PAGELARAN WAYANG LAKON WAHYU MAKUTHARAMA HASTA BRATA KAWEDHAR

 PAGELARAN WAYANG 
LAKON WAHYU MAKUTHARAMA 
HASTA BRATA KAWEDHAR


Oleh : Purwadi, dkk
Jl. Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta



DALANG I


Jejer Astina

Wayang : Prabu Duryudana, Sengkuni, Durna, Karna, dan rekan-rekan

Gendhing : Kabor, Ladrang Gleyong


Kedatonan

Wayang : Limbuk Cangik

Gendhing : asmarandana, sinom parijatha


Paseban Jawi 

Wayang : Sengkuni, Dursasana, Durmagati, Citraksa, Citraksi, Kartamarma, Jayadrata, Aswatama

Gendhing : Srepeg nem, tropongbang



DALANG 2


Jejer Sabrang Negari Tawanggantungan

Wayang : Dasakumara, Patih, Tumenggung

Gendhing : Diradameta


Tata Bala Sabrang

Wayang : bala sabrangan

Gendhing : srepeg nem



DALANG 3


Perang Gagal

Wayang : bala sabrangan dan Kurawa melawan putra Pandawa

Gendhing : srepeg nem


Perang khusus

Wayang : Anoman melawan Karna 

Gendhing : srepeg dan sampak

DALANG 4


Jejer Pertapan Kutharunggu

Wayang : Begawan Kesawasidi, Arjuna, Semar, Gareng, Petruk, Bagong

Gendhing : Subakastawa 


Perang Kembang

Wayang : Arjuna Cakil

Gendhing : srepeg sanga dan sampak



DALANG 5


Jejer Amarta

Wayang : Puntadewa, Werkudara, Nakula, Sadewa

Gendhing : singa-singa


Perang Brubuh

Wayang : Kurawa dan putra Pandawa

Gendhing : srepeg manyura


Tancep Kayon

Gendhing : ayak-ayak





RINGKASAN CERITA 

WAHYU MAKUTHARAMA HASTA BRATA KAWEDHAR



Lakon Wahyu Makutharama berkaitan dengan ajaran kepemimpinan yang dihayati oleh masyarakat Jawa. ajaran kepemimpinan ini terhimpun dalam konsep yang dinamakan dengan hasta brata. Dalam tradisi pewayangan konsep hasta brata terdiri dari delapan unsur kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam masyarakat. 

Pagelaran wayang dengan Lakon Wahyu Makutharama sebetulnya meriupakan bentuk perpaduan cerita Ramayana dan Mahabarata. Cerita Ramayana  termuat dalam episode Prabu Rama yang nitis pada Prabu Kresna. Dalam lakon ini Prabu Kresna berperan sebagai Begawan Kesawasidi yang mendirikan pertapan Kutharunggu. 

Wejangan Begawan Kesawasidi disampaikan kepada arjuna. Namun dalam prosespengajaran menapat halangan dari para Kurawa. Dengan ketekunan dalam mencapai cita-cita, Arjuna mendapat Wahyu Makutharama. Intisarinya adalah doktrin kepemimpinan yang telah diajarkan oleh prabu rama kepada Wibisana. Episode cerita ini pernah ditulis oleh pujangga Yasadipura denganjudul Serat Rama. 

Renungan kepemimpinan bagi orang banyak bersumber dari sastra piwulang. misalnya dalam menonton wayang akan menemukan lakon Makutharama. Orang  suka dengan referensi kepemimpinan menurut Lakon Wahyu Makutharama. Lakon ini menyuratkan kepemimpinan sosial yang terkenal dengan istilah  astabrata,  yang berarti delapan prinsip. Segenap aparat pemerintahan  menjadikan lakon Makutharama sebagai bahan renungan.


Laku Hambeging Kisma

Maknanya seorang pemimpin yang selalu berbelas kasih dengan siapa saja.  Kisma artinya tanah. Tanah tidak mempedulikan siapa yang menginjaknya, semua dikasihani. Tanah selalu memperlihatkan jasanya. Walaupun dicangkul, diinjak, dipupuk, dibajak tetapi malah memberi subur dan menumbuhkan tanam-tanaman. Filsafat tanah adalah air tuba dibalas air susu. Keburukan dibalas kebaikan dan keluhuran. Tanah bagi warga  selalu membawa berkah.


Laku Hambeging Tirta

Maknanya seorang pemimpin harus adil seperti air yang selalu rata permukaannya. Keadilan yang ditegakkan  bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. Air tidak pernah emban oyot emban cindhe ‘pilih kasih’. Banyu bagi warga  juga mendatangkan ketentraman.


Laku Hambeging Dahana

Maknanya seorang pemimpin harus tegas seperti api yang sedang membakar.  Namun pertimbangannya berdasarkan akal sehat yang bisa dipertanggung-jawabkan sehingga tidak membawa kerusakan di muka bumi. Bagi orang  api dapat menimbulkan energi dan semangat hidup.


Laku Hambeging Samirana

Maknanya seorang pemimpin harus berjiwa teliti di mana saja berada. Baik buruk rakyat harus  diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan dari bawahan saja. Bawahan cenderung selektif dalam memberi informasi untuk berusaha menyenangkan pimpinan. Orang  mengenal angin sebagai barang yang menyertai kesejukan. 


Laku Hambeging Samodra

Maknanya seorang pemimpin harus  mempunyai sifat pemaaf sebagaimana samudra raya yang siap menampung apa saja  yang hanyut dari daratan.  Jiwa samudra mencerminkan pendukung pluralisme dalam hidup bermasyarakat  yang berkarakter majemuk. Laut bagi orang  melambangkan kesabaran.


Laku Hambeging Surya

Maknanya seorang pemimpin harus memberi inspirasi  pada bawahannya ibarat  matahari yang selalu menyinari  bumi dan memberi energi pada setiap makhluk. Matahari bagi masyarakat  selalu memberi sinar terang yang mengandung tenaga.


Laku Hambeging Candra

Maknanya seorang pemimpin harus memberi penerangan yang menyejukkan  seperti bulan bersinar terang benderang namun tidak panas. Bahkan terang bulan tampak indah sekali. Orang desa menyebutnya  purnama sidi. Bulan bagi orang  merupakan raja malam yang bercahaya penuh kedamaian.

Laku Hambeging Kartika

Maknanya seorang pemimpin harus tetap percaya diri  meskipun dalam dirinya ada  kekurangan. Ibarat bintang-bintang di angkasa, walaupun ia  sangat kecil tapi dengan optimis memancarkan cahayanya, sebagai sumbangan buat kehidupan. Bintang-bintang di angkasa raya bagi orang  merupakan hiasan jagad raya.

Kutipan ajaran Hasta Brata perlu diketahui. Konsep ini ditulis oleh pujangga Kyai Yasadipura dan Pangeran Karanggayam.


Dhandhanggula Hasta Brata

Brataning Hyang Indra purweng kawi

Sira ngudanaken kramaningrat

Amarteng jagat jagane

Sotya dana sumawur

Tan ana tan minarteng budi

Gumanti Yamabrata

Dhumendheng krama dur-

janagelahing bawana

nadyan manggeh ing beaya sitanan apilih

maling malu ya pejah.


Umalwa-malwa ika nulahi

Sala-asa umaweri sarat

Paran geng tanggya tenggake

Saisya inanebur

Brastha tumpes tapis kabasmi

Kaping tri ya ta surya

Brata kataruntun

Umisep tirta sadrasa

Tan karasa rasane sareh ye dening

Tan anggagya sagatya.


Yen angulih-ulih kalahaning

Ripu ring pangiwa tan katengran

Suryabrata pangisepe

Saka ping pat kaayun

Sasibrata marta menuhi

Pasuking sukaningrat

Ryulat saha guyu

Mardu komala marwarta

Konang-onang anangi nala suwardi

Wardya angde susatya.


Kaping lima kamuksan gunadi

Bayubrata yan manginte kridha

Ning rat tan ana wangene

Myang ngawruhaneng sabu

Dining dadi panduming ati

Puwara anon taman

Tinon ing naya truh

Trahning kalengkaya lila

Istha dwisthaning rat taman kena mosik

Mosiking kang aksama.


Kaping nem manuktya sarasaning

Harjaning praja sarwa ngenaka,

Datan anggop pangragane

Pan jatine angayuh

Kayaktian kadi pralagi

Yen katungkul ing jagat

Sirna temahipun

Pan tandha kuwerabrata

Cirining jenengan jenek amiranti

Asamar sakwendriya.


Sakasapta baruna ginupit

Umagem ing astra pasabrata

Apusing rat saklesane

Panggeh tan kengang keguh

Dennya gusti sawatek wegig

Wagugen nala lila

Ing rat sapinupul

Nir guna bawana ya tan

Angesthi harjaning rat guna mekasi

Wekasan astabrata.


Prakatha panduking brata Bahni

Lan anggesengi satru kang lawan

Galak tang singha pamane

Tan na mendhanya murub

Marab-marab mangrurah weri

Tan tungkul ing makarya

Geng Bahni sinengkung

Umulat bwatning bawana

Rumakseng rat ginorawati ginusthi

Ryulah manggeh masesran.

(Pangeran Karanggayam, Serat Nitisruti)


Lakon Wahyu Makhutarama amat dikenal oleh masyarakat . Tafsir dan makna ajarannya, kepemimpinan Hasta Brata memberi pelajaran agar seseorang rela berkorban demi kebenaran dan keadilan. Dengan berbekal keteladanan maka seseorang akan mencapai keberhasilan yang baik. Ajaran kepemimpinan yang berbasis kearifan lokal ini memberi kesadaran tentang lingkungan hidup. Barang kali semua pemimpin perlu untuk menghayati hasta brata.

Ajaran astabrata memberikan kesadaran kosmis bahwa  dunia dengan segala isinya mengandung pelajaran bagi manusia yang mau merenung dan menelitinya. Norma kepemimpinan Jawa dikenal dengan ungkapan sabda pandita ratu tan kena wola-wali. Maksudnya seorang pemimpin harus konsekuen  untuk melaksanakan dan mewujudkan apa yang telah dikatakan. Masyarakat  menyebutnya sebagai orang yang bersifat berbudi bawa laksana yaitu teguh berpegang pada janji. Ajaran para pujangga meresap dalam hati sanubari kasepuhan . Mereka adalah pelestari budaya literasi. 

Sastra piwulang menjadi referensi utama bagi pagelaran seni pedhalangan. Masyarakat  begitu menyukai seni pewayangan yang mengandung unsur tuntunan, totonan dan tatanan. Oleh karena itu pentas seni pedalangan sebaiknya berdasarkan pada pakem. Bagi masyarakat  pakem merupakan wujud paugeran. Pakem melambangkan tatanan.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Idul Fitri

Dr Nugroho Puji Santoso S.Pd M.Pd

Adipati Dayaningrat Pengging Sepuh