mula solahing pambudi, 


Paripurna teteg ajeg amakarya. 




16.


Sinom




Garwa dalem Amangkurat, 


Kanjeng Ratu Wiratsari, 


Katelah Ratu Kencana, 


Tedhak turun Jaka Tingkir, 


Nyata putri linuwih, 


Sinebut Ratu Serayu, 


Mbangun nagri Mataram, 


Gemah ripah loh jinawi, 


Purwokerto  Bumiayu Ajibarang. 




Tata praja ing negara, 


Ngasta permana permati, 


Kanjeng Sunan Amangkurat,


Ngereh sagung adipati, 


Wetan kulon pesisir, 


Laladan samudra kidul, 


Winengku tata cara, 


ingukir lendheping pikir, 


Pra kawula cukup sandhang wisma boga. 




Sinau dagang layaran,


Gulawenthah jalanidhi, 


Papan Bumiayu  Tegal, 


Kawentar laut bahari, 


Angrengga papan gisik,


Apadene gethek prahu, 


Pirantine wisata, 


Sesawangan kinclong asri, 


Amangkurat wus ambangun kalokengrat. 




17.


Maskumambang




Bungah susah yekti gawane ngaurip, 


Bumiayu Ajibarang, 


Mersudi luhuring budi, 


Suwita Kraton Mataram. 




Abdi dalem sampun tampi dana dhuwit, 


Bungah turah arta daya,


Marem ayem jroning kapti, 


Narendra nyata sembada. 




Brebes Tegalarum winastan bahari, 


Gerbang lawang nusantara, 


Dugi Samudra Pasai, 


Temasek Banjar Malaka. 




18.


Durma




Tuking rukmi Bumiayu Pancurendhang, 


Rajabrana mas picis, 


Sumber penghasilan, 


Tumrap praja Mataram, 


Mbudidaya Sri Wiratsari, 


Sri Amangkurat, 


Mersudi pala karti.




Gunung Kendheng gunung Renteng gunung Pandhan, 


Sumbering minyak bumi, 


Mubal lenga patra, 


Temayang Jepun Tuban, 


Lumaku budidaya nuli, 


Cerak bengawan, 


Tilel sakehing bathi. 




Nyambut gawe tandang karya kehing jalma, 


Lumaku wira wira, 


Ing sadhengah papan, 


Pamrihe kasembadan, 


Tata titi gilir gumanti, 


Ndherek pernatan, 


Bebrayan hayu lestari. 




19.


Gambuh




Bumiayu rahayu, 


Brebes laku tani dagang payu, 


Payung agung ngrembuyung rejeki, 


Nalakerta sang sesepuh, 


Pepundhen mangka pengayom. 




Papan kidul pununjul, 


Gunung Slamet agung kaya payung, 


Ambawahi wilayah Banyumas kang peni, 


Amangkurat terus ambangun, 


Sigrak gumyak gotong royong. 




Tambah makmur sempulur 


Minyak tanah mapan ing sumur bur, 


Kanan kiri tanem tuwuh kayu jati, 


Perkutut ocehing patut, 


Prabeya praja gumrojog. 




Patut mbangun miturut, 


Garap runtut wekasane urut, 


Ngati ngati kinarya tepa palupi, 


Wedharane ngelmu laku, 


Jangkane kabeh kelakon. 




20.


Pangkur




Bumiayu kang winarna, 


Angrumpaka kabudayan inganggit, 


Tapa ngeli tapa kungkum, 


Gunung Slamet kinarya, 


Alelaku amrih lantip jroning kalbu, 


Minangka abdi narendra, 


Darma bakti nusa bangsa. 




Jeng Pangeran Kajor kocap, 


Sentana kang sugih inten mas picis, 


Bandha bandhu tanah mbrewu, 


Tedhak Pangeran Benawa, 


Wus misuwur trah Pajang kang makmur, 


Wiratsari ingkang putra, 


Ginarwa Sri Tegalwangi. 




Kutha praja Kartasura, 


Amangkurat Amral titi patitis, 


Tumpuk undhung mas jumerut, 


Mangka bandha negara, 


Sami udhu lumintu sajuru juru, 


Juru tani among dagang, 


Untung bathi mbanyu mili. 




21.


Dhandhanggula




Guru bangsa mbabar wiyatadi, 


Kawentar Pangeran Karanggayam, 


Saking wilayah Kebumen, 


Pituduh barang kawruh, 


Paugeran tata negari, 


Peprentahan bebrayan, 


Pandoming pandulu, 


Jeng Sultan Hadiwijaya, 


Paring dhawuh murih rahayu lestari,  


Pujangga Kraton Pajang. 




Ludruk kentrung kethoprak wigati, 


Wayang gamelan terus ngembaka, 


Joged tembang mekar gedhe, 


Jathilan reyog tayub, 


Jaran kepang sigrak ngangeni, 


Kawula gambireng tyas, 


Ayem guyub rukun, 


Tontonan tuntun tatanan, 


Guna seni aweh seneng saben jalmi, 


Warata saknegara.




Bumiayu Brebes tandang kardi, 


Sakparan paran sami bakulan, 


Gumreget gumregah rame, 


Padha sengkut gumregut, 


Bumiayu Brebes marsudi, 


Angrampungi pakaryan, 


Temen bakal temu, 


Sembada ingkang kajangka,


Siyang ratri ngupaya lelana dhiri, 


Temah awoh kamulyan.




22.


Pangkur




Kaloka Sri Ratu Batang, 


Ing Mataram minangka prameswari, 


Garwanipun Sultan Agung, 


Miyos Sri Amangkurat, 


Sampun purun tlatah Banyumas binangun, 


Narendra gung binathara, 


Mbahu dhendha nyakrawati. 




Manggih jaman keemasan, 


Kanjeng Sunan Amangkurat mersudi, 


Sinartan Ratu Serayu, 


Mranata pra kawula, 


Gancar lancar Bumiayu  subur makmur, 


Cekap cukup cukap cakap, 


Enjang sonten siyang ratri. 




Bumiayu mbudidaya, 


Darma bakti sarana purun ngrukti,


Warisan ingkang kapungkur, 


Kadya sejarah babad, 


Asih asuh asah sihing tedah tuduh, 


Tumraping warga bebrayan, 


Wusnya dangu angleluri. 




23.


Kinanthi




Lumaksana Bumiayu, 


Brebes rumembes amili,


Bebek menthok banyak ayam, 


Menda kuda kebo sapi, 


Gemrayah alambah kathah,


Angayom Kraton Mentawis. 




Kanjeng Ratu Mas Serayu, 


Pinilih putri linuwih, 


Atmaja Joko Kahiman, 


Hupasanta  malakrami, 


Miyos Kanjeng Ratu Batang, 


Sultan Agung ing Mentawis. 




Nata Kanjeng Sultan Agung, 


Amangkurat Tegalwangi, 


Amangkurat Amral, 


Paku Buwana siji,


Sunan Amangkurat Emas, 


Sinuwun Mangkurat Jawi. 




Yogya murid Bumiayu, 


Sami kersa amastuti, 


Dhawuhe para sarjana, 


Sujana budi winasis, 


Ajaran Sri Amangkurat, 


Sumare ing Tegalwangi. 




24.


Dhandhanggula




Bumiayu kinarya palupi, 


Labuh labet raja Amangkurat, 


Yasa Kedhaton Pamase, 


Sayekti tangguh ampuh, 


Mbangun jaman kencana rukmi, 


Lesmana Ajibarang, 


Pancurendhang mancur, 


Emas picis rajabrana, 


Bandha bandhu budi linangkung utami, 


Kanjeng Ratu Kencana.




Kanjeng Panembahan Senapati, 


Paring tuladha kagem wong Jawa, 


Aneng dhatulaya bale, 


Ganti Sinuwun Prabu , 


Nyakrawati wus menggalih, 


Murih bagya minulya , 


Kagem anak putu, 


Lumaksana gya makarya, 


Gemi tliti ngati ati barang kardi, 


Amangkurat Mataram. 




Sampun kondhang pertiwi wiyati,


Bumiayu Brebes


Nggenya purna karya, 


Sepi pamrih rame gawe, 


Guna kaya lan purun, 


Karya conto Raden Sumantri, 


Kamot serat tripama, 


Wacan becik tugu, 


Kagem punggawa negara, 


Kumbakarna Bupati Ngawangga ugi, 


Lahir batin suwita.




Baturaden ing perenging ardi,


Gunung Slamet asri yen cinandra, 


Amangkurat gya angronce, 


Karya mahas asamun, 


Mesu budi puncaking Guci, 


Lelana tapa brata, 


Muhung amanekung, 


Ndherek sentana kawula, 


Jroning kapti rahayu sagung dumadi, 


Tanah Jawa widada. 




25.


Maskumambang




Wus ngakoni titah salumahing bumi, 


Kawula praja Mataram, 


Pinanggih wibawa mukti, 


Widada suka gembira. 




Panjang punjung gemah ripah loh jinawi, 


Ayem tentrem karta harja, 


Amangkurat Tegalwangi, 


Negara arum kuncara. 




Bumiayu Brebes


sarwa becik, 


Wilayah ingkang kawentar, 


Amangkurat Tegalwangi, 


Kinarya tepa tuladha. 




Amangkurat tedhak Sepanyol Portugis, 


Suwedia Nurwegia,


Polandia Holand Suwis, 


Anganthi taruna Jawa. 




26.

Gambuh


Sowan ing Bumiayu, 

Tani maju dagang bakul payu, 

Mandhegani Amangkurat Tegalwangi 

Ngupakara mas jumerut, 

Brebes bandha ber gumrojog. 


Plered mbangun miturut, 

Pikir runtut urut pantes patut, 

Pinandhegan Amangkurat prameswawi, 

Ratu Mas Ratu Serayu, 

Kawulane gendhon rukon. 


Segarayasa kayun,

Tanah manca kabeh dha kayungyun, 

Bumi Plered endah asri milangeni, 

Tlatah Bantul cahya mantul, 

Gumreget gregah gumolong. 


Kotagede anggayuh, 

Datan lumuh nrajang kehing kewuh, 

Binarunging Sultan Pajang Senapati, 

Mumbul unggul ing pinunjul, 

Bumi ing Alas Mentaok. 


Tegalarum sadarum,

Pandam pandom pandulune pandum, 

Ngestu pada raja putra ing Mentawis, 

Urun bahu suku lan panemu, 

Sopan santun andhap asor. 


Sru gumuruh Amangkurat paring kawruh, 

Jagad Inggris Jerman Prancis, 

Bagdad Turki Mesir  Ngerum, 

Srilangka Hindustan Hindi, 

Murih Mataram kesohor. 


27.

Pucung


Ajibarang Tegalarum Bumiayu, 

Sunan Amangkurat, 

Kanjeng Ratu Wiratsari, 

Mbahu dhendha nyakrawati pra kawula. 


Pucuk gunung mesu budi bisa dunung, 

Dalan kebecikan,

Sri Mangkurat Tegalwangi, 

Sung tuladha tumrap jalma tanah Jawa. 


Jeng Sinuwun amaringi sawabipun, 

Tumrap putra wayah, 

Boga wastra wisma wasis,

Bagas waras panjang yuswa laris laras. 


Murid guru jamak lumrah amituhu, 

Wignya jaman kuna, 

Kababar mawa tinulis, 

Padhang terang wedharan sastra piwulang.


Bumiayu tlatah hayu weh rahayu, 

Widada wibawa, 

Gemah ripah loh jinawi, 

Panjang punjung pasir wukir karta harja. 


Jeng Sinuwun Amangkurat Tegalarum, 

Nata tanah Jawa, 

Pinanggih kencana rukmi, 

Sung pepadhang jagad raya jingglang terang. 


Babad Prabowo Subianto

Mei 09, 2024

 Babad Prabowo Subianto







Purwadi, 


Ketua Lokantara. 


HP 087864404347




I. Notonagoro Nusantara. 




Notonagoro adalah Ratu Adil yang memerintah bumi nusantara. Silsilah Prabowo Subianto berdasarkan kitab Jawa klasik. Ternyata memang trahing kusuma rembesing madu. 




1. Prabu Brawijaya Raja Majapahit, 




2. Raden Patah Raja Demak I, 




3. Sultan Trenggono Raja Demak III, 




4. Sunan Prawoto Raja Demak IV, 




5. Joko Kahiman atau Adipati Purwonagoro Bupati Banyumas I




6. Raden Ngabehi Martasura I




7. Raden Ngabehi Martasura II




8. Raden Adipati Martayuda I




9. Raden Adipati Martayuda II




10. Raden Tumenggung Suradipura, 




11. Raden Tumenggung Yudanegara II




12. Raden Tumenggung Reksapraja




13. Raden Tumenggung Yudanegara III




14. Raden Tumenggung Yudanegara IV




15. Raden Tumenggung Tejakusuma




16. Raden Tumenggung Yudanegara V




17. Raden Adipati Cakranegara I




18. Raden Tumenggung Mardadireja II




19. Raden Adipati Cakranegara II




20. Raden Adipati Cakranegara III




21. Kanjeng  Adipati Mardadireja III




22. Raden Adipati Mangkuprojo, 




23. Raden Tumenggung Kartoatmojo, 




24. Margono Djojo Hadikusumo pendiri Bank BNI




25. Prof Dr Sumitro Djojo Hadikusumo




26. Jenderal Prabowo Subianto




Tanggal 22 April 2024 Mahkamah Konstitusi mengesahkan Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik indonesia. Pelantikan terjadi pada tanggal 20 Oktober 2024. Ratu Adil Nusantara telah datang. 




Trah kusuma rembesing madu. Pranowo Subianto mewarisi darah Biru Majapahit, Demak dan Banyumas. Selayaknya rakyat memilih sebagai pemimpin nusantara. 




Pemilihan umum berlangsung aman damai. Tanggal 14 Pebruari 2024 sejarah terukir indah. Prabowo ditetapkan KPU pada tanggal 20 Maret 2024 sebagai Presiden terpilih. 




 Atas keputusan sidang MKRI tanggal 22 April 2024, maka selanjutnya pada tanggal 24 April 2024 Komisi Pemilihan Umum menetapkan Prabowo Subianto sebagai Presiden RI tahun 2024 - 2029.




Dhandhanggula




Candra alam nusantara yekti,


Jalma limpat kang bakal mranata,


Amung anut lelakone,


Datan endha amingkuh,


Awit iku wis dadi garis,


Lakuning tata praja,


Jumbuh kang ginayuh,


Sembada ingkang kajangka,


Nanging kudrat wiradat ingaran pesthi, 


Wibawa gana mitra. 




Pujangga Jawa memberi ramalan tentang kepemimpinan nusantara. Manusia hebat yang hendak menata. Hanya menurut takdir.


Tidak bisa menghindar.


Karena itu sudah digariskan.




Perjalanan negara


pasti akan tumbuh.


Orang yang bisa memimpin. Tapi Tuhan sungguh punya kehendak. Presiden kesembilan terpilih satu putaran.


Hari esok bakal terjadi dengan terpilihnya Prabowo Subianto.




Dalam tembang dhandhanggula Pujangga Jawa meramal. Yakni terpilihnya Presiden RI yang kedelapan.




dhandhanggula




Golong gilig satria pinilih,


Satria guna mitra sapraja,


Trahing kusuma rinonce, 


Dharah rembesing madu, 


Tedhak turune Majapahit,


Narendra Brawijaya,


Presiden ping wolu, 


Mas Prabowo Subianto,


Ati lathi pakarti mapan nyawiji,


Nusantara kuncara.




Indonesia jaya. Bersatu padu sekalian warga bangsa. Mau


menyokong gagasan pimpinan negara.


Berlainan cita- cita, tapi berjalan mengikuti masa.


Itulah yang disebut kehendak Ilahi.


Tiada bisa diduga


datangnya takdir. Lila lan legawa, kanggo mulyaning negara.




Holobis kuntul baris. Presiden RI kedelapan telah terpilih. Meski harus berupaya tinggi. Hati lidah pikiran harus menyatu. Maka akan kembali pada wadah. Yaitu hadirnya Prabowo Subianto sebagai pemimpin negeri.




II. Lambang Presiden RI




1.


Satrio Kinunjoro. 




Lambang Presiden Soekarno. Negara


Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945. Munculnya kepemimpinan Presiden Soekarno yang dilambangkan dengan istilah satriya kinunjara. Pujangga Jawa meramalkan dengan kutipan tembang.




dhandhanggula




Purwa kandha ingkang murwakani,


Winastan satriya kinunjara,


Pancen agung labuhane,


Pideksa bakuh kukuh,


Jatidhiri tansah kaesthi,


Nggegana tanpa bandha,


Sugih nama tuhu,


Ginubeti wironing sinjang,


Kadang mitra nanging ana milang miling,


Tanduran jarak mrajak.




Mulanya hendak memulai. Hati bergelar satriya kinunjara. Presiden Soekarno memang berjasa besar. Terus bertekad besar kukuh. Jati diri dipegang teguh




Meskipun tanpa harta, tetap kaya raya. Hanya saja


terlilit nyamping putri. Para handai taulan tetap ada yang ringan tangan.


Tunggak jarak naik mranjak. Roda memang berputar. Presiden Soekarno proklamator NKRI. 




2.


Satrio mukti Ngawibowo. 




Lambang Presiden Soeharto. Tampilnya kepemimpinan Presiden Soehato yang dilambangkan dengan istilah Satriya mukti minulya. Pujangga Jawa meramalkan dengan kutipan tembang.




dhandhanggula




Gya lumaku lampahe negari, 


Sidhem permanem walang ataga,


Padha wedi esuk sore,


Raga sangsaya kukuh,


Nanging sukma parane ngendi,


Satriya mukti minulya,


Kesampar kesandhung,


Kinepung ing semut nangrang,


Kanca rowang barengan mring semut geni,


Warangka mung tumadhah.




Terus berjalan kisah negeri. Hening senyap belalang beterbangan. Rakyat ketakutan, badan dibuat kekuatan.Tapi jiwa entah pergi ke mana. Satriya mukti minulya kesampar kesandhung. Kawan sahabat bersama semut api. Presiden cuma menerima nasib. Presiden Soeharto lengser keprabon madeg pandhita. 




3.


Satrio Jinumput Undhagi Kayangan. 




Lambang Presiden Habibie. Hadirnya kepemimpinan Presiden BJ Habibie yang dilambangkan dengan istilah Satriya kang jinumput undhagi kayangan. Pujangga Jawa meramalkan dengan kutipan tembang.




dhandhanggula




Nadyan ngadeg mawa ancik-ancik,


Katon dhuwur nanging ora krasa,


Gampang rusak ragangane,


Satriya kang jinumput,


Wignya wasis tata undhagi,


Warga padha mbalela, 


Merga salah petung,


Kabentus ing ngawang awang,


Tanpa guna awit getun tiba mburi,


Nata nusantara.




Pengertian penuh makna, walaupun berdiri dengan alas pijakan. Tampak tinggi tapi tidak terasa sulit. Mudah rusak kerangkanya.




Hadirnya pemimpin


Satriya kang jinumput gawe was was laraning ati.




Warga bangsa sama memberontak.


Sebab salah perhitungan. Maka terantuk di angkasa raya. Tak berguna menyesal nanti. Maka hindarilah


kekacauan kelak. Presiden Habibie bekerja untuk negeri. 




4.


Satrio Lelono Bumi topi ngrame coco netro. 




Lambang Presiden Abdurrahman Wahid. 


Terpilihnya kepemimpinan Gus Dur yang dilambangkan dengan istilah Satriya lelana bumi. Pujangga Jawa meramalkan dengan kutipan tembang.




dhandhanggula




Nyata satriya lelana bumi,


Tapa ngrame nadyan caca netra,


Prameswari ndherekake,


Kabeh kudu anuntun,


Mula akeh kang ndherek mukti,


Busana dadi marga,


Lelakon lumaku,


Punggawa padha sumelang,


Paripeksa lampah kedah den pungkasi,


Lukar ageman pasrah.




Presiden Abdurrahman Wahid sungguh istimewa. Satriya lelana bumi,


tapa ngrame nadyan caca netra. Garwa


permaisuri mengikuti. Semua harusdituntun. Maka banyak yang ikut menikmati. Pakaian jadi cara. Keadaan terus berjalan. Aparat sama khawatir. Terpaksa perjalanan harus diakhiri. Maka


ganti busana pasrah sumarah. Presiden Abdurrahman Wahid penjaga keselarasan dunia. 




5.


Satrio pawestri among tuwuh hangagem mustaka.




 Lambang Presiden Megawati. Maka


terpegangnya kepemimpinan Presiden Megawati yang dilambangkan dengan istilah Satriya pawestri Among tuwuh hangagem mustaka.


Pujangga Jawa meramalkan dengan kutipan tembang.




dhandhanggula




Duking nguni satriya pawestri,


Among tuwuh hangagem mustaka,


Nadyan wanodya yektine,


Lumaku nganti rampung,


Pancen akeh kang samya bekti,


Tumuju ingkang rama,


Setya kang satuhu,


Putih kuning biru abang,


Warna warni sumebar ing saknagari,


Yen crah agawe bubrah.




Pada jaman dulu satriya pawestri, Among tuwuh angagem mustaka. Meski wanita senyatanya Presiden Megawatidapat berjalan sampai selesai. Memang banyak yang berbakti


dengan merujuk pada ayahnya. Setia sungguh- sungguh pada konstitusi.




Keagungan rakyat Indonesia. Warna putih kuning biru merah. Serta ragam menyebar ke pelosok kepulauan nusantara. Presiden Megawati berdarma bakti demi ibu pertiwi. 




6.


Satrio Pinilih Hambuko Gapuro. 




Lambang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. 


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Proses datangnya kepemimpinan Presiden SBY yang dilambangkan dengan istilah Satriya pinilih mbuka gapura. Pujangga Jawa meramalkan dengan kutipan tembang.




dhandhanggula




Nuli mijil satriya pinilih,


Mbuka gapura hanggelar klasa,


Padha ra jenjem lenggahe,


Punggawa dadi pandung,


Kawula padha berdondi,


Kabeh padha cubriya,


Kanca dadi satru,


Alam dadi karang abang,


Gunung njebluk ombaking kang jalanidhi,


Purna raga kang lungkrah.




Presiden SBY tampil. 


Lantas lahir satriya, pinilih, mbuka gapura hanggelar klasa. Yakni Presiden SBY. Padha ra jenjem lenggahe. Pejabat menjadi pemikiran berat. Rakyat saling bertengkar. Semua curiga- mencurigai. Teman bisa bertengkar. 




Alam lantas hancur lebur. Gunung meletus samudera pasang. Hadirnya Presiden SBY negara Indonesia kembali normal.




7. 


Satrio Tali Roso Hagni. 




Lambang Presiden Joko Widodo




Tali roso berarti pengikat rakyat dengan sanubari. Hadirnya kepemimpinan Presiden Jokowi yang dilambangkan dengan istilah Satrio tali roso. Pujangga Jawa meramalkan dengan kutipan tembang.




dhandhanggula




Ing mengkone raga mulih pulih,


Lamun ana sukma manjing raga,


Waspada mula bukane,


Tindak sajuru juru,


Satriya tali rasa hagni, 


Kinasih pra kawula,


Makutha tan ratu,


Ana jangka kang kajangkah,


Japa mantra samudana anggung manis,


Ngarah arah ing manah.




Demikian itu negara hendak maju. Kalau ada sukma manjing raga. Maka juga ingat asal -usulnya. Yakni


mengembara nan jauh. Satriya crah pradata. Kinasih mring kawula,


Makutha kemratu.




Tujuan Presiden Jokowi itu yang diusahakan. Agar


sejahtera bahagia makmur tentram damai. Jangan lupa berdoa tiap hari.




8. 


Satrio Gono Mitro Saprojo. 




Lambang Presiden Prabowo Subianto. 


Gono berarti ilmu pengetahuan. Mitro berarti persaudaraan. Saprojo berarti kenegaraan. Lambang Kepemimpinan nasional selanjutnya yakni kepemimpinan Prabowo Subianto.




Maka selanjutnya dilambangkan dengan istilah Satriyo Wibowo Gono Mitro Saprojo. Pujangga Jawa meramalkan dengan tembang.




dhandhanggula




Warga bangsa kabeh wus mirsani,


Tunggal cipta rasa karsa,


Mrih tentrem ayem wancine,


Rumeksa titah hayu,


Bowo Gono Mitro pinilih,


Satriya kang gumregah,


Sugih bandha bandhu,


Wewarah hukum lumampah,


Nusantara ngalami kencana rukmi,


Ngejayeng jagat raya.




Candrajiwa Presiden Prabowo Subianto berlandaskan kawruh. Tafsir wulangan itu cukup bermakna. Jika putra bangsa sudah tahu. Lambang yang dipahami aparat pejabat. Supaya makmur ayem tentrem. Maka tak putus dalam usaha. Satria Wibowo Gono Mitro menjunjung tinggi hukum negara.




Presiden Prabowo Subianto bekerja untuk ibu pertiwi.




Trah Prabu Brawijaya raja Majapahit. Keturunan ngawirya yang memang pejabat kaya raya.




Tatanan selalu berjalan. Wulang wuruk pemimpin Jawa tetap relevan. Suksesi nasional sebaiknya dibahas dalam perspektif budaya. Agar suasana selalu subur makmur ayem tentrem aman damai.




Prabu Brawijaya menurunkan pemimpin besar nusantara. Prabowo Subianto mewarisi keagungan Kraton Majapahit. Negara Kesatuan Republik Indonesia makin jaya makmur aman sentosa damai ayem tentrem.




III.Trah Kadipaten Banyumas. 




A. Pendiri Kadipaten Banyumas




Serat Babad Banyumas memberi informasi yang terang benderang. Kawibawan kawidadan kabagyan lan kamulyan berkilauan. Tepa palupi merupakan tuntunan yang bersumber dari paugeran para leluhur. 




Pada masa kerajaan Demak Bintara nama Banyumas masih disebut Banyukerto. Wilayah ini langsung diperintah oleh Kadipaten Semarang. Pembina wilayah Banyukerto dipegang oleh Ki Ageng Pandan Aran. Pembesar kadipaten Semarang ini masih keturunan Adipati Yunus Syah Alam Akbar. Beliau adalah Sultan Demak Bintara. Perlu dilacak leluhur Prabowo Subianto yang mewariskan nilai kebajikan. 




Dhandhanggula




Babad Banyumas ingkang winarni, 


Murwani jaman Demak Bintara, 


Ganda melathi  rinonce, 


Angambar wangi arum, 


Wedharan ing Tanah Jawi, 


Lumantar Wali Sanga, 


Gancar mbabar kawruh, 


Jaka Tingkir Kraton Pajang, 


Mandhegani murih basuki lestari, 


Nama Joko Kahiman. 




Perlu ditelusuri asal usul berdirinya Kabupaten Banyumas. Lama kelamaan daerah Banyukerto semakin maju. Pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan berjalan lancar. Rakyat pun hidup makmur sejahtera. Kekuasaan Demak berpindah ke Pajang. Kerajaan Pajang diperintah oleh Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Raja Pajang ini memang sakti mandraguna. Beliau masih berdarah Majapahit, Demak dan Pengging. Pada dirinya mengalir darah biru, bangsawan besar Jawa. Benar benar trahing kusuma rembesing madu, wijining amara tapa, tedhaking andana warih.




Kedudukan Joko Tingkir di Kerajaan Pajang sangat kuat. Begitu menduduki tahta semua kekuatan politik dirangkul. Selama memegang kekuasaan Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya selalu bisa momong momor momot. Putra Sunan Prawoto pewaris Kasultanan Demak Bintara bernama Raden Joko Kahiman. Sewaktu berguru kepada Sunan Kalijaga, Joko Kahiman bernama santri Abdul Mukmin.




Sultan Hadiwijaya raja Pajang menetapkan Raden Joko Kahiman sebagai penguasa Banyukerto. Saat itu Banyukerto berstatus Kawedanan. Trah Demak dan Pajang menata Banyumas. Paugeran dijunjung tinggi oleh leluhur Prabowo Subianto dalam pengabdian. 




Kinanthi




Joko Kahiman satuhu, 


Titis wasis samukawis, 


Atmaja Sunan Prawata, 


Kinen jumeneng Bupati, 


Pangarsa tlatah Banyumas, 


Dhawuh raja Jaka Tingkir. 




Begitu Joko Kahiman dilantik status Banyukerto dinaikkan dari Kawedanan menjadi Kabupaten. Joko Kahiman resmi menjabat sebagai Bupati Banyukerto. Atas usul Pangeran Benawa, nama Banyukerto diubah menjadi Kabupaten Banyumas. Joko Kahiman menjadi bupati Banyumas sejak tanggal 22 Pebruari 1582 hingga1583, dengan gelar Tumenggung Purwonagoro. 




Kabupaten Banyumas berhasil sebagai daerah pemekaran. Pengganti Bupati Purwonagoro bernama Raden Ngabehi Martasura I yang memerintah tahun 1583-1600. Kekuasaan Jawa bergeser dari Pajang ke Mataram. Rajanya bernama Panembahan Senopati. Raden Ngabehi Martasura I berasal dari Paremono Muntilan Magelang. 




Bupati Banyumas ini masih putra Patih Manca Negara, perdana menteri jaman kerajaan Pajang. Selama tinggal di Magelang, Raden Ngabehi Martasura I belajar tata pemerintahan, tata praja dan udanagara. Pemerintahan Mataram selanjutnya dipegang oleh Sinuwun Prabu Hadi Hanyokrowati tahun 1601-1613. Raja ahli bangunan megah. Leluhur Prabowo Subianto banyak yang yang menjadi pemimpin. 




Mijil




Bupati sigra sengkut makarti, 


Manunggal gumolong, 


Cipta rasa karsa karya gedhe, 


Linambaran pakarti pekerti, 


Banyumas sejati, 


Lila guyub rukun. 




Kompak bersatu kokoh. Bupati Banyumas dipegang pejabat baru. Beliau adalah Raden Ngabehi Martapura II. Istrinya berasal dari Pati, anak Ki Ageng Penjawi. Istri sang bupati populer disebut Ratu Adipati Wicaksono Arum. Beliau seorang putri linuwih, cerdas, ramah, cekatan, pintar, lincah, pemurah dan welas asih. Tentu saja kehadiran Ratu Adipati Wicaksono Arum menjadi idola buat sekalian warga Kadipaten Banyumas.




Suluk sawang sasi




Wanudya ayu tama ngambar, 


aruming kusuma, wadana asawang sari, o, 


ri sedhenging purnama sidi, 


netya njahit esmu lindri, 


grana rungih milangeni, 


tuhu mustikane putri tetunggule widodari.




Demikianlah penduduk Kabupaten memberi pujian kepada Nyonya Bupati Raden Ngabehi Martapura II. Rakyat betul betul ayem tentrem, aman damai dan guyub rukun. Daftar para Bupati Banyumas. 




1. Raden Djoko Kahiman, 1582-1583. Dilantik pada masa kerajaan Pajang. Rajanya bernama Sultan Hadiwijaya.




2. Raden Ngabehi Martasura I, 1583-1600. Dilantik pada masa ke-rajaan Mataram. Rajanya bernama Panembahan Senopati.




3. Raden Ngabehi Martasura II, 1601-1620. 


Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Prabu Hadi Hanyokrowati.




4. Raden Adipati Martayuda I, 1620-1650.


Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Sultan Agung Hanyokrokusuma.




5. Raden Tumenggung Martayuda II, 1650-1678.


 Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Agung.




6. Raden Tumenggung Suradipura, 1678-1707.


 Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Sri Susuhunan Amangkurat Amral.




7. Raden Tumenggung Yudanegara II, 1707-1745. 


Dilantik pada masa kerajaan Mataram. Rajanya bernama Sri Susuhunan Paku Buwana I.




8. Raden Tumenggung Reksapraja, 1745-1749. 


Dilantik pada masa kerajaan Mataram. R

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Babad GKR WANDANSARI

Adipati Dayaningrat Pengging Sepuh

Kidung Idul Fitri